Pesona Popularitas: Ketika Politik Lupa Kapasitas?
Dalam kancah politik, seringkali kita menyaksikan paradoks: ekspektasi akan keahlian dan rekam jejak yang mumpuni seolah dikesampingkan demi daya tarik personal dan popularitas. Mengapa fenomena ini begitu mendominasi, bahkan ketika isu-isu kompleks membutuhkan pemimpin dengan kapasitas sejati?
1. Logika Elektoral:
Sistem demokrasi mengutamakan suara rakyat. Dalam kontestasi elektoral, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh program kerja paling brilian atau pengalaman terpanjang, melainkan oleh kemampuan merebut hati dan pikiran pemilih. Calon yang dikenal luas, mudah dikenali, dan mampu membangun koneksi emosional seringkali lebih unggul. Popularitas adalah jembatan pertama menuju kotak suara.
2. Kekuatan Narasi dan Citra:
Di era informasi digital, politik menjadi panggung di mana narasi yang menarik dan citra yang kuat seringkali lebih mudah "dijual" dan disebarluaskan dibandingkan analisis kebijakan yang mendalam. Media massa dan platform sosial cenderung mengamplifikasi kepribadian, retorika persuasif, dan janji-janji yang menyentuh emosi, menggeser fokus dari substansi ke permukaan.
3. Preferensi Psikologis Publik:
Secara psikologis, manusia cenderung memilih apa yang terasa familiar dan nyaman. Janji-janji sederhana yang menyentuh emosi sering lebih mudah dicerna daripada solusi jangka panjang yang rumit. Popularitas menawarkan rasa aman, harapan instan, dan figur yang bisa diidentifikasi, sementara kapasitas menuntut pemahaman, kesabaran, dan terkadang keputusan yang tidak populer namun esensial.
4. Investasi Politik Jangka Pendek:
Partai politik dan tim kampanye seringkali memprioritaskan "elektabilitas" sebagai tolok ukur utama. Calon yang populer dianggap lebih "bankable" untuk menarik donasi, sukarelawan, dan tentu saja, suara. Fokus cenderung pada kemenangan pemilu, yang seringkali mengorbankan pertimbangan jangka panjang mengenai efektivitas kepemimpinan setelah menjabat.
Maka, tak heran jika politik seringkali berjalan di atas rel popularitas. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat dan sistem politik dapat didorong untuk melihat melampaui gemerlap citra, menuju inti dari kapasitas sejati, demi masa depan yang lebih baik dan pemerintahan yang lebih efektif.