Sejarah 7 November: W.S Rendra, Penyair yang Jadi Ancaman Tirani

Potret karisma WS Rendra ketika membacakan puisi (Dok.Istimewa)

Bosscha.id –  Hari ini 85 tahun silam, atau pada 7 November 1935, lahirlah seorang penyair besar negeri ini yang tangguh dalam teknik oral dan sangat peka kepada pengaruh bunyi. Penyair itu bernama Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal dengan nama W.S. Rendra.

Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Dilihat dari nama-nama ini, sebut Harlina Indijati dan Abdul Muraddikutip dalam Biografi Pengarang Rendra dan Karyanya (1996), dapat ditebak keluarga ini adalah keluarga Katolik yang dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa.

Sugeng Brotoatmodjo adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di salah satu sekolah Katolik di Solo. Selain itu, ayah Rendra ini juga dikenal sebagai pelaku seni drama tradisional. Sementara sang ibu, Raden Ayu Catharina, seorang penari di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tumbuh-besar dalam keluarga yang kental dengan dunia seni dan budaya, maka tidak heran kelak Rendra menjelma sebagai sosok seniman ulung yang telah menghasilkan seabrek karya sastra, dari puisi, naskah drama, cerpen, dan lainnya.

Rendra yang dibenci penguasa

Puisi karya Rendra yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong” yang pernah ia bacakan di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1977, dan merupakan salah satu adegan dalam film Yang Muda Yang Bercinta karya sutradara Sjumandjaja. Film tersebut sempat dilarang tayang karena di dalamnya terdapat beberapa puisi Rendra yang isinya mengkritik penguasa, seperti “Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon” dan “Sajak Pertemuan Mahasiswa”.

Seperti ditulis Harry Aveling dalam Rahasia Membutuhkan Kata: Puisi Indonesia 1966-1998 (2003) mencatat bahwa sensor yang dilakukan Orde Baru terhadap berbagai ekspresi kesenian semakin kencang pada akhir 1970-an. Film Indonesia disensor ketat dan dilarang. Sebagian direvisi, disesuaikan dengan kehendak rezim. Di masa itu, Rendra tampil bak lebah yang siap sedia menyengat para penguasa.

Satu tahun pasca dilarangnya film yang memuat adegan Rendra membacakan sajak, dia pun tak merasa kapok dan tampil lagi di Jakarta meski teror terus mengintai keselamatannya. Beberapa hari sebelum membacakan sajak-sajak bertema pembangunan di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 28 April 1978, sepucuk surat anonim diterima Rendra, isinya mengancam ia dan keluarganya. Pada saat pementasan, bom amoniak dilemparkan, mengakibatkan tiga orang penonton pingsan. Tiga hari setelah penyerangan, Rendra pun ditahan aparat keamanan.

Lantas, Kodam Jaya pun memberi pernyataan bahwa penangkapan Rendra merupakan salah satu upaya untuk “mengamankan” penyair itu dari ancaman pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sementara menurut Laksamana Sudomo, Wakil Pangkopkamtib, penahanan tersebut dilakukan karena puisi-puisi Rendra dianggap menghasut.

Ajip Rosidi mencatat dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008) bahwa Rendra pada mulanya dilarang tampil di TIM. Di mata penguasa, khususnya militer, ia telah kesohor sebagai penggulir isu-isu kontroversial yang mereka anggap bisa bikin keamanan rentan. Waktu itu Bengkel Teater pimpinan Rendra masih bermarkas di Yogyakarta. Rendra kena cekal, tak boleh tampil di luar Yogyakarta. Padahal Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah memasukkan namanya ke dalam kalender bulanan untuk tampil di TIM.

DKJ pun lantas menyampaikan situasi itu kepada mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, yang langsung menghubungi Kolonel Leo Ngali sebagai Asisten I/Intel Kodam Diponegoro. Atas dukungan Ali Sadikin, Rendra pun akhirnya bisa tampil di TIM meskipun acaranya diserang bom amoniak.

“Akibat kejadian tersebut Rendra ditahan Laksusda Jaya pada 1 Mei 1978 dan baru bebas pada 7 Oktober 1978 setelah diprotes oleh banyak kalangan termasuk dunia internasional,” tulis Stanley YAP dalam artikel “Intelejen, Sensor dan Negeri Kepatuhan” yang terhimpun dalam Negara, Intel, dan Ketakutan (2006).

Hingga akhirnya Rendra ditahan oleh aparat keamanan, Dewan Pengurus Harian DKJ yang diwakili oleh Asrul Sani, Iravati Sudiarso, Ajip Rosidi, Alam Suriawidjaja, dan Ramadhan K.H. pun mendatangi Gubernur Jakarta Tjokropranolo atas saran Ali Sadikin.

Asrul Sani pun mengungkapkan sejumlah prestasi Rendra sebagai seniman yang tidak hanya diakui secara nasional, tapi juga internasional. Kepada Gubernur, Asrul Sani meminta masalah Rendra diselesaikan dari hati ke hati, karena menurutnya Rendra tidak akan melakukan pemberontakan.

Namun Tjokropranolo lantas bertanya, “Apa jasa Rendra terhadap bangsa? Di mana dia waktu revolusi?”

Setelah dijelaskan oleh Asrul Sani bahwa saat revolusi terjadi Rendra masih kanak-kanak dan jasa seseorang tidak bisa dinilai sekadar dari perbuatannya saat revolusi berkobar, Tjokropranolo langsung naik pitam.

“’Ya, saudara-saudara sebagai seniman, pandai mengkritik. Saya bukan seniman, saya tidak pandai mengkritik. Tetapi saya tentara, saya punya bedil […],’ kata Gubernur sambil memperlihatkan sepir pangkal lengannya yang kanan,” tulis Ajip.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password