Mimbar Politik: Ketika Gagasan Mati, Kebencian Bersemi
Debat politik seharusnya menjadi pilar demokrasi, tempat bertukar gagasan, mencari solusi terbaik untuk bangsa. Namun, seringkali kita menyaksikan arena ini berubah menjadi panggung menebar kebencian. Argumen berbasis data dan logika tergantikan oleh retorika emosional yang bertujuan mendiskreditkan lawan, bukan lagi adu visi.
Lawan politik tidak lagi dilihat sebagai kolega yang berbeda pandangan, melainkan musuh yang harus dihancurkan. Narasi negatif, hoaks, dan fitnah menjadi amunisi utama. Fokus bergeser dari substansi ke serangan personal, menciptakan polarisasi yang merusak sendi-sendi masyarakat. Kepercayaan antarwarga terkikis, jembatan dialog runtuh, dan energi bangsa terkuras untuk saling menyerang, bukan membangun.
Dampakya jelas: demokrasi kehilangan esensinya. Ia berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara, mengorbankan persatuan dan keharmonisan. Ketika kebencian menjadi narasi dominan, ruang publik dipenuhi racun yang memecah belah, menghalangi kemajuan, dan meninggalkan luka dalam pada tatanan sosial.
Sudah saatnya kita mengembalikan marwah debat politik. Fokus pada gagasan, bukan serangan personal. Menghargai perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Demi masa depan bangsa yang lebih harmonis dan produktif, mari berdebat dengan akal sehat dan hati nurani, bukan dengan amarah dan kebencian.