Sejarah 19 September: Rapat Raksasa Ikada dan Pidato Bung Karno yang Membakar Semangat

Dok.Istimewa

Bosscha.id – Hari ini 75 tahun silam, pada 19 September 1945 atau bulan pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar 300.000 orang yang didominasi oleh kaum muda berkumpul di Lapangan Ikada (sekarang Monas).

Berkumpulnya orang-orang ini bukan tanpa sebab, ini adalah puncak dari rasa jengkel, tidak puas dan kecewa mereka terhadap pemerintah.  Seperti dituturkan Aboe Bakar Loebis dalam Kilas Balik Revolusi (1992), adalah karena posisi menteri diisi oleh orang-orang bekas pegawai kolonial yang menjadi kepala jawatan di zaman Jepang.

Sementara di sejumlah daerah para pemuda melakukan perebutan kekuasaan dari tentara Jepang, di Jakarta orang-orang dari Asia Timur itu justru masih bercokol. Hal ini membuat para pemuda semakin mangkