Mengapa Suara Rakyat Kerap Senyap? Menyingkap Akar Rendahnya Partisipasi Politik
Demokrasi sejati mensyaratkan partisipasi aktif warganya. Namun, di banyak negara, termasuk Indonesia, fenomena rendahnya partisipasi politik masyarakat masih menjadi tantangan serius. Mengapa suara rakyat, yang seharusnya menjadi pilar utama, justru kerap terdengar senyap?
Salah satu akar utama adalah rendahnya tingkat kepercayaan terhadap institusi politik dan para elit. Berulang kali janji tidak terpenuhi, praktik korupsi, dan perasaan bahwa politik hanya melayani kepentingan segelintir kelompok, menciptakan apatisme dan sinisme yang mendalam. Masyarakat merasa perjuangan politik mereka sia-sia karena sistem dianggap sudah rusak atau dikendalikan.
Ditambah lagi, banyak masyarakat merasa bahwa suara mereka tidak memiliki dampak signifikan. Perasaan bahwa ‘satu suara tidak akan mengubah apa-apa’ atau ‘siapa pun yang terpilih, keadaannya sama saja’, melemahkan motivasi untuk terlibat. Politik seringkali dianggap sebagai sesuatu yang jauh, tidak relevan dengan persoalan sehari-hari, atau terlalu rumit untuk dipahami. Kesibukan hidup dan prioritas pada masalah ekonomi atau keluarga juga sering menggeser perhatian dari isu-isu politik.
Rendahnya partisipasi politik adalah cerminan dari berbagai masalah struktural dan psikologis. Mengembalikan gairah partisipasi memerlukan upaya bersama: dari pemerintah yang lebih transparan dan akuntabel, partai politik yang lebih responsif, hingga masyarakat yang semakin sadar akan kekuatan kolektif suaranya. Hanya dengan partisipasi aktif, demokrasi dapat benar-benar berjalan dan mewakili kehendak rakyat.