Simak Bagaimana Cara Mencegah Stunting Pada Anak

Bosscha.idHallo Sahabat Bosscha. Stunting atau kasus kekurangan gizi pada anak perlu jadi perhatian semenjak dini. Terutama pada fase menyusui atau waktu bayi berusia 0 sampai 6 bulan memegang peranan vital didalam pencegahan stunting.

Untuk itu, penduduk perlu lebih pernah memperoleh pemahaman yang holistik supaya stunting sanggup dicegah dengan cara yang tepat. Salah satunya lewat cukupnya gizi ibu yang tengah di dalam era menyusui.

Guru Besar Bidang Gizi Kesegaran Penduduk Fakultas Kebugaran Rakyat UI Sandra Fikawati mengatakan, ibu yang tengah didalam jaman menyusui memerlukan makanan yang bergizi sehingga sanggup menambahkan gizi yang optimal kepada bayi lewat air susu ibu (ASI).

“Fase menyusui ini berperan signifikan di dalam menahan stunting pada anak mengingat sebanyak 23% bayi telah terlahir stunted agar harus upaya yang lebih keras pada selagi menyusui guna menahan keadaan ini berlanjut,” kata Sandra, didalam keterangan formal, Rabu (6/4).

Fika melanjutkan, bahwa keperluan gizi ibu menyusui kudu lebih banyak berasal dari ibu hamil untuk mencapai 6 bulan ASI tertentu dan bayinya tetap di dalam keadaan baik.

Pada pas ibu menyusui secara tertentu, bayi itu bergantung sepenuhnya pada ibunya, agar pada jaman ini mesti diperhatikan gizinya.

Baca Juga: Inilah 7 Manfaat Sahur Bagi Kesehatan Tubuh

Lebih-lebih kala ini di Indonesia, prevalensi ibu hamil yang menderita tidak cukup kekuatan kronis (Kek) dan kurang darah tinggi. Sehabis bersalin, tidak ada saat lagi bagi ibu untuk memperbaiki standing gizinya terkecuali dengan mengkonsumsi makanan bergizi selagi menyusui.

Fika menyarankan supaya fase ini jadi perhatian pemerintah khususnya Kementerian Kebugaran.

Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Kebugaran mempunyai program spesifik di dalam rangka pencegahan stunting yang dinamakan Hegemoni Gizi Spesifik.

Didalam program Hegemoni Gizi Spesifik terdapat sembilan upaya yang dijalankan untuk menahan stunting pada selagi sebelum bayi lahir dan sehabis lahir. Semata-mata saja menurut Fika, wajib ditambahkan upaya pertolongan asupan gizi yang optimal bagi ibu menyusui supaya tidak kecolongan jadi stunting di selagi mendapat ASI tertentu 6 bulan.

“Berdasarkan data sebanyak 23% bayi ketika lahir udah didalam suasana stunted, itu vital dia harusnya mengejar ketinggalan dikarenakan udah terlahir stunting. Maka ketika si ibu menyusui kudu mengimbuhkan gizi yang cukup kepada si bayi, ibu membutuhkan protein dan gizi yang lumayan pula untuk dirinya,” terangnya.

Menjadi, menurut Fika, ada yang luput didalam program Kemenkes gara-gara tidak menyimak pada fase menyusui. Di sisi lain, ia mengapresiasi program Kementerian Kesegaran didalam upaya pencegahan stunting layaknya di antaranya perlindungan tablet penambah darah bagi remaja putri dan dukungan makanan tambahan protein hewani bagi baduta.

Baca Juga: 5 Khasiat Tak Terduga Biji Nangka

Sebatas saja, dibutuhkan poin tambahan pada fase menyusui supaya program itu lebih komprehensif. Fika juga menyarankan sehingga pemerintah menambahkan subsidi untuk memudahkan akses rakyat pada makanan yang mempunyai kandungan protein hewani.

“Saya juga menyarankan supaya pemerintah mensubsidi protein hewani, terhitung di dalamnya susu buat anak-anak. Protein hewani berbentuk susu ini terlalu berarti bagi perkembangan anak,” ungkapnya.

Tidak cuman mempunyai kandungan insulin like growth factor (Igf-1) yang berperan signifikan didalam perkembangan tinggi badan, susu juga enteng disajikan, praktis disiapkan, dan merupakan makanan alami yang disukai anak.

“Harga protein hewani di negara maju nisbi amat murah dibandingkan di Indonesia. Tanpa adanya subsidi ini maka akan sulit menghambat stunting,” lanjutnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan masalah ini kudu diatasi secara serius sebab kurang lebih 2Prosen sampai 3Persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hilang per th implikasi stunting.

Hal ini disebabkan stunting juga berisiko turunkan mutu sumber kekuatan manusia sebuah negara. Hasto menyebutkan salah satu penyebab primer stunting yaitu kurangnya asupan gizi di dalam jangka panjang.

“Penyebab utamanya itu asupan gizi yang tidak cukup secara kronis tetap menerus dan jangka panjang, (Ibunya) kerap sakit-sakitan, dan (Pola) asuhannya tidak baik. Ibu hamil yang tidak sehat, kurang darah, kekurangan vitamin D, kekurangan asam folat itu peluang anaknya stunting menjadi lebih besar.

Begitu juga ibu hamil yang amat muda, amat tua, amat kerap hamil, amat banyak anaknya, ini juga menjadikan faktor stunting. Untuk mengatasinya, BKKBN merencanakan program konvergensi yang amat mungkin sinergisitas antar kementerian dan forum berkaitan.

BKKBN mengerahkan namanya konvergensi yang melibatkan Kementerian dan Forum berkenaan. Misalnya Kementerian PUPR memperbaiki sanitasi, Kementerian Pertanian sedia kan pangan, Kementerian Kebugaran memfasilitasi penelitian dan pelayanan, dan lainnya.

Di samping kerja sama antar kementerian dan forum pemerintah, pencerahan dan partisipasi aktif rakyat berkaitan keperluan nutrisi bayi lewat ketercukupan gizi ibu juga kudu digalakkan demi tercapainya generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing.

“Terlebih pemerintah udah mentargetkan akan memastikan layanan dasar bidang kesegaran yang bisa turunkan prevalensi stunting lewat Rancangan Kerja 2022,” terangnya.

Semoga Bermanfaat Sahabat Bosscha.id.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.