Sejarah 2 Oktober: Soeharto Mulai Menentang Sukarno

Bosscha.id

Bosscha.id – Pasca diculiknya Letnan Jendral Ahmda Yani pada tanggal 1 Oktober 1965, posisi tertinggi Angkatan Darat (AD) pun kosong. Ditambah lagi tiga Mayor Jenderal dan dua Brigadir Jenderal juga menjadi korban dalam peristiwa kelam itu.

Peristiwa itu hanya menyisakan Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra sebagai perwira tertinggi. Pranoto pun mencatat apa yang dialaminya hari itu dalam Memoar Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra (2002: 247), “Tanggal 1 Oktober 1965 kurang lebih jam 06.00 pada saat saya sedang mandi, maka datanglah Brigadir Jenderal dr. Amino, Kepala Departemen Psychiatri Rumah Sakit Gatot Subroto Jakarta, yang dengan serta-merta memberitahukan tentang diculiknya Letnan Jenderal Ahmad Yani beserta beberapa Jenderal lainnya oleh sepasukan bersenjata yang belum diketahuinya.” 

Seusai mandi, Pranoto pun bergegas berangkat menuju ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) di Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Pranoto sadar kondisi sedang genting, karena itu dia pergi dengan pakaian dinas lapangan. Dia jadi orang dengan pangkat tertinggi di kantor tersebut. 

Menjadi satu-satunya perwira tinggi yang tersisa, pagi itu juga Pranoto pun segera memprakarsai rapat darurat yang di antaranya membicarakan nasib Ahmad Yani dan jenderal lain yang diculik. Rapat juga memutuskan untuk menunjuk Mayor Jenderal Soeharto, yang kala itu Panglima Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), agar bersedia mengisi pimpinan AD yang kosong. 

Lalu kurang lebih pada jam 09.00, Pranoto pun dapat laporan, berdasarkan siaran RRI Ia ditunjuk oleh Presiden/Panglima tertinggi (Presiden Sukarno) untuk menjabat sebagai caretaker Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad).

Dalam siaran radio RRI Sukarno berkata; “Pada hari ini, tanggal 2 Oktober 1965 saya telah memanggil panglima angkatan bersenjata bersama Waperdam II dr. Leimena dan para pejabat penting lainnya, dengan maksud untuk segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut Peristiwa 30 September.”

Ia pun menegaskan bahwa pimpinan Angkatan Darat berada langsung dalam tangannya dan “untuk menjalankan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat sementara saya tunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudra Assisten III Men/Pangad. Untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban yang bersangkutan dengan peristiwa 30 September telah saya tunjuk Mayjen Suharto, Panglima Kostrad sesuai dengan kebijaksanaan yang telah saya gariskan”.

Namun, pranoto tidak lekas percaya akan berita itu. Ia tetap tinggal di MBAD menunggu perintah lebih lanjut. Berturut-turut kemudian datang Kepala Seksi I Staf Resimen Cakrabirawa Letnan Kolonel (Infanteri) Ali Ebram sekitar pukul 09.30, Jaksa Agung Brigadir Jenderal TNI Soetardio bersama Kepala Reserse Pusat Kejaksaan Agung Brigadir Jenderal Soenarjo pada sekitar pukul 10.00, dan Ajudan Presiden/Pangti Kolonel Bambang Widjanarko sekitar pukul 12.00. Mereka semua adalah utusan dari Presiden yang diperinthkan untuk memanggil Pranoto.

Namun, karena sudah masuk dalam komando taktis dibawah kepemimpinan Jendral Soeharto, Pranoto pun tidak dapat secara langsung menghadap presiden tanpa ijin dari Soeharto. Pranoto berusaha mendapatkan izin dari Soeharto, tetapi Soeharto melarang. Kala itu, Pranoto menaati perintah Soeharto.

Baca Juga:   Sejarah 28 Oktober: Kongres Pemuda, Kali Pertama Lagu Indonesia Raya Berkumandang

Malam harinya sekira pukul 19.00, Pranoto dipanggil Jenderal Abdul Haris Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB) di Markas Kostrad untuk menghadiri rapat. Selain Nasution, hadir juga Mayor Jenderal Soeharto, Mayor Jenderal Moersjid, Mayor Jenderal Satari, dan Brigadir Jenderal Oemar Wirahadikusumah. 

Nasution pun secara resmi menjelaskan bahwa Pranoto adalah caretaker Menpangad. Pranoto pun ditanya pendapat pribadinya. “Sampai saat itu saya sendiri belumlah menerima pengangkatan secara resmi secara hitam di atas putih,” tuturnya. 

Soeharto pun lantas melontarkan keberatan-keberatannya terhadap struktur baru dari pimpinan Angkatan Darat, tetapi tidak langsung menentangnya. Ia memecahkan masalah itu secara Indonesia—dengan tidak mengindahkan sama sekali Jenderal Pranoto,” tulis O.G. Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1984: 47). 

Lalu, Pranoto dan Soeharto pun dipanggil Sukarno untuk menghadap sebelum konferensi pers. Mereka ke Istana Bogor bersama Komandan Polisi Militer Brigadir Jenderal Soedirgo. Di sana Sukarno memberi penjelasan soal siapa pemimpin Angkatan Darat. 

“Har, agar tahu, saya telah mengambil alih langsung pimpinan Angkatan Darat dan mengangkat Pranoto sebagai pelaksana harian,” kata Sukarno, seperti dikutip dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 130). 

Pada kesempatan itu pula, Soeharto dikatai koppig (keras kepala) oleh Sukarno yang marah karena menghalangi Pranoto dan jenderal Angkatan Darat lainnya menuju kawasan Halim Perdanakusumah untuk bertemu presiden. 

Selain itu, seperti terdapat dalam buku Kronik ’65 (2017: 311) karya Kuncoro Hadi dan kawan-kawan, Soeharto juga dimarahi Sukarno karena mengerahkan pasukan RPKAD menyerang Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah saat presiden berada di sana. 

Dengan gagahnya Soeharto menjawab, “Pada kesempatan ini saya juga ingin melaporkan bahwa atas inisiatif saya sendiri, saya telah mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat.” Soeharto lalu bilang dia akan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada Pranoto. 

Sukarno pun menjawab, “Jangan, bukan maksud saya begitu. Harto harus tetap bertanggungjawab mengenai keamanan dan ketertiban.”

“Lantas, dasar saya apa? Dengan tertulis Bapak telah mengangkat Mayor Jenderal Pranoto dan harus ditaati,” tanya Soeharto. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password