Badai di Istana: Saat Koalisi Partai Gagal dan Negara Goyah
Dalam lanskap politik modern, koalisi partai seringkali menjadi tulang punggung pemerintahan, terutama di negara-negara dengan sistem multipartai. Namun, rapuhnya ikatan ini menyimpan potensi ancaman serius bagi stabilitas negara jika ia gagal berfungsi atau bubar di tengah jalan.
Kegagalan koalisi tidak lepas dari beragam faktor: perbedaan ideologi yang menganga, perebutan kursi kekuasaan atau portofolio strategis, janji yang tak terpenuhi, hingga manuver politik internal yang saling menjatuhkan. Alih-alih bersatu, kepentingan sempit partai seringkali mengalahkan visi bersama untuk bangsa.
Dampak paling nyata adalah instabilitas pemerintahan. Keputusan strategis menjadi mandek, program pembangunan terhambat, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah pun merosot tajam. Bahkan, tak jarang berujung pada mosi tidak percaya, krisis kabinet, hingga tuntutan pemilu dini yang membuang energi dan biaya besar. Lingkungan politik yang bergejolak ini juga mengirim sinyal negatif kepada investor, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya merugikan rakyat secara luas.
Oleh karena itu, keberlanjutan sebuah koalisi bukan hanya soal aritmatika kursi, melainkan komitmen pada visi bersama dan kemampuan menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Tanpa fondasi yang kuat, koalisi akan menjadi "kartu domino" yang siap menjatuhkan stabilitas pemerintahan dan masa depan sebuah negara.