Politik sebagai Alat Perjuangan atau Alat Kekuasaan?

Politik: Pedang Perjuangan atau Mahkota Kekuasaan?

Politik, arena yang kompleks dan dinamis, seringkali memunculkan pertanyaan mendasar tentang esensinya: apakah ia sejatinya alat perjuangan demi kebaikan bersama, ataukah sekadar instrumen untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan? Jawabannya, tak sesederhana hitam dan putih.

Di satu sisi, politik adalah pedang perjuangan. Ia lahir dari kebutuhan masyarakat untuk mengatur hidup bersama, menyuarakan aspirasi, dan memperjuangkan keadilan. Politik menjadi kanal bagi individu dan kelompok untuk menuntut perubahan, membela hak-hak minoritas, melawan penindasan, atau mewujudkan cita-cita ideal tentang masyarakat yang lebih baik. Dalam konteks ini, politik adalah tentang partisipasi, dialog, dan mobilisasi untuk mencapai tujuan kolektif yang progresif.

Namun, di sisi lain, politik juga tak terpisahkan dari mahkota kekuasaan. Bagi banyak pihak, politik adalah kompetisi tanpa henti untuk mendominasi, mengendalikan sumber daya, dan memaksakan kehendak. Kekuasaan menjadi tujuan itu sendiri, seringkali mengesampingkan etika dan kepentingan publik, demi mempertahankan posisi, privilege, atau agenda pribadi/golongan. Dalam wajah ini, politik adalah tentang strategi, intrik, dan dominasi, di mana kepentingan individu atau elite lebih diutamakan daripada kesejahteraan umum.

Jadi, apakah politik alat perjuangan atau kekuasaan? Keduanya. Politik adalah sebuah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi instrumen perubahan transformatif di tangan mereka yang berjuang untuk keadilan, namun juga bisa menjadi belenggu penindasan ketika jatuh ke tangan mereka yang hanya haus kekuasaan. Esensinya bergantung pada niat, moralitas, dan visi mereka yang menjalankannya, serta pada seberapa jauh masyarakat mampu mengawasi dan menuntut akuntabilitas dari para pemegang tampuk kekuasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *