Sejarah 30 Oktober: Pak Raden yang Memperjuangkan Si Unyil Hingga Akhir Hayat

Tampilan khas Drs. Suyadi ketika menjadi Pak Raden (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Dalam serial boneka legendaris ‘Si Unyil’, ada karakter orang tua cerewet, pelit, gemuk, dan ingin terlihat berwibawa dengan kumis model zaman kompeni, yaitu Pak Raden. Suara Pak Raden diisi oleh pencipta karakter Si Unyil itu sendiri, yakni Drs. Suyadi.

Menurut catatan Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986 (1986), suara Suyadi mirip Dursasana dan Burisrawa, jika marah akan mirip Baladewa dalam kisah pewayangan (hlm. 1089). Tak semua orang bisa bersuara seperti itu.

Dia kerap memperkenalkan diri sebagai Raden Mas Singomenggolo Jalmowono. Secara garis keluarga, Suyadi memang keturunan raden. Ayahnya pernah jadi patih di zaman kolonial Hindia Belanda. Jadi sah-sah jika ia mengaku diri sebagai “Pak Raden”.

Suyadi kecil merupakan anak yang suka menggambar. Pensil warna akrab dengannya. Selain hobi menggambar, dia juga suka membuat patung dari tanah liat atau lilin. Dia sering membayangkan dirinya memainkan ciptaannya sambil menembang. “Saya waktu kecil bercita-cita jadi dalang,” katanya dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (hlm. 1089).

Setelah dewasa, dia malah tak jadi dalang. Gelar Doktorandus-nya diperoleh dari jurusan Seni Rupa ITB dan sempat jadi dosen luar biasa di almamaternya itu. Dia pernah berkeinginan memiliki studio animasi dan film boneka. Selain itu, melanjutkan kegemaran menggambarnya dari kecil, dia menjadi pembuat ilustrasi cerita anak sejak kuliah.

Ia pernah terpilih sebagai ilustrator buku anak terbaik dalam acara Tahun Buku Internasional 1972. Setelah tiga tahun ia belajar perfilman di studio Prancis, Les Cineastes Associes dan di Les Films Martin Boschet, dia menjadi art director yang ikut memproduksi film seperti Lampu Merah, Pemburu Mayat, Kabut di Kintamani, dan Cobra.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di perancis, Ia pulang ke Indonesia. Kemudian dari tahun 1965 hingga 1975, Drs. Suyadi menjadi staf pengajar di Institut Teknologi Bandung untuk jurusan seni rupa dalam seni ilustrasi. Drs. Suyadi juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta, disana Ia khusus mengajar animasi.

Pada tahun 1980, Suyadi menciptakan tokoh Si Unyil. Penamaan Unyil sendiri diambil dari kata Mungil yang berarti kecil. Setelah menciptakan tokoh Si Unyil kemudian ia menciptakan tokoh antagonis dalam serial sandiwara boneka Si Unyil yang waktu itu tayang di TVRI bernama Pak Raden, dan yang menjadi pengisi suara tokoh Pak Raden tersebut adalah Drs. Suyadi sendiri.

Karena itu, kemudian Drs.Suyadi lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Selain kedua tokoh tersebut, Drs. Suyadi juga menciptakan tokoh lain yaitu Pak Ogah dan Bu Bariah. Dalam serial drama boneka tersebut selain menjadi pencipta dan pengisi suara, Drs. Suyadi juga menjadi Art director.

Serial Si Unyil tersebut sangat disukai oleh anak-anak pada tahun 1981 yang tayang di TVRI setiap hari minggu, serial tersebut diproduksi oleh PPFN sampai tahun 1993. Namun hingga sekarang Si Unyil masih tayang di televisi untuk memberikan informasi yang mengedukasi.

