Mengapa Debat Politik Kini Lebih Banyak Drama daripada Substansi

Panggung Sandiwara Politik: Ketika Debat Kehilangan Rohnya

Debat politik, yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan dan visi untuk masa depan bangsa, kini seringkali lebih mirip panggung sandiwara. Mengapa diskursus publik yang krusial ini justru dipenuhi intrik dan minim substansi?

Salah satu alasannya adalah pergeseran tujuan. Para politisi cenderung memprioritaskan kemenangan persepsi daripada menjelaskan kebijakan secara mendalam. Serangan personal, retorika bombastis, dan upaya menjatuhkan lawan menjadi senjata utama. Tujuannya bukan lagi meyakinkan dengan data atau solusi konkret, melainkan mengendalikan narasi dan membangkitkan emosi para pemilih.

Media dan platform media sosial turut memperparah keadaan. Kutipan sensasional (soundbites) dan momen dramatis lebih mudah viral dan menarik perhatian. Audiens yang haus akan konflik dan hiburan tanpa sadar mendorong politisi untuk tampil lebih ‘teatrikal’. Akibatnya, diskusi mendalam tentang isu penting seperti ekonomi, pendidikan, atau lingkungan terpinggirkan demi "drama" yang lebih menarik perhatian.

Ketika debat politik menjadi tontonan drama, publiklah yang rugi. Kesempatan untuk memahami visi, misi, dan program secara komprehensif hilang, digantikan oleh tontonan saling serang tanpa arah. Ini adalah panggilan bagi politisi, media, dan pemilih untuk mengembalikan esensi debat: forum untuk pencerahan, bukan sekadar pertunjukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *