Politik di Etalase Konsumsi: Memilih Suara, Membeli Citra
Dulu, politik identik dengan ideologi, perdebatan substansial, dan perjuangan nilai. Kini, batas antara politik dan budaya konsumtif kian tipis. Politik tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjelma menjadi produk yang dikemas, dipasarkan, dan "dikonsumsi" oleh masyarakat.
Fenomena ini terlihat jelas dari bagaimana para politisi dikemas layaknya merek dagang, lengkap dengan logo, jargon menarik, dan citra yang dibangun sedemikian rupa. Kampanye bukan lagi adu gagasan semata, melainkan pertarungan citra dan popularitas, di mana media sosial menjadi etalase utama. "Like" dan "share" seringkali lebih berharga daripada analisis mendalam, dan isu-isu kompleks disederhanakan menjadi narasi yang mudah dicerna dan "dikonsumsi" secara instan.
Dampaknya? Pilihan politik seringkali didasarkan pada daya tarik visual atau janji manis yang instan, bukan pada rekam jejak atau visi jangka panjang. Masyarakat cenderung "membeli" narasi yang sudah sesuai dengan preferensi awal mereka, membentuk gelembung informasi. Ideologi dan prinsip pun bisa berubah menjadi "tren" yang musiman, seperti tren fashion.
Ketika politik menjadi bagian dari budaya konsumtif, bahayanya adalah dangkalnya pemahaman politik dan apatisnya masyarakat terhadap substansi. Kita dituntut untuk menjadi "konsumen" politik yang lebih cerdas dan kritis. Memilih bukan hanya tentang membeli citra yang menarik, tetapi tentang memahami esensi dan dampak nyata dari setiap pilihan kita bagi masa depan bangsa.