Sejarah 7 Oktober: Bung Tomo, Sang Orator Pemberani yang Wafat di Tanah Suci

Dok.Istimewa

Bosscha.id – Jika bicara soal peristiwa pertempuran pada 10 November 1945, nama Bung Tomo tentu masuk ke dalam daftar sosok yang berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia melawan para penjajah bangsa Inggris ini.

Bung Tomo dikenal sebagai pengobar semangat tempur dalam Peristiwa bersejarah itu. Selain itu, dia juga merupakan salah satu pemimpin laskar yang sangat legendaris yang kemudian ditarik ke Kementerian Pertahanan.

Dia bukan pria berkepala cepak atau botak ala serdadu Jepang. Juga orang lulusan Akademi Militer. Sang pengobar pertempuran Surabaya ini merupakan pemuda gondrong yang bersenjatakan mikrofon. 

Namun tak hanya sekadar bermodal nekat, Bung Tomo merupakan orang yang berpikir. Sebagai pemuda yang pernah mengenyam bangku sekolah kolonial, dia tahu teknologi bernama radio. Lewat mikrofon dan pancaran Radio Pemberontakan milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tersiar pidato-pidatonya yang menjaga moral arek-arek Suroboyo.

Pidato-pidatonya lazim dibuka dengan “Bismillahirahmanirahim” dan pasti selalu dibumbui pekik: “Merdeka!” Tak lupa juga, di tengah rasa curiga terhadap orang-orang Ambon dan Sulawesi Utara yang dicap pro Belanda, dalam pidatonya ia malah mengatakan “Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi” terlebih dahulu sebelum menyebutkan daerah lainnya. Pidato terkenal ini lalu ditutup dengan: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!”. Tujuan semua ucapannya sama: memantik keberanian melawan tentara asing yang di atas kertas jauh lebih kuat. 

Seperti diungkap oleh William H. Fredrick dalam artikel pendeknya In Memoriam: Sutomo di jurnal Indonesia (April 1982) terbitan Universitas Cornell, Bung Tomo disebut pernah ikut organisasi pandu nasionalis era kolonial yaitu Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Sekitar tahun 1927, dia termasuk segelintir orang Indonesia yang meraih Scout Eagle. Di zaman pendudukan Jepang, anak Kartawan Tjiptowidjojo ini pernah menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru pada 1944.

Jauh sebelum Revolusi pecah, menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989), sejak 1938 Bung Tomo sudah menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat. Selain itu, setelah kantor berita Antara berdiri, dia menjadi pemimpin redaksi biro Surabaya. 

Dan terkait militer, dia diakui sebagai pendiri dan pemimpin dari Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di Surabaya. Dia memimpin di laskar itu dari 12 Oktober 1945 hingga Juni 1947. Laskar perjuangan ini punya anggota hingga ke Kalimantan. 

Bung Tomo sangat dihormati di kalangan laskar, paling tidak setelah 10 November 1945. Dia tentu saja bukan satu-satunya pemimpin di Surabaya saat itu. Di antara sekian perwira penting dalam palagan 10 November 1945, terdapat beberapa nama yang punya pengalaman terdidik di bidang militer, seperti Jenderal Mayor R Mohammad Mangunprodjo, Kolonel Sungkono, Kolonel Djonosewojo hingga Kolonel Moestopo. Namun tampaknya Bung Tomo yang tak berpangkat yang justru paling terkenal. Dia kemudian ditarik ke Markas Besar Umum Tentara Keamanan Rakyat dan setelah itu diberi pangkat militer Jenderal Mayor.

Sejak Juni 1947, laskar-laskar banyak dilebur masuk TNI. Kala itu Panglima Besar dijabat Soedirman dan Menteri Pertahanan dipegang Amir Sjarifuddin—yang dikenal sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Ada kisah menyebalkan antara Amir dengan Bung Tomo.

Menurut cerita istrinya di buku Bung Tomo Suamiku, “Ketika tiba di Tawangmangu (meninjau RRI) terjadi peristiwa yang tidak akan kulupakan seumur hidup. Mas Tom mendapat telegram dari atasannya, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Isinya pedes sekali. Bung Tomo harus memilih—tetap menjadi jenderal namun tak boleh berpidato—atau berhenti jadi jenderal tetapi bisa berpidato. Aku melihat Mas Tom Merenung.” 

Baca Juga:   Sejarah 26 Oktober: Akhir Kisah Mbah Maridjan, Kala Merapi Menelan Juru Kuncinya Sendiri

Sulistiana ingat betul bagaimana suaminya merenung. Lalu tiba-tiba ia membalikan badan dan dengan nada marah berkata: “Persetan, ora dadi jenderal ya ora patheken.” 

Maksud kalimat itu intinya: “Peduli setan, tak jadi jenderal juga tak apa-apa”. Kalimat itu menegaskan Bung Tomo enggan menuruti perintah Amir. Sang Perdana Menteri sendiri, tampaknya, menyampaikan pesan keras itu dilatari oleh kehendak agar militer tunduk pada pemerintah/pemimpin sipil. 

Wafat di Tanah Suci

Bung Tomo dikenal sebagai pribadi yang religius dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan ajaran agama. Dia tidak menganggap dirinya sebagai seorang yang saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama.

Bung Tomo pun wafat saat sedang menunaikan ibadah haji. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 7 Oktober 1981 tepat hari ini 39 tahun yang lalu. Ia wafat di Padang Arafah. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan bukan di Taman Makam Pahlawan. Namun di Pemakaman Umum di Ngagel, Surabaya, sesuai amanahnya.

Kendati Wafat sejak tahun 1981, namun gelar sebagai Pahlawan Nasional baru disematkan kepadanya pada 10 November 2008. Penyematan gelar itu dilakukan pemerintah setelah didesak Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) pada 9 November 2007.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008. Pemberian gelar itu disampaikan Menkominfo, Mohammad Nuh, kepada wartawan di Surabaya, Minggu 2 November 2008.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password