Ketika Politik Membentuk Persepsi Sejarah Bangsa

Ketika Politik Mengukir Ulang Sejarah: Memori Bangsa dalam Bingkai Kekuasaan

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang objektif, melainkan juga medan pertarungan interpretasi yang intens, terutama ketika bersentuhan dengan politik. Kekuatan politik memiliki kapasitas luar biasa untuk membentuk, bahkan kadang-kadang mengukir ulang, bagaimana sebuah bangsa memahami dan merasakan masa lalunya.

Para penguasa atau kekuatan politik seringkali memilih narasi tertentu: menonjolkan peristiwa yang mendukung legitimasi mereka, mengaburkan atau bahkan menghilangkan fakta yang bertentangan, dan menciptakan pahlawan atau musuh sesuai kebutuhan agenda. Ini bukan sekadar penulisan ulang buku teks, melainkan pembentukan identitas kolektif, nilai-nilai, dan pandangan dunia yang akan diwariskan dari generasi ke generasi.

Persepsi sejarah yang dibentuk politik memiliki konsekuensi mendalam. Ia dapat menyatukan bangsa di bawah satu visi, tetapi juga memecah belah ketika narasi yang dominan mengabaikan atau menindas pengalaman kelompok lain. Lebih jauh, sejarah yang dimanipulasi bisa menjadi alat untuk membenarkan kebijakan masa kini, meredam kritik, atau bahkan memicu konflik di masa depan.

Oleh karena itu, kesadaran kritis terhadap narasi sejarah yang disajikan menjadi sangat vital. Masyarakat harus senantiasa bertanya, membandingkan sumber, dan memahami bahwa sejarah adalah dialog berkelanjutan, bukan dogma yang kaku. Melindungi integritas sejarah adalah melindungi hak bangsa untuk memahami dirinya secara jujur dan membangun masa depan yang lebih adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *