Politik Agraria: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dikorbankan?

Politik Agraria: Perebutan Lahan, Pengebiran Keadilan

Politik agraria adalah medan pertarungan sengit tentang siapa yang berhak menguasai, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya tanah. Lebih dari sekadar kepemilikan, ini adalah cerminan kekuasaan dan keadilan sosial. Di baliknya, selalu ada cerita tentang pihak yang diuntungkan dan yang dikorbankan.

Siapa yang Diuntungkan?

Pihak yang paling diuntungkan dari politik agraria yang ada seringkali adalah modal besar dan korporasi raksasa. Melalui izin konsesi skala luas (perkebunan, pertambangan, properti), mereka mengakumulasi lahan dan sumber daya. Dukungan kebijakan, kemudahan investasi, dan kekuatan finansial membuat mereka mampu mendominasi, menggeser kepemilikan komunal atau perseorangan kecil. Elit politik dan ekonomi seringkali menjadi bagian dari lingkaran keuntungan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui pajak atau bagi hasil yang besar.

Siapa yang Dikorbankan?

Sebaliknya, petani gurem, masyarakat adat, dan komunitas lokal adalah pihak yang paling sering menjadi korban. Tanah yang menjadi sumber penghidupan dan identitas mereka dirampas atau digusur atas nama "pembangunan" atau kepentingan ekonomi. Mereka kehilangan akses ke lahan pertanian, hutan, dan air, yang berujung pada kemiskinan, pengungsian, dan hilangnya kedaulatan pangan. Konflik agraria yang berdarah, kriminalisasi petani, dan kerusakan lingkungan adalah konsekuensi pahit dari ketidakadilan ini.

Narasi Pembangunan vs. Hak Asasi

Ketidakseimbangan kekuasaan, lemahnya penegakan hukum bagi yang lemah, serta kebijakan yang bias terhadap investasi besar adalah akar masalahnya. Narasi pembangunan ekonomi yang didorong oleh investasi skala besar seringkali digunakan untuk membenarkan pengorbanan hak-hak agraria masyarakat. Padahal, pembangunan seharusnya menyejahterakan semua, bukan hanya segelintir.

Politik agraria adalah cermin wajah keadilan di sebuah negara. Selama perebutan lahan masih diwarnai ketidakadilan dan pengorbanan hak-hak dasar, cita-cita kesejahteraan bersama akan tetap menjadi ilusi. Penting untuk terus menyuarakan reformasi agraria yang sejati, demi keberlanjutan hidup dan martabat seluruh rakyat, bukan hanya segelintir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *