Sejarah 4 November: 444 Hari Penyanderaan Warga Amerika di Iran Dimulai Hari Ini

Bosscha.id

Bosscha.id – Tahun 1979 Iran meletakkan pondasinya sebagai sebuah republik Islam. Di antara berbagai insiden yang mengawali revolusi para mullah, krisis pendudukan kantor kedutaan besar Amerika Serikat di Teheran adalah salah satu bagian paling penting.

Bukan karena durasinya yang tercatat sebagai krisis penyanderaan terlama dalam sejarah, akan tetapi dampaknya yang amat efektif untuk merusak hubungan Iran dan AS hingga hari ini.

Narasi anti-Amerika mengental sejak massa turun ke jalan. Mereka termotivasi oleh jejak CIA dalam Operation Ajax (1953) yang berakibat pada tergulingnya Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh dan naiknya Shah Mohammed Reza Pahlevi ke tampuk kekuasaan.

Salah satu jurnalis yang menarasikan peristiwa tersebut dengan cukup komprehensif adalah John Skow, reporter Majalah Time. Dalam laporannya yang bertajuk The Long Ordeal of the Hostages, Skow menjelaskan bagaimana kedutaan besar AS di Teheran menjadi sasaran demonstrasi yang berlangsung agresif.

Inisiatornya adalah aktivis yang tergabung dalam Mahasiswa Muslim Pengikut Garis Imam, aliansi mahasiswa pendukung Revolusi Iran dari berbagai universitas. Mereka sudah merencanakan aksi penyerbuan sejak bulan September.

Rencananya sederhana: menduduki kedubes AS selama beberapa jam, atau paling lama satu minggu, untuk menunjukkan pada dunia perihal kontribusi mereka dalam revolusi Iran. Pendudukan kedubes dianggap mampu memaksimalkan perjuangan revolusi “dengan cara yang jauh lebih tegas dan efektif.”

Tepat hari ini 41 tahun silam, atau pada 4 November 1979, militansi mahasiswa makin mengeras. Mereka siap untuk kontak fisik dengan aparat keamanan. Meski demikian, mereka tetap bertindak cerdas. Untuk membuka gerbang kedubes, misalnya, mereka menyelundupkan aktivis perempuan yang membawa pemotong gembok di balik kerudung panjangnya.

Setelah gerbang terbuka, massa pun merangsak masuk ke dalam gedung kedubes. Sebanyak 66 warga Amerika disandera. Tangan mereka diikat, mata ditutup dengan selembar kain. Dokumen-dokumen rahasia dibakar di jalanan depan kedubes, bersama meja, kursi, dan hasil jarahan lain.

Mahasiswa pun kemudian mengadakan konferensi pers untuk meminta pendeportasian Shah Pahlevi yang pergi berobat ke AS usai digulingkan oleh gerakan revolusioner Iran. Mereka meminta AS minta maaf atas intervensinya di dalam politik dalam negeri Iran, termasuk penggulingan Mossadegh, dan menyerahkan aset Iran yang dibekukan di bank-bank AS.

Sesuai rencana awal, pendudukan kedubes dan penyanderaan para karyawan akan berlangsung dalam waktu singkat. Namun, segalanya berubah setelah Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Iran, menyatakan dukungan penuh kepada mahasiswa.

Khomeini pulang dari pengasingan selama 15 tahun di Perancis pada 1 Februari 1979. Ia dan Dewan Revolusioner mengambil alih kekuasaan pada 6 November, dua hari setelah aksi penyanderaan, usai PM Mehdi Bazargan dan jajaran pemerintahannya mengundurkan diri.

Berbagai faksi internasional pun mendukung aksi penyanderaan ini, baik yang berafiliasi Islamis maupun yang kiri—dua entitas musuh AS selama periode perang dingin. Uni Soviet, Kuba, Libya, dan Jerman Timur diduga memberikan bantuan tak langsung. Organisasi Pembebas Palestina (PLO) memberikan personel, pelatihan, hingga dana. Fidel Castro tak ketinggalan melontarkan pujian untuk Khomeini.

Presiden AS Jimmy Carter dan jajaran pemerintahannya cukup pusing sebab para penyandera menolak negosiasi. Hal ini membuat durasi penyanderaan ini memecahkan rekor yakni, 444 hari. Sepanjang satu tahun lebih warga di Iran mengukuhkan agenda revolusi mereka, sementara demonstrasi anti-Iran merebak di berbagai kota di AS, terutama di ibukota Washington D.C.

Beberapa sandera ada yang mampu berangsur-angsur dibebaskan. Pada 20 November 1979, misalnya, sandera perempuan dan yang berkulit hitam dilepaskan. Sisa sandera tercatat 53 orang. Pada 11 Juli 1980 totalnya menjadi 52 orang setelah satu orang sandera dibebaskan karena sakit.

Bowden menggarisbawahi perbedaan kondisi sandera dari yang dilaporkan pihak Iran dan yang berasal dari pengakuan para sandera sendiri.

Pihak Iran berkali-kali menegaskan bahwa sandera adalah tamu sehingga mesti diperlakukan dengan hormat. Sementara sandera yang diwawancarai Bowden berkata sebaliknya: mereka kerap menerima pemukulan, pencurian, dan teror verbal.

Baca Juga:   ASN KBB Harus Menguasai Birokrasi Era Digital

Pada pertengahan Januari 1981 kebuntuan akhirnya bisa dipecahkan melalui proses negosiasi panjang yang telah AS jalani sejak bulan November 1980. Sebagaimana merujuk pada catatan CNN Middle East, Aljazair berperan sebagai mediator. Iran mau membebaskan para sandera setelah AS bersedia untuk mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan.

Pada 20 Januari 1981 ke-52 sandera diterbangkan ke Aljazair, lanjut ke Pangkalan Udara Rhein-Main di Jerman Timur. Mereka dirawat selama beberapa di rumah sakit Weiesbaden sebelum akhirnya diterbangkan ke New York. Sambutannya luar biasa besar, bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa krisis penyanderaan sebagai awal mula AS berhadapan dengan politik Islam. Iran bukan lagi berstatus sebagai kawan AS di Timur Tengah. AS berpaling ke Irak dengan memasok berbagai bantuan militer, dan turut memperkuat posisi Saddam Hussein.

Belum ada satu tahun sejak dimulainya drama penyanderaan, Saddam menginvasi Iran. Aksi ini memulai perang antar kedua negara yang berlangsung hampir sewindu dan memakan nyawa lebih dari 100.000 warga sipil.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password