Sejarah 10 November: Pertempuran Surabaya, Palagan Kaum Sarungan

Foto : Cuplikan Film "Sang Kyai", 2013

Bosscha.id – Lewat keputusan yang ditetapkan oleh Sukarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional. Mulanya, peringatan ini dilakukan untuk menghormati para pahlawan yang gugur di medan pertempuran pada 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam pertempuran itu, arek-arek Surabaya berperang melawan pasukan NICA dan sekutu yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap sehingga banyak menelan banyak korban jiwa, terutama dari kalangan rakyat biasa.

Setahun usai pertempuran itu, Sukarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Gelar pahlawan yang disematkan bukan hanya untuk yang mereka gugur dalam balutan seragam prajurit saja, tetapi juga bagi seluruh warga yang menjadi korban serangan Inggris dalam peristiwa heroik itu.

Pada masa awal Revolusi, saat tentara Sekutu mulai menduduki wilayah Republik, organisasi islam Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan keputusan penting untuk melawan pendudukan tersebut. Keputusan tanggal 22 Oktober 1945 itu kemudian dikenal dengan nama Resolusi Jihad. Isinya:

“Berperang menolak & melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (haroes dikerdjakan tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek & kedoedoekan moesoeh […] Bagi jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja).”

Para pemuda NU, yang di antaranya dilatih dalam Laskar Hizbullah, berdiri dan siap mati di belakang Republik Indonesia. Resolusi itulah yang kemudian menjadi triger perlawanan para pemuda di Surabaya dan sekitarnya untuk mengusir tentara Sekutu yang menemui puncaknya pada Pertempuran 10 November 1945.

Seperi ditulis Martin van Bruinessen dalam NU: tradisi, relasi-relasi kuasa, pencarian wacana baru (1994: 60), “Resolusi jihad berdampak besar di Jawa Timur. Pasukan-pasukan non-reguler yag bernama Sabilillah rupanya dibentuk sebagai respons langsung atas resolusi ini—namanya langsung merujuk pada Perang Suci.”

Santri dan Revolusi

Orang-orang Pesantren yang mulanya bertujuan untuk belajar ilmu agama, dalam perkembangannya diajarkan nilai-nilai nasionalisme untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara. Karena itulah, persantren kemudian menjadi wadah untuk melatih kesadaran kolektif untuk membangun cita-cita persatuan umat dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Resolusi Jihad yang digagas NU, kemudian melahirkan spirit perlawanan yang menggerakkan semangat “kaum sarungan” untuk terjun berpartisipasi angkat senjata melawan penjajah. Dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001), KH Saifuddin Zuhri menuliskan ketika terjadi perlawanan dari kaum santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang juga melakukan perlawanan kepada tentara Sekutu yang mendarat di Semarang.

Baca Juga:   Manajem Bhayangkara FC Larang Pemainnya Main Tarkam

Perlawanan kemudian meluas hingga di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu. Kabar perjuangan itu lantas sampai di Parakan yang juga menggerakkan Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan untuk turun melawan penjajah di seluruh daerah Kedu. Pondok pesantren berubah menjadi markas perjuangan Hizbullah dan Sabilillah. Sebagian besar kelompok santri dan rakyat di daerah itu, baik kalangan tua dan muda mempertaruhkan nyawa untuk kepentingan bangsa.

Oleh karena perlawanan yang dikobarkan melalui Resolusi Jihad NU itulah, pada oktober 2015 Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengusulkan bahwa penetapan Hari Santri mestinya diperingati pada 22 Oktober, alih-alih 1 Muharam seperti rencana Presiden Joko Widodo sebelumnya. Akhirnya, pada 15 Oktober 2015, keluarkan Keppres No. 22 Th. 2015 yang menetapkan bahwa Hari Santri jatuh pada 22 Oktober.

Kedahsyatan pertempuran 10 November 1945 ini tidak terlepas dari Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945. Surabaya menjadi melting pot Laskar Hizbullah dari berbagai daerah, pertempuran yang terjadi cukup menghentakkan pihak sekutu. Apa yang terjadi di Surabaya pada Oktober-November 1945 menjadi kisah nyata, kontribusi besar Laskar Hizbullah yang bergerak secara gigih, dengan kekuatan lahir batin serta mental baja untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah terkait sejarah ini nampaknya perlu menjadi ingatan kolektif bagi kita semua, bahwa peran Laskar Hizbullah cukup besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Laskar Hizbullah dibentuk sebagai laskar kesatuan perjuangan semi militer dari kelompok Islam yang dilandasi dengan niat jihad fi sabilillah, berjuang menegakkan agama dan Negara. Laskar Hizbullah berperan aktif dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password