Sejarah 5 Oktober: Air Mata ABRI Saat Merayakan Hari Lahirnya yang Ke-20

Monumen Pancasila, mengenang 7 Jenderal yang terbunuh (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Pada pagi hari yang muram itu, 5 Oktober 1965, tepat hari ini 55 tahun lalu, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) merayakan hari jadinya yang ke-20. Namun, tidak ada hingar bingar kemeriahan dalam perayaan hari jadinya kala itu.

Sebaliknya, di hari itu institusi Angkatan Darat (AD) sedang sangat berduka. Pasalnya pada 1 Oktober 1965, lima perwira tinggi dan pucuk pimpinan AD diculik lalu dibunuh komplotan Letnan Kolonel Untung. Jenazah mereka ditemukan dalam kondisi buruk dan baru bisa diangkat dari sebuah sumur tua di kawasan lubang buaya pada 4 Oktober 1965.

Pagi itu, Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) di sisi Jalan Veteran, sebelah utara Monas, Jakarta, telah dipenuhi oleh manusia. Kebanyakan dari mereka berseragam militer. Pada upacara Hari Ulang Tahun ABRI tahun itu, di markas pusat Angkatan Darat, ada sesuatu yang berbeda.

Seperti ditulis Marieke Panjaitan Boru Tambunan dalam DI Panjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran (1997: 167), “Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 pagi di MBAD. Satu persatu jenazah dinaikkan ke atas panser, didampingi dan dikawal seorang perwira tinggi.”

Setiap peti jenazah dibawa dengan kendaraan lapis baja. Para pengawal bersenjata juga ada di sana. Saat orang-orang sudah ramai, datanglah ke upacara pemakaman itu seorang laki-laki berumur akhir 40-an dengan bertongkat dan dituntun beberapa orang agar bisa berjalan. Dia pernah lama jadi orang nomor satu di MBAD. Tentu saja banyak perwira di sana mengenalnya. Dia adalah Jenderal Abdul Haris Nasution.

Hari itu, Nasution didapuk menyampaikan sambutan. “Para prajurit sekalian, kawan-kawan sekalian, terutama rekan-rekan yang sekarang kami sedang lepaskan,” buka Nasution. 

Dia tentu berat mengucapkannya. Pasalnya Dia tengah terpukul hari-hari itu. Bukan karena dia baru saja lolos dari percobaan penculikan (yang bisa membuatnya terbunuh). Hari itu, putri Nasution, yang  juga terkena tembakan gerombolan penculik, sedang sekarat juga.

“Bismillahirrahmanirrahiim,” lanjut Nasution dengan emosional. “Hari ini hari angkatan bersenjata kita, hari yang selalu gemilang. Tapi yang kali ini, hari yang dihinakan oleh fitnahan, dihinakan oleh pengkhianatan, dihinakan oleh penganiayaan.” 

Tapi apapun kondisinya, hari perayaan itu tetaplah dirayakan. “Tetapi hari angkatan bersenjata kita, kita setiap prajurit tetap rayakan dalam hati sanubari kita, dengan tekad kita.”

Nasution meyakini mereka yang terbunuh sudah mengabdi setidaknya selama 20 tahun untuk Indonesia. Dalam pidato Nasution itu, terselip kalimat “fitnah lebih jahat dari pembunuhan, fitnah lebih jahat dari pembunuhan.”

Baca Juga:   Sejarah 27 Oktober: Dimulainya Kongres Pemuda II yang Jadi Pemantik Lahirnya Sumpah Pemuda

Di hari itu Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto pun hadir. Seperti dalam autobiografinya, Soeharto: Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989), ia ingat betul perkataan Nasution tentang fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. 

Tentang para Pahlawan Revolusi, Soeharto meyakini bahwa “mereka itu adalah perwira-perwira yang telah mendharmabaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan tanah air dan bangsa” (hlm. 136).

Dari MBAD, iringan jenazah Pahlawan Revolusi lalu melintasi Jalan Merdeka Timur, Cikini Raya, Salemba, Matraman Raya, Jatinegara, Cawang, Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jalan Pasar Minggu, lalu tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

“Jalan yang ditempuh tidak kurang dari 20 kilometer jauhnya, sedang kendaraan pengiring berurut-urutan sepanjang 5 kilometer,” tutur Marieke dalam bukunya (hlm. 167). 

Begitulah perayaan HUT ABRI pada 1965. Sepengakuan Marieke, “Peringatan HUT ABRI ke-20 tanggal 5 Oktober 1965 itu yang semula direncanakan dengan melakukan parade militer secara besar-besaran berubah menjadi suasana khidmat mengantar jenazah pahlawan yang gugur sebagai tumbal bagi tegaknya Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila.”

Seperti upacara pemakaman lain, acara ini juga berlinangkan air mata. Data yang dihimpun dalam Kronik ’65 (2017: 363-364) menyebut, Nyonya Martadinata, istri Laksamana Martadinata, juga menangis seperti yang lainnya. Putri mendiang Jenderal Ahmad Yani tak disangsikan lagi. Sementara itu, Untung Yani, putra Jenderal Ahmad Yani, yang masih berusia 12 tahun, pingsan ketika jenazah ayahnya dimasukkan ke liang kubur.

Keesokan harinya, pada 6 Oktober 1965, Jenderal Nasution yang belum sembuh luka di kakinya harus menerima kenyataan sedih. Putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, harus mengembuskan napas terakhir. Ade Irma kemudian dimakamkan di dekat Kantor Wali Kota Jakarta Selatan pada hari berikutnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password