Sejarah 21 Oktober: Jadi Korban G30S, Jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono Ditemukan

Bosscha.id – Sejarah kelam terkait aksi penculikan dan pembunuhan Gerakan 30 September ternyata tak hanya terjadi di Jakarta saja, tapi juga di Yogyakarta. Di sana, komandan Korem 072/Pamungkas dan kepala stafnya pun ikut menjadi korban dari gerakan tersebut. 

Seperti ditulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massa (2008), “Mayor Muljono memimpin pasukan pemberontak menggerebek rumah komandan mereka, Kolonel Katamso. Mereka menculiknya dan juga kepala stafnya, Letnan Kolonel Sugiyono (dalam ejaan alama Sugijono), yang kebetulan ada di rumah itu ketika para pemberontak datang. Mereka membawa dua perwira itu ke sebuah kota kecil di utara Yogyakarta, Kentungan, dan menahan mereka di tangsi batalyon militer di sana. Kemudian mereka membunuh kedua perwira tersebut.”

Namun, ada versi lain pula yang menyebut bahwa keduanya ditangkap gerombolan di tempat berbeda. Kala itu, Sugijono belum lama pulang dari luar kota. Dia tertangkap ketika masuk ke markas korem Yogyakarta. Semula, ia hendak bertemu Kolonel Katamso yang akhirnya juga ditangkap gerombolan. 

Mereka berdua sama-sama ditahan di Batalyon Kentungan sebelum dibunuh pada 2 Oktober 1965 dengan cara dihantam kunci mortir dari belakang. Setelah keduanya tak bernyawa, mereka pun dikubur hingga hampir tiga minggu. Jenazah keduanya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965, tepat hari ini 55 tahun silam. Dua perwira yang menjadi korban itu pun turut jadi legenda Pahlawan Revolusi asal Yogyakarta. 

Sebelum jadi Pahlawan Revolusi, Letnan Kolonel Sugijono barangkali hanya dikenal di sekitar kota Yogyakarta. Perwira kelahiran Ponjong, 12 Agustus 1926 ini disebut dalam beberapa buku sejarah pahlawan nasional, salah satunya Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI(1979) terbitan Pusat Sejarah ABRI. Ia pernah jadi ajudan Letnan Kolonel Soeharto di zaman revolusi. Sugijono juga dianggap turut beraksi dalam Serangan Umum 1 Maret. 

Usai Revolusi, ketika pasukan Soeharto dikirim ke Sulawesi Selatan, Sugijono menjadi tentara. Sebagai eks anggota Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta), ia kemudian ikut Badan Keamanan Rakyat (BKR), lalu Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sugijono yang gagal jadi guru itu, menurut Pahlawan Center, memulai karier di Peta dengan pangkat bundancho (komandan regu), pangkat setara sersan.

Baca Juga:   Pria Kenya Hidup Lagi Saat Akan Dibalsem di Kamar Mayat

Sedangkan Kolonel Katamso Darmokusumo merupakan pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Sragen pada 5 Februari 1923. Katamso menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas, saat berusia 42 tahun.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah, Katamso Darmokusumo melanjutkan pendidikan tentara Peta. Katamso pun kemudian bergabung dengan TKR.

Katamso pun pernah bertugas memimpin pasukan untuk mengusir Belanda pada saat terjadi agresi militer.

Ketika kemerdekaan Indonesia telah diakui di mata internasional, terjadi pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah. Katamso pun kemudian diberikan tugas untuk melumpuhkan pemberontakan tersebut bersama pasukannya.

Tugas sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta Ia emban pada tahun 1963. Pada saat itu, PKI telah menyebar di kalangan masyarakat. PKI bahkan mengincar para pemuda intelektual untuk bergabung dan menjadi kekuatan PKI.

Katamso Darmokusumo yang mengetahui hal ini pun kemudian melakukan pembinaan kepada mahasiswa di Solo dan memberikan pelatihan militer untuk meningkatkan kecintaan kepada Republik Indonesia.

PKI tidak hanya membunuh perwira yang berada di Jakarta, namun juga para perwira di daerah, termasuk di wilayah Kodam VII/Diponegoro. Pada saat itu, PKI berhasil menghasut TNI di Yogyakarta dan menguasai RRI Yogyakarta.

Atas kejadian tersebut, markas Korem 072 di bawah Komando Katamso Darmokusumo melakukan pembentukan Dewan Revolusi. Katamso Darmokusumo yang tidak menyetujui adanya PKI pun menjadi sasaran penculikan.

Oleh karena itulah kemudian aksi penculikan dan pembunuhan pada Katamso Darmokusumo dan Sugijono pun terjadi.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password