Politik Tanpa Kompas: Ketika Ideologi Pudar di Partai
Secara tradisional, partai politik adalah wadah bagi kelompok yang berbagi ideologi atau pandangan dunia yang sama. Namun, di banyak negara, kita menyaksikan pergeseran fundamental: partai politik semakin menjauh dari basis ideologis yang kuat.
Fenomena ini menandai era di mana pragmatisme elektoral, popularitas individu, dan isu-isu populis jangka pendek menjadi pendorong utama. Alih-alih menawarkan narasi ideologis yang koheren (misalnya sosialisme, konservatisme, liberalisme), partai cenderung menjadi ‘tangga’ bagi ambisi personal atau sekadar ‘alat’ untuk meraih kekuasaan. Program-programnya bisa berubah-ubah, menyesuaikan diri dengan angin survei atau sentimen publik demi meraih suara terbanyak.
Dampak dari hilangnya kompas ideologi ini sangat signifikan bagi demokrasi. Pemilih kesulitan membedakan satu partai dengan yang lain, karena garis pemisah ideologis menjadi kabur. Debat publik kehilangan kedalamannya, beralih dari pertarungan gagasan besar menjadi intrik personal atau janji manis tanpa fondasi. Akuntabilitas partai pun menurun, sebab tanpa prinsip yang jelas, sulit untuk menuntut konsistensi atau arah kebijakan.
Pada akhirnya, ketika partai politik kehilangan fondasi ideologisnya, politik berisiko menjadi transaksi kosong kekuasaan, bukan lagi representasi aspirasi dan visi kolektif masyarakat. Ini adalah tantangan serius bagi masa depan demokrasi yang sehat dan substantif.