Sejarah 12 Oktober: Oktoberfest, Pesta Bir yang Bermula dari Perayaan Penikahan

shutterstock

Bosscha.id – Sejak tahun 1810, setiap akhir September hingga awal Oktober, ucapan “aku akan pergi ke Wiesn” kerap terdengar dari mulut orang-orang di setiap penjuru Jerman. Makna ucapan itu ternyata sama halnya seperti sang pengucap ingin datang ke Oktoberfest untuk bersenang-senang.

“Wiesn” sendiri memiliki arti Theresienwiese, adalah sebuah tempat yang berada di Munchen, Jerman. Lalu, apa itu Oktoberfest?. Oktoberfest ialah sebuah festival bir tahunan terbesar di dunia yang digelar di Theresienwiese. Festival ini biasa berlangsung selama 16 hari, dari akhir September hingga awal Oktober, dan biasanya festival ini dihadiri sekitar enam juta orang dari segala penjuru dunia.

Oktoberfest sendiri pertama kali berlangsung pada 12 Oktober 1810, atau hari ini 210 tahun silam. Sebelum jadi pesta bir, Oktoberfest pada mulanya merupakan perayaan pesta pernikahanan antara Putra Mahkota Bavaria—kelak jadi Raja Ludwig I—dan Putri Theresa dari Sachsen Hildburghause.

Kala itu, untuk menjalin persatuan di Munchen, Ludwig I sengaja mengundang seluruh penduduk turut serta ke pestanya yang digelar di gerbang kota, yang kelak dikenal sebagai Theresienweise. Pesta pernikahan yang berlangsung selama enam hari itu pun lantas berubah jadi pesta rakyat: makanan tumpah ruah, sejumlah parade digelar, dan pacuan kuda menjadi daya pikat utamanya.

Menurut Jesse Greenspan dari History, pesta itu bisa dibilang sukses besar. Setiap harinya masyarakat Munchen selalu datang berbondong-bondong ke pesta dan pada hari pamungkas ada sekitar 10.000 orang yang menonton acara pacuan kuda. Maka pejabat kota kemudian mempunyai ide yang menarik: mereka ingin pesta rakyat serupa diadakan setiap tahun sekali di tempat yang sama dengan konsep yang berbeda. 

Ludwig I setuju dengan gagasan itu. Ia, yang mengagumi sejarah Yunani kuno, lantas ingin mengonsep pesta tersebut layaknya gelaran Olimpiade. Namun setelah Oktoberfest terus berjalan, konsep Ludwig ternyata berubah arah. Penyebabnya: bianglala, komedi putar, serta sirkus tentu saja lebih menyenangkan daripada pacuan kuda, lomba panjat pohon, serta lomba mengejar angsa. Selain itu orang-orang Munchen juga lebih suka minum bir untuk merayakan pesta.

Moses Wolff, dalam bukunya yang berjudul Meet Me in Munich (2013), bahkan menyebut bahwa tradisi minum bir orang-orang Munchen sudah berlangsung sejak lama. Jauh hari sebelum adanya Oktoberfest, penduduk Munchen sudah mempunyai pesta rakyat tahunan yang berhubungan dengan bir.

Pesta itu adalah pesta perayaan untuk menyambut musim baru pembuatan bir. Berlangsung pada bulan Oktober, dalam pesta tersebut para penduduk Munchen akan menghabiskan stok bir marzen, varian dari bir jenis lager, yang mereka punya. Konon mereka percaya bahwa marzen, yang mempunyai kandungan alkohol tinggi itu, bisa membantu mereka untuk melewati musim pembuatan bir dengan mudah.

Setelah konsep Olimpiadenya gagal, Ludwig I sebenarnya pernah mencoba membatasi bir dalam setiap perayaan Oktoberfest. Pada 1844, misalnya, ia menyiasati dengan cara menaikkan harga bir di Munchen.

Baca Juga:   Usai Kalahkan Gaethje, Khabib Nurmagomedov Beri Pesan Menyentuh

Namun, rencana kenaikan harga bir itu ternyata langsung mendapatkan tentangan keras dari penduduk Munchen. Penyebabnya, tulis Wolff, “orang-orang Munchen betah hidup tanpa banyak hal, tapi tidak bisa hidup tanpa bir.” Sejak peristiwa itulah Oktoberfest semakin identik dengan festival bir. Dan dalam gelaran Oktoberfest 1896, secara resmi tenda-tenda bir pun mulai ikut andil dalam acara.

Terdapat enam pabrikan bir di Munich yang menyediakan bir pada festival ini, yaitu Augustiner, Hacker-Pschorr, Hofbräu, Löwenbräu, Paulaner, dan Spaten. Di lokasi perayaan terdapat 14 titik yang menjadi lokasi gentong-gentong bir. Kemegahan dari festival ini kemudian diadopsi oleh berbagai negara.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password