Sejumlah penghargaan di bidang pustaka ia dapatkan atas karya-karyanya, Dia dianugerahi penghargaan Ganesha Widya Jasa Utama karena jasa dan prestasi yang menonjol sebagai Pelopor Bidang Industri Kreatif Klaster Animasi dan Tokoh Animator di tingkat nasional. Penghargaan tersebut diterimanya pada peringatan 92 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia di Aula Barat ITB. Pada tahun 2008 yang lalu, ia masih sempat mengeluarkan buku anak-anak yang diberi judul ‘Petruk Jadi Raja’.

Selama hidupnya, Pak Raden atau Drs. Suyadi terus memperjuangkan hak cipta dari boneka Si Unyil ciptaannya, sebab hak cipta dari Boneka tersebut dipegang oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN) yang memproduksi serial Si Unyil ketika itu.

Baca Juga:   Wali Kota Cimahi Ditangkap KPK Terkait Proyek Rumah Sakit

Mengenai hak cipta tersebut, pada 14 Desember 1995, Drs. Suyadi membuat kesepakatan penyerahan hak cipta atas nama Suyadi kepada PPFN. Dalam perjanjiannya, terdapat kesepakatan kedua belah pihak mengenai hak cipta Si Unyil yang berlaku selama lima tahun terhitung sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut.

Akan tetapi, PPFN menganggap bahwa perjanjian penyerahan hak cipta tersebut tetap pada PPFN untuk selamanya. Pak Raden bahkan tak pernah mendapatkan royalti dari boneka yang ia ciptakan tersebut, hal itu juga yang membuat kehidupannya memprihatinkan.

Menuntut hak hingga tutup usia

Karakter si Unyil pertama kali diproduksi PPFN pada 1979. Si Unyil merupakan ide Direktur PFN saat itu, G. Dwipayana. Untuk memfilmkannya, G. Dwipayana menggandeng Pak Raden dan Kurnain Suhardiman untuk menggarap boneka dan naskah si Unyil. Saat itu status Pak Raden dan Kurnain bukan sebagai pegawai PFN.

Pada Desember 1995, Pak Raden menandatangani perjanjian dengan PFN untuk menyerahkan pengurusan hak cipta atas boneka Unyil kepada PFN. Perjanjian itu berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani. Menurut Pak Raden, beberapa hari kemudian, perjanjian serupa muncul dengan tanggal yang sama: 14 Desember 1995, tapi tidak mencantumkan masa berlakunya.

Tiga tahun kemudian, Pak Raden menandatangani surat penyerahan hak cipta atas 11 lukisan boneka, termasuk si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, dan lain-lain. Pada 15 Januari 1999, PPFN mendapat surat penerimaan permohonan pendaftaran hak cipta dari Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek Departemen Kehakiman atas 11 tokoh itu. Namun, hingga saat ini, Pak Raden belum menerima sepeser pun dari hak cipta boneka yang diciptakannya.

Direktur Perum PFN kala itu Endarjono mengatakan hak cipta si Unyil sepenuhnya milik PPFN dan sudah terdaftar di Departemen Kehakiman. Sejauh ini PPFN belum memikirkan akan mengembalikan hak cipta kepada Pak Raden.

PPFN berdalih hak cipta tidak bisa dilimpahkan kembali kepada Pak Raden karena biaya pembuatan karakter tokoh Unyil sepenuhnya ditanggung PFN. “Kami sih sekarang ini berdasarkan fakta-fakta hak cipta ada di sini. Tapi, sejauh ini, tidak ada itu. Karena ada surat pelimpahan dari Pak Raden ke PFN,” kata Endarjono.

Hingga akhir hayatnya, pak raden terus berharap agar hak cipta Tokoh Si Unyil kembali kepadanya. Pada usia senja, Pak Raden lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya untuk menghibur warga sekitar terutama anak-anak di jalan Petamburan II No, 27, Tanah Abang Jakarta Pusat.

Dan pada tanggal 30 Oktober 2015 tepat hari ini 5 tahun ynag lalu, Pak Raden atau Drs. Suyadi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Pelni karena penyakit Sendi atau Osteoarthritis yang ia derita. Keesokan harinya jenazah Pak Raden dimakanmkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password