Sejarah 17 Oktober: Menuntut Parlemen Dibubarkan, Tentara pun Mengarahkan Moncong Meriam ke Istana,

Dok.Istimewa

Bosscha.id – Hari ini 68 tahun silam, sekira pukul empat subuh militer mengamankan tempat-tempat strategis: kantor RRI, gedung DPRS-MPRS, dan stasiun-stasiun kereta api. Lalu pada pukul delapan pagi, kerumuman massa pun menjalar; mereka diangkut dari pabrik-pabrik di luar kota, sisanya dari Jakarta. Mereka dikelola jagoan-jagoan Betawi, dan tentara lah yang mengorganisir demonstrasi itu, dengan dukungan tank dan artileri, bergerak ke istana presiden, menuntut pembubaran parlemen.

Peristiwa yang terjadi tepatnya pada tanggal  17 Oktober 1952 itu berakar dari pertentangan antara sipil-militer pasca kemerdekaan. Pada masa Kabinet Wilopo, pimpinan TNI berniat mereorganisasi dan rasionalisasi militer untuk menanggalkan mentalitas tentara gerilya menjadi tentara profesional. Proses ini akan diikuti pemberhentian hampir 40 persen personel TNI sebagai dampak pemangkasan anggaran.

Pagi itu, ajudan setia Bung Karno, Mangil Martowidjojo, terkejut ketika tiba di istana. Seperti ditulis dalam Kesaksian Tentang Bung Karno (1999), Mangil bersaksi: “Saya kaget, melihat di depan istana, sejumlah meriam, dengan moncong mengarah tepat ke Istana Negara.” 

Awalnya Mangil bahkan tak diperbolehkan masuk ke istana oleh para pasukan itu. Tak hanya meriam di depan istana saja yang dilihat Mangil. Ketika Ia lewat ke belakang istana, “Saya semakin kaget melihat beberapa panser berjajar di tepi sungai, meriamnya diarahkan tepat ke depan istana”, ungkap Mangil.

Di sisi lain, dalam istana pagi itu Presiden Sukarno sedang berolahraga pagi. Ia melakukan olahraga ringan berupa jalan kaki keliling istana. Sebagai pengawal Sukarno sejak zaman revolusi, Mangil pun mencari tahu kekuatan pasukan lapis baja pengepung istana itu. Salah seorang bawahannya, Pembantu Letnan I Mimbar, dia diperintahkan untuk mencari tahu meriam-meriam itu, baik kendaraan lapis baja atau meriam tarik, apakah berpeluru atau tidak. 

Tidak butuh waktu lama bagi Peltu Mimbar untuk mengumpulkan informasi. Ia segera melapor pada Mangil dan memastikan meriam-meriam itu terisi peluru yang siap ditembakkan. Ketika Sukarno telah selesai berolahraga, halaman istana sudah ramai dengan para demonstran. “Bubarkan Parlemen! Bubarkan Parlemen!” teriak mereka. 

Mangil pun ingat betul, pagi itu juga Kolonel Nasution, Kolonel Tahi Bonar Simatupang, Letnan Kolonel Siswondo Parman, dan beberapa perwira lain sudah datang di Istana. Mereka diterima Mayor Sugandhi. Sementara itu, Mangil melihat seorang perwira yang tampak gelisah di depan pos jaga Istana. Mangil segera menyuruh bawahannya mengusir perwira itu. Setelah pengusiran itu, sang bawahan menghadap Mangil lagi.

“Tugas sudah saya laksanakan, namanya Kemal Idris, Mayor Angkatan Darat,” lapor si bawahan yang bernama Agen Polisi Pardi kepada Mangil. 

Sementara perwira-perwira yang datang bersama Nasution dan Simatupang pun ditemui oleh Sukarno. Mereka tidak hanya mengeluhkan kelakuan parlemen yang dianggap terlalu mencampuri urusan militer, mereka juga menyoroti gontok-gontokan politikus sipil di parlemen. Bagi mereka, gontok-gontokan politikus di parlemen sangat tidak produktif karena mengakibatkan kabinet jatuh bangun dan tidak bisa bekerja dengan baik.

Baca Juga:   Sejarah 28 Oktober: Kongres Pemuda, Kali Pertama Lagu Indonesia Raya Berkumandang

Setelah berbincang-bincang sebentar, Sukarno pun keluar istana dengan diikuti beberapa pengawal. Dan saat hendak menuruni tangga Istana, Sukarno pun memerintahkan hanya Mangil yang boleh mengikutinya, sementara pengawal lain tetap di istana. Dengan berjalan kaki, Sukarno mendatangi para demonstran dan memberikan jawaban yang begitu mengecewakan demonstran. 

“Pokoknya, saya tidak mau jadi diktator. Jangan paksa saya membubarkan parlemen. Saya tidak akan pernah mau…” tegas Sukarno dalam volume suara nyaring. 

Mendengar ucapan yang tegas dan jelas itu, para demonstran hanya diam tak berkata-kata. Tak ada juga yang menyanggah perkataan Sukarno, apalagi ngotot dan berkeras dengan tuntutan membubarkan parlemen. 

“Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno!” teriak massa yang tak jelas dari mana asalnya itu, seolah mereka lupa pada tuntutan awal mereka yang menuntut pembubaran parlemen yang sebelumnya mereka teriakkan. 

Saat itu Sukarno sebenarnya marah kepada Nasution, namun Ia tidak menyalahkan tuntutan nasution dan kolega-kolega Angkatan Daratnya itu. Dan seperti ditulis dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966), Sukarno menyebut cara Nasution tak bisa dibenarkan. 

“Sukarno sama sekali tidak akan menyerah karena paksaan. Tidak kepada Belanda dan tidak kepada meriam Tentara Nasional Indonesia,” tulis Si Bung Besar itu.

Pasca kejadian itu, Nasution pun harus rela kehilangan jabatan KSAD. Kemal Idris juga menjadi perwira buangan setelah peristiwa itu. Karier Kemal Idris pun terhenti meski sempat dikirim untuk misi tentara perdamaian ke Afrika. Namun, karena krisis di Angkatan Darat tetap berkepanjangan, dan sejumlah alasan politis lainnya, pada 1955 Nasution pun diaktifkan kembali dan menjabat KSAD seperti sebelumnya. 

Jauh setelah 17 Oktober 1952, tentu saja parlemen dijauhkan dari militer. Hanya Presiden yang punya hak penuh untuk memilih petinggi Angkatan Darat, juga angkatan-angkatan lain di TNI. Juga menggerakkan semua kekuatan militer. Sudah menjadi keharusan bagi militer di negara berdemokrasi untuk tunduk kepada supremasi pemerintahan sipil.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password