Sejarah 6 Oktober: Ade Irma Suryani Nasution, Bocah yang Wafat Karena Jadi Perisai Sang Ayah

Potret Ade Irma Nasution (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Peristiwa kelam G30S tentu menyisakan luka mendalam bagi Abdul Haris Nasution. Bukan hanya terluka karena harus kehilangan sahabat-sahabat seperjuangannya, Ia juga harus rela kehilangan putri kecilnya, Ade Irma Nasution.

Saat peristiwa terjadi, Ade Irma Suryani sedang tidur bersama AH Nasution dan ibunya Johana Sunarti Nasution. Pada pukul 03.30 WIB, AH Nasution dan istrinya terbangun gara-gara nyamuk. Namun, tiba-tiba terdengar kendaraan datang dan bunyi tembakan serta pintu rumah dibuka paksa.

Johana Sunarti Nasution sempat mengecek apa yang terjadi. Namun, tak lama Johana kembali ke kamar dan mengunci pintu. Johana pun berbisik kepada AH Nasution, “…ada Tjakrabirawa, kamu jangan keluar.” Ade Irma Suryani kemudian terbangun dan memeluk kaki ibunya. Karena tidak percana apa yang terjadi, AH Nasution membuka pintu untuk memastikan meski sempat ditahan istrinya.

Saat berada di depan pintu, pada jarak setengah meter tampak seorang prajurit dan langsung melepaskan tembakan. Adik Nasution, Mardiah berusaha menyelamatkan Ade Irma dengan menggendong ke kamar lain saat mendengar ada kegaduhan. Karena panik, Mardiah salah membuka pintu dan kemudian diberondong tembakan pasukan Cakrabirawa.

Pada malam petaka itu, punggung Ade Irma tertembus peluru. Seharusnya, yang menjadi sasaran adalah ayahnya. Namun, Jenderal A.H. Nasution lolos dari maut karena berhasil melarikan diri. Pintu pun langsung ditutup Johana Sunarti Nasution dan menggendong tubuh Ade Irma Suryani yang bersimpah darah.

Anak perempuan pertama Nasution yang juga kakak Ade Irma Suryani, Hendrianti Sahara, mengingat jelas peristiwa pada dini hari itu. “Saat kejadian, saya lari dari terjangan peluru,” kenangnya seperti dikutip dari tulisan Choirul Huda (7 Oktober 2015), dengan judul “50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Kakak Tercinta”.

“Kami mengumpet hingga suasana reda. Ketika itu, ayah sudah melompat ke kediaman tetangga, Kedutaan Besar Irak. Kaki saya mendapat luka. Tapi, yang lebih sedih ketika saya dan ibu melihat Ade bersimbah darah. Waktu itu saya masih berusia 13 tahun dan Ade baru 5 tahun,” tambah Hendrianti.

Baca Juga:   Libur Panjang, Bupati Aa Umbara Wanti-wanti Pengelola Objek Wisata Bahaya Covid-19

Meskipun tengah bersimbah darah, Ade Irma Suryani ternyata masih bernafas, bahkan, “ … masih bisa berbicara sama saya. ‘Kakak jangan menangis.’ Dan masih menanyakan, ‘Kenapa ayah ditembak, Mama?’ Itu masih saya lihat semua, suara dia itu. Dan saya melihat semua darah-darah dia itu. Saya masih ingat semua itu,” kenang sang kakak.

Tak hanya itu nasib tragis juga dialami ajudan Jenderal A.H. Nasution, yakni Letnan Satu Pierre Tendean, yang dibawa ke Lubang Buaya sebelum dibunuh. 

Ade Irma Suryani sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta. Namun sayang nyawanya tidak tertolong. Tepat 6 hari setelah penembakan keji itu, atau pada tanggal 6 Oktober 1965 tepat hari ini 55 tahun yang lalu ia pun menghembuskan nafas terakhirnya. 

Kendati masih anak-anak, dan belum menyumbangkan sesuatu kepada sejarah Indonesia, namun nama Ade Irma tak hilang begitu saja. Pemerintah membangun monumen di tempat peristirahatan terakhirnya, di kawasan Kebayoran Baru, persis di samping Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

Di depan nisan Ade Irma Suryani, terukir kata-kata mengharukan dari sang ayah, Jenderal A.H. Nasution yang tertulis. “Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu.”

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password