Ketika Beton Berbicara Politik: PSN dan Godaan Pencitraan
Proyek Strategis Nasional (PSN) dirancang sebagai tulang punggung pembangunan, akselerator ekonomi, dan penunjang kesejahteraan rakyat. Namun, tak jarang, megaprojek ini beralih fungsi dari instrumen pembangunan menjadi panggung politik pencitraan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius tentang esensi dan keberlanjutan PSN itu sendiri.
Peresmian yang meriah, klaim keberhasilan yang bombastis, dan janji-janji manis seringkali menjadi prioritas, mengalahkan kajian mendalam, efisiensi anggaran, atau dampak jangka panjang bagi masyarakat. Motivasi elektoral dan hasrat membangun ‘legacy’ politik bisa mengaburkan tujuan murni PSN. Akibatnya, PSN diubah menjadi komoditas politik, dipergunakan untuk mendulang popularitas dan dukungan, terutama menjelang kontestasi politik.
Dampak buruknya tidak main-main. Risiko proyek mangkrak, pemborosan anggaran negara, hingga pembangunan yang tidak tepat sasaran membayangi. Kualitas dan manfaat substansial terancam terabaikan demi kecepatan penyelesaian atau sekadar ‘ada’ untuk diresmikan. Pada akhirnya, kepercayaan publik terhadap pemerintah dan proses pembangunan bisa terkikis, memunculkan sinisme terhadap setiap proyek raksasa yang digagas.
PSN seharusnya menjadi simbol kemajuan yang inklusif dan berkelanjutan, bukan sekadar alat kampanye. Pemerintah dan pemangku kepentingan wajib mengembalikan PSN pada khitahnya: fokus pada perencanaan matang, akuntabilitas, transparansi, serta dampak nyata bagi rakyat. Hanya dengan begitu, beton-beton yang berdiri kokoh bukan hanya menjadi saksi bisu pembangunan, melainkan juga cerminan integritas kepemimpinan.