Wacana Politik sebagai Alat Dominasi Wacana Publik

Jaring Kata Kekuasaan: Ketika Wacana Politik Menaklukkan Ruang Publik

Wacana politik bukan sekadar rangkaian kata-kata; ia adalah medan pertempuran ide dan narasi yang krusial dalam membentuk opini publik. Dalam banyak kasus, wacana ini menjadi alat dominasi efektif untuk mengarahkan, bahkan menaklukkan, diskursus publik, demi kepentingan kelompok atau aktor politik tertentu.

Bagaimana wacana politik mencapai dominasi ini?

Pertama, melalui pembingkaian isu (framing). Aktor politik memilih sudut pandang tertentu, menekankan aspek tertentu, dan mengabaikan yang lain untuk membentuk persepsi publik. Misalnya, sebuah kebijakan bisa dibingkai sebagai "demi rakyat" atau "ancaman kebebasan," tergantung siapa yang berbicara.

Kedua, pembangunan narasi yang konsisten dan berulang. Dengan mengulang pesan-pesan kunci melalui berbagai saluran (media massa, media sosial, pidato), sebuah ide dapat meresap ke alam bawah sadar kolektif dan diterima sebagai kebenaran, bahkan tanpa bukti kuat. Ini menciptakan "echo chamber" di mana pandangan alternatif sulit menembus.

Ketiga, penentuan agenda. Mereka menentukan isu apa yang penting untuk dibahas, sementara isu lain dikesampingkan atau bahkan diabaikan. Ini mengarahkan perhatian publik hanya pada apa yang ingin mereka sorot, mengalihkan fokus dari masalah lain yang mungkin merugikan posisi mereka.

Dampak dari dominasi wacana ini sangat luas. Ia dapat membentuk realitas sosial, di mana pandangan tertentu menjadi norma dan pandangan alternatif dianggap marginal atau salah. Legitimasi diberikan kepada satu pihak, sementara pihak lain bisa didelegitimasi atau distigmatisasi. Ini membatasi ruang dialog yang sehat dan seringkali memicu polarisasi, karena publik hanya disajikan satu sisi koin.

Pada akhirnya, dominasi wacana politik adalah peringatan bagi kita semua. Penting bagi publik untuk memiliki literasi politik dan media yang tinggi. Dengan bersikap kritis, mencari berbagai sumber informasi, dan berani mempertanyakan narasi dominan, kita dapat menjaga kemandirian pikiran dan memastikan ruang publik tetap menjadi arena pertukaran ide yang beragam, bukan medan dominasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *