Meneladani Sifat Al-Ghazali, Ulama yang Tak Pernah Berhenti Mencintai Ilmu

Dok.Istimewa

2020 merupakan tahun kelima diperingatinya hari santri nasional, sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 silam. Bertepatan dengan momentum ini, semoga kita bisa menjadikan momen tersebut sebagai re-evaluasi terhadap kesantrian kita.

Apakah kita telah cukup belajar dari guru-guru atau Kyai-kyai kita di pesantren? Atau sekedar berbasa-basi dalam mengaji?, hanya demi kebutuhan nilai di atas kertas semata. Jika benar seperti itu, nampaknya kita memang harus melakukan re-evaluasi terhadap kesantrian kita.

Karena melangkah maju dan keluar dari “penjara” sistem pendidikan di negeri ini jauh lebih penting untuk seorang santri. Maka dari itu menjadi santri saat ini harus benar-benar memahami nilai dasar agama, spiritualitas yang kuat dan memiliki kualitas intelektual yang baik.

Karena Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat mulia. Ibarat kata, ilmu adalah perhiasan bagi si empunya. Saking pentingnya, Abu Darda sekali kesempatan pernah berseloroh “bagiku belajar sepanjang malam jauh lebih utama ketimbang jungkir balik salat semalaman suntuk.”

Pada kisah yang lain, Nabi Sulaiman diceritakan pernah diperintah Allah untuk memilih harta, ilmu, atau kekuasaan. Pilihannya jatuh kepada ilmu dan Sulaiman akhirnya diberi kekuasaan sekaligus kekayaan. 

Cerita-cerita seperti ini sangat populer dalam kitab-kitab klasik, salah satunya yang diabadikan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali yang diterbitkan pada abad ke-12. Karena itu, belajar kembali kepada perjalanan Imam al-Ghazali rasanya perlu dilakukan, oleh santri saat ini.

Mengutip perkataan Eric Linn Ormsby, seorang sastrawan asal Amerika, mengatakan: “For the breadth, subtlety and influence of his work, Ghazali deserves to be counted among the great figures in intellectual history, worthy to be ranked with Augustine and Maimonides, Pascal and Kierkegaard”. (karena keluasaan, ketajaman dan pengaruh karyanya, Ghazali pantas dihitung di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah intelektual, layak disandingkan dengan Augustine dan Maimonides, Pascal dan Kierkegaard).

Raihlah intelektual imam al-Ghazali dimulai dari sebuah madrasah. Ia dan adiknya, telah menjadi yatim-piatu sejak kecil. Awalnya mereka dititipkan pada seorang sufi, teman ayahnya sebelum meninggal. Kemudian sufi itu memasukkan al-Ghazali bersaudara ke dalam madrasah karena tidak mampu menghidupi mereka.

Imam al-Ghazali mengakui bahwa tujuan awal mereka masuk madrasah bukan karena Allah, tapi untuk mendapatkan makanan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka malah semakin tenggelam dalam aktivitas belajar yang perlahan-lahan membuat mereka menjadi pecinta ilmu.

Dibandingkan dengan keadaan Imam al-Ghazali, kita tidak ada apa-apanya. Imam al-Ghazali tidak pernah mendapatkan kiriman uang ketika sedang belajar di pondok pesantren. Untuk mendukung kebutuhan belajarnya, Ia harus berjuang siang malam, mencari makan dan uang agar dapat membeli perlengkapan belajar.

Baca Juga:   Wali Kota Cimahi Ditangkap KPK Terkait Proyek Rumah Sakit

Namun Kesulitan hidup tidak menghentikannya untuk tetap rajin menuntut ilmu. Ia berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk memperluas cakrawala pengetahuannya. Dan ini berbanding terbalik dengan fenomena zaman sekarang. Hasrat santri saat ini, untuk memperluas pengetahuan pun terbilang rendah.

Melihat ketekunan dan teladan dari proses belajar dan kehidupan Imam al-Ghazali. Sebagai santri yang hidup di era sekarang, nampaknya kita harus mengikuti jejak imam al Ghazali, walau sekedar langkah kecil tapi patut untuk dicoba.

Pelajaran penting yang harus kita tiru dari imam al Ghazali adalah, beliau tidak pernah berhenti belajar sampai kewafatannya. Ia berpindah dari satu guru ke guru lainnya untuk mendapatkan ilmu yang belum dikuasainya, bahkan setelah meninggalkan jabatan rektornya di Madrasah Nizamiyyah, sebuah jabatan intelektual paling prestisius saat itu, Ia terus mencari guru dan mempelajari segala hal selama bertahun-tahun lamanya.

Selain itu, Imam Al-Ghazali pun melahap semua pengetahuan yang mungkin Ia dapatkan saat itu, beliau mempelajari semua disiplin ilmu pengetahuan dari mulai filsafat, logika, mantik, geometri dan lain sebagainya. Mengenai hubungan Imam al-Ghazali dengan sains, banyak orang yang salah memahami. Mereka sering menyebutnya sebagai anti-sains, bahkan ada yang menjadikan Imam al-Ghazali sebagai tersangka kemunduran Islam.

Dan aspek yang paling penting dari imam Al Ghazali adalah peninggalan karya-karyanya. Selain dari murid-muridnya, nama Al-Ghazali dikenal sampai sekarang karena karya-karyanya. Al Ghazali seorang penulis. Ia membangun epistemologinya sendiri dan memberikan paradigma baru. Ilmu tauhid yang semula sekedar mengenal Allah secara teoritis dibawanya ke wilayah aplikatif. Misalnya, jika seorang yang hendak mengenal sifat al-Rahmân Allah, Ia harus belajar mengasihi. Cara terbaik mengenal Tuhan adalah dengan mengaplikasikan sifat-sifatNya yang terpuji.

Semoga pada momentum Hari Santri Nasional ini, para santri di seantero negeri dapat meneladani cara imam al Ghazali belajar. Mungkin masa depan ilmu pengetahuan dalam Islam akan terlihat menjanjikan. Karena dewasa ini, jarang kita jumpai ulama atau santri yang multi disipliner.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password