Demokrasi: Usang atau Ujung Tombak Solusi Krisis?
Dunia kini dihadapkan pada serangkaian krisis multidimensional: pandemi global, gejolak ekonomi, perubahan iklim, hingga polarisasi sosial yang meruncing. Di tengah guncangan ini, muncul pertanyaan krusial: apakah sistem demokrasi, dengan segala kompleksitas dan kecepatannya, masih efektif dalam menavigasi badai?
Memang, demokrasi sering dianggap lamban dalam pengambilan keputusan darurat. Proses debat yang panjang, checks and balances yang ketat, serta rentannya terhadap fragmentasi politik dan disinformasi, kerap membuat respons krisis terasa kurang gesit dibandingkan sistem otoriter. Keraguan pun mencuat, apakah kebebasan yang ditawarkan demokrasi justru menjadi bumerang di masa-masa genting.
Namun, meremehkan demokrasi sepenuhnya adalah kekeliruan. Kekuatan sejatinya terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi, akuntabilitas pemimpin, serta ruang bagi kritik dan koreksi. Di tengah krisis, demokrasi memungkinkan suara rakyat didengar, mencegah penumpukan kekuasaan yang bisa berujung pada tirani, dan menjamin partisipasi publik dalam mencari solusi. Sistem ini juga menyediakan mekanisme koreksi diri, di mana kesalahan dapat diperbaiki melalui proses politik yang transparan, bukan kekerasan.
Jadi, apakah demokrasi masih efektif? Jawabannya bukan hitam-putih. Ia menghadapi tantangan berat, namun prinsip-prinsip dasarnya tetap krusial. Efektivitasnya kini bergantung pada kemauan kita untuk mereformasi dan memperkuat institusi demokrasi, melawan disinformasi, serta mendorong dialog konstruktif. Demokrasi bukan solusi instan, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan partisipasi aktif dan kepercayaan publik untuk tetap relevan dan kuat di tengah badai. Ia mungkin berliku, tapi seringkali menjadi satu-satunya jalan menuju solusi yang berkelanjutan dan berkeadilan.