Sejarah 22 Oktober: Peringatan Hari Santri Nasional, Bermula dari Resolusi Jihad Kaum Sarungan

Logo Hari Santri Nasional 2020

Bosscha.id – Selang beberapa pekan pasca dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno, arek-arek Suroboyo dan sekitarnya menyadari bahwa dengan menyerahnya Jepang kepada Sukutu itu ternyata membuat NICA Belanda bersama Sekutu datang kembali untuk menguasai Indonesia.

Dan diantara mereka yang tidak suka akan kehadiran militer asing kawan NICA itu terdapat kaum sarungan. Tak lain mereka adalah kaum santri yang berasal dari pesantren-pesantren tradisional yang beririsan dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Kaum santri ini merasa jika tentara asing datang maka perang tak bisa dihindarkan. Di Surabaya yang panas pada penghujung Oktober 1945, para kiai pun berkumpul. Mereka mantap berdiri di belakang Republik Indonesia. Setidaknya kala itu ada Wahid Hasyim, putera dari Rais Akbar NU Hadratusyaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari, adalah Menteri Agama Republik Indonesia sejak September 1945. Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari sendiri merupakan ulama besar yang memilki pengaruh sangta besar sejak zaman kolonial hingga pendudukan Jepang.

Seperti ditulis Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994: 52), wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci). Maka pada tanggal 22 Oktober 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu, lahirlah apa yang dikenal saat ini dengan nama Resolusi Jihad. 

Seperti tertuang dalam pernyataan NU bahwa umat dan ulama di berbagai wilayah sangat memiliki harapan yang sama yaitu tegaknya syariat agama Islam dan mempertahankan kedaulatan negeri. Niat itu tertuang dalam pertimbangan Resolusi Jihad bahwa “mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai satu kewadjiban bagi tiap orang Islam.”  

Pada penghujung Oktober 1945, pertempuran melawan Jepang pun sudah terjadi di beberapa tempat selain di Surabaya. Kaum santri pun ikut terlibat dalam adu otot melawan tentara asing. Meski tidak punya pasukan yang kemampuan tempurnya setara dengan tentara Jepang, mereka setidaknya memiliki pemuda-pemuda yang siap bertempur yang dilatih selama masa pendudukan.

Baca Juga:   Cuti Bersama Dipangkas Pemerintah, Pengusaha Wisata di KBB Pasrah

Seperti ditulis oleh Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 (1996: 21) menyebut dari NU ada milisi bernama Hizbullah yang dilatih secara militer oleh tentara Jepang. Sementara Hairus Salim dalam Kelompok Para Militer NU (2004: 47) mencatat bahwa Hizbullah sangat berperan di masa Revolusi.

Resolusi Jihad ini ternyata memiliki dampak besar di Jawa Timur.  Sehingga pada hari-hari berikutnya, ia menjadi pendorong keterlibatan banyak pengikut NU untuk ikut andil dalam Pertempuran bersejarah 10 November 1945. 

Keikutsertaan para santri NU dalam pertempuran tersebut setidaknya tergambar dalam sebuah film yang disutradarai oleh Rako Prijanto yang berjudul Sang Kiai (2013). Dalam film tersebut, secara fiksional digambarkan bahwa orang yang menembak mati Brigadir Jenderal Mallaby di Jembatan Merah meru[akan santri NU. Kematian Mallaby itulah yang membuat marah tentara Inggris dan kemudiann menjadi pemicu Pertempuran 10 November 1945.

Bung Tomo bahkan diketahui meminta nasihat kepada Hadratussyaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Bung Tomo pula uang kemudian dikenal sebagai orator dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membakar semangat arek-arek Surabaya, salah satunya dengan pekikan “Allahu Akbar”.

Dan berdasar pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 itulah akhirnya kini dikenang sebagai Hari Santri Nasional. Presiden Joko Widodo menetapkannya secara resmi peringatan ini lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Keppres tersebut ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password