Resah Sosial, Kekuatan Politik: Narasi Isu sebagai Pemicu Mobilisasi
Isu sosial, yang sejatinya adalah cerminan masalah riil di masyarakat, seringkali bertransformasi menjadi alat ampuh dalam arena politik. Fenomena ini dikenal sebagai pemanfaatan isu sosial untuk mobilisasi politik, sebuah strategi yang mampu menggerakkan massa dan membentuk opini publik.
Para politisi atau kelompok kepentingan jeli melihat celah dalam ketidakpuasan atau keresahan kolektif, seperti ketidakadilan ekonomi, diskriminasi, kerusakan lingkungan, atau ketidakpuasan terhadap kebijakan tertentu. Mereka kemudian merangkai narasi yang menyentuh emosi, mengidentifikasi ‘musuh’ bersama, atau menawarkan ‘solusi’ instan. Melalui amplifikasi di berbagai platform, isu-isu ini bukan lagi sekadar masalah, melainkan bendera perjuangan yang menggalang solidaritas.
Efektivitas strategi ini terletak pada kemampuannya menyentuh inti identitas dan nilai-nilai bersama masyarakat. Ketika individu merasa suaranya diwakili dan kekecewaannya diakui, mereka cenderung berpartisipasi aktif, baik melalui aksi demonstrasi, kampanye daring, maupun dukungan elektoral.
Namun, pemanfaatan ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menjadi katalisator perubahan positif, mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan responsif. Di sisi lain, potensi manipulasi dan polarisasi sangat besar, berujung pada perpecahan sosial, populisme, atau bahkan konflik.
Pada akhirnya, isu sosial adalah medan pertarungan narasi yang kuat. Kemampuannya menggerakkan massa tak diragukan, namun penting bagi masyarakat untuk selalu kritis dalam menyaring informasi dan memahami agenda di balik setiap mobilisasi. Hanya dengan begitu, isu sosial dapat menjadi jembatan menuju kebaikan bersama, bukan alat untuk kepentingan sempit.