Sejarah 14 Oktober: Pertempuran Lima Hari, Menjaga Harga Diri Negeri Pasca Proklamasi

Dok.Istimewa

Bosscha.id – Setelah kota Hirosima dan Nagasaki dibom atom oleh tentara Sekutu pada 14 Agustus 1945, Jepang pun akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Lalu, tentara Sekutu menugaskan kepada Komandan South East Asian Command (SEAC) atau Komandan tentara Sekutu Asia Tenggara, Laksamana Madya Lord Louis Mounbatten untuk membebaskan Indonesia dari genggaman Jepang.

Setelah itu tentara Sekutu yang berada di Asia Tenggara pun membentuk Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) untuk mendaratkan tentara Sekutu di Indonesia bagian Barat. Pendaratan tersebut pun terlaksana dibawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Phillips Christison.

AFNEI pun mendaratkan tiga pasukannya, sebanyak tiga divisi, yaitu Divisi India XXVI ke Sumatera, Divisi India ke XXIII ke Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan Divisi India ke V ke Jawa Timur.

Diluar dugaan ternyata yang mendarat terlebih dahulu di Jawa adalah Divisi India XXIII yang dipimpin oleh seorang panglima, Mayor Jenderal D.C. Hawthorn. Selanjutnya Divisi India XXIII yang terdiri dari tiga brigade dibagi-bagi tugasnya masing-masing. Brigade “Bethel” dikirim ke Semarang, Brigade “Mc Donald” dikirim ke Bandung, serta Brigade ke-49 didaratkan ke Surabaya.

Kota Semarang Pasca Kemerdekaan

Beberapa hari pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, keadaan kota Semarang agak berbeda dengan kota-kota lain. Semua kekuatan pemuda Semarang dikerahkan untuk menghadapi penyerahan senjata oleh militer Jepang, kepada para pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Semarang.

Namun karena beberapa sebab, penyerahan senjata tersebut gagal dilakukan. Hal inilah yang kemudian membuat meletusnya pertempuran yang disebut Pertempuran Lima Hari di Semarang. Faktor utama penyebab terjadinya Pertempuran ini adalah karena para pemuda pejuang yang saat itu merasa terikat oleh perintah tentara Sekutu guna mempertahankan ‘status quo’ di daerah-daerah yang mereka duduki. Mereka bahkan juga mendapatkan ancaman hukuman apabila hal tersebut tidak mereka laksanakan.

Para pemuda pejuang juga kurang pandai memanfaatkan kelemahan psikologis tentara Jepang yang telah patah semangat untuk menyerah kepada Indonesia dengan jaminan fisik keselamatan. Saat itu, rakyat Indonesia yang  sudah sangat membenci Jepang, mereka langsung menyerang pasukan Jepang. Padahal, sesungguhnya mereka bersedia menyerah kepada pihak Indonesia.

Sering juga terjadi saat itu, baik tentara Jepang maupun tentara pejuang, terbawa emosi dan mudah terpancing. Satu letusan kecil senjata yang tidak disengaja pun bisa menimbulkan kemarahan dan berakhir dengan pertempuran hebat yang menimbulkan banyak korban.

Pertempuran ini diawali dengan peristiwa mulai mencuatnya berita bahwa akan ada penyerahan senjata oleh para petugas pemerintah Jepang. Namun, para pemuda pejuang beserta BKR akan mengambil alihnya.

Sebagian senjata telah dapat dikumpulkan dan kemudian dipindahkan ke suatu tempat di gedung sekolah di lereng bukit bernama Bergota. Sayangnya, ketika pimpinan BKR Laut Semarang dan pemerintah RI setempat bersama para pemuda pejuang berusaha menghubungi Kido Butai atau pasukan elit Jepang di Jatingaleh untuk menyerahkan senjata yang masih mereka kuasai, sikapnya tidak kooperatif. Dari sanalah keadaan pun memanas.

Kondisi pun makin panas ketika adanya peristiwa perobekan bendera Indonesia, Merah Putih oleh seorang tentara Jepang. Kejadian itu pun sontak membuat amarah rakyat tak terkendali.

Baca Juga:   Usai Kalahkan Gaethje, Khabib Nurmagomedov Beri Pesan Menyentuh

Penguasa Jepang pun mengetahui bahwa para pemuda pejuang sangat berapi-api untuk melawan, keadaan ini tidak membuat mereka takut dan menyerahkan senjata. Justru sebaliknya, mereka memerintahkan Kido Butai, untuk turun bergerak ke utara menguasai kembali kota Semarang dan berusaha merebut kembali senjata yang telah dikuasai BKR dan para pemuda pejuang.

Pada 14 Oktober 1945, tepat hari ini 75 tahun silam sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi.

Di hari yang sama juga, tepatnya 06.30 WIB, pemuda mendapatkan intruksi untuk mencegat kendaraan Tentara Jepang.

Kemudian para pemuda di Semarang berhasil menyita mobil sedan dan melucuti senjatanya. Hingga sore, pemuda Indonesia bergerak mencari tentara Jepang dan menjeblokaskannya ke dalam Penjara Bulu.

Saat itu terdengar kabar bahwa Jepang memberi racun ke sumber air “reservoir siranda” dan membawa 8 polisi yang tadinya berjaga di dekat sumber mata air.

Dr Kriadi mendapat telepon dari Rs. Purusara untuk memeriksa kandungan air di Reservoir Siranda.

Dr Kariadi langsung menuju ke sumber mata air tanpa memperhatikan keselamatannya, karena pada saat itu Jepang sedang gencar menyerang rakyat Semarang.

Namun, ketika Dr Kariadi menuju Reservoir Siranda, mobil yang ditumpanginya dihadang oleh tentara Jepang tepatnya di Jalan Pandanaran. Dr Kariadi pun ditembaki dan akhirnya terbunuh.a

Akibat aksi penembakan itu amarah rakyat Semarang pun makin panas. Pada 15 Oktober 1945 pukul 03.00 WIB, Mayor Kido memerintahkan 1000 orang tentara Jepang untuk melakukan penyerangan ke pusat kota Semarang.

Pertempuran tersebut berlangsung sengit, sehingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit dari kedua belah pihak.

Sejumlah catatan menyebutkan lebih kurang 2.000 jiwa pemuda pejuang dan rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran itu. Sementara dari pihak tentara Jepang tidak kurang dari 1.000 anggota tentaranya tewas terbunuh.

Dengan gigih semua unsur Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Semarang, termasuk TKR Laut, beserta seluruh tenaga Laskar Rakyat Semarang, bahu-membahu menghadapi serangan tentara Jepang dalam pertempuran itu.

Pada 17 Oktober 1945 tentara Jepang mengumumkan untuk melakukan genjatan senjata, namun semuanya berbanding terbalik. Jepang malah melakukan serangan ke berbagai kampung di Semarang.

Pertempuran itu berlangsung hingga 19 Oktober 1945. Pertempuran itu berhenti ketika Gubernur Jawa Tengah Wongsonegoro dan pimpinan TKR berunding dengan komandan tentara Jepang. Proses gencatan senjata dipercepat, ketika Brigadir Jendral Bethel dan sekutu ikut berunding pada tanggal 20 Oktober 1945.

Begitu pertempuran lima hari di Semarang mereda, mendaratlah sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Belanda, Australia, Gurkha (Nepal), dan Sikh (India) di pantai Semarang Pasukan sekutu pun kemudian melucuti senjata dan menawan para tentara Jepang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password