Sejarah 8 Oktober: Dua Kepala Kerbau, Jadi Penanda Dibukanya Stasiun Jakarta Kota

Foto: Wikipedia

Bosscha.id – Hari ini 91 tahun silam, atau pada 8 Oktober 1929, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Andries Cornelies Dirk de Graeff meresmikan sebuah stasiun yang terletak di wilayah Batavia. Stasiun itu kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota.

Dahulu namanya lebih dikenal sebagai Stasiun Beos, yang merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan.

Stasiun Batavia Zuid dioperasikan oleh Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS). Dari nama perusahaan BOS itulah stasiun itu kemudian oleh orang Betawi disebut Beos. Tetapi, ada pula yang menyebut bahwa asal nama Beos itu dari frasa “Batavia en Omstreken” atau “Batavia dan sekitarnya”.

Nama ini muncul pada akhir abad ke -19, karena Batavia memiliki stasiun kereta api Batavia Noord (Batavia Utara yang yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang). Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Netherland Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan merupakan terminal untuk jalur Batavia- Buitenzorg (Jakarta – Bogor), yang pada tahun 1913 jalur Batavia – Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staats Spoorwegen (SS).

Batavia Zuid (Batavia Selatan), awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929.

Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran, para pegawai mengadakan upacara selamatan di stasiun lama dekat Pasar Ikan. Sementara, pada siang harinya dua kepala kerbau dikubur oleh Gubernur Jendral Andries Cornelies Dirk de Graeff.

Hal ini dilakukan untuk melindungi bangunan Stasiun Kota yang baru dari bencana dan marabahaya. Lokasi penguburan kepala kerbau tadi berada di antara tugu jam dan pintu masuk stasiun, dan lainnya di sisi belakang bangunan baru itu.

Bahkan surat kabar lawas Java Bode edisi 17 Oktober 1929 pun menulis tentang peresmian suatu stasiun yang sangat mengesankan dan merupakan salah satu yang terbaik di belahan dunia timur.

Denah stasiun baru itu berbentuk huruf T. Pintu utamanya terletak di kakinya sementara dua pintu masuk lain di masing-masing ujung lengannya. Bangunan utama stasiun itu berlantai dua dan difungsikan sebagai kantor. Terdapat galeri luas yang memudahkan gerak pekerja dan penumpang yang datang.

Baca Juga:   Sejarah 31 Oktober: Lika-liku Pahatan Wajah 4 Presiden Amerika di Gunung Rushmore

Bangunan stasiun ini merupakan karya besar arsitek Belanda kelahiran Tulungagung – 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadupadankan dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.

Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan. Siluet stasiun Jakarta Kota dapat dirasakan melalui komposisi unit-unit massa dengan ketinggian dan bentuk atap berbeda.

Asal-usul Stasiun Jakarta Kota juga dapat dirunut pada permulaan pembukaan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg. Adalah perusahaan partikelir Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij alias NIS yang mendapat konsesi pembangunan jalur ini pada 1864. Pembangunan seksi pertama jalur ini dilakukan pada 1869 sepanjang 9,27 kilometer ini menghubungkan Stasiun Kleine Boom di Pasar Ikan dan Stasiun Gambir.

Jalur ini pertama kali melayani penumpang pada 1871. Seperti dilansir Harian Kompas (27/3/2014) menyebut bahwa di antara dua stasiun itu terdapat simpangan rel menuju Batavia Hoofdstation atau Stasiun Pusat Batavia. Dulu lokasinya berada di parkir Bank BNI Jakarta Kota saat ini.

Dan berdasarkan keterangan Olivier Johannes Raap dalam Sepoer Oeap Djawa Tempo Doeloe (2017, hlm. 26), jalur Kleine Boom-Batavia Hoofdstation sepanjang 3 kilometer kemudian di tutup pada 1885. Jadi Batavia Hoofdstation itu menjadi ujung paling utara jalur Batavia-Buitenzorg. Stasiun ini sendiri kemudian berganti nama jadi Stasiun Batavia Noord sejak 1913.

Pada akhir abad ke-19, pembukaan jalur Batavia-Karawang yang bermula dari Stasiun Beos membawa perubahan ekonomi bagi wilayah yang dilaluinya. Desa-desa sekitar Bekasi dan Karawang saat itu adalah produsen padi bagi Batavia. Adanya kereta api membuat distribusi beras jadi kian lancar.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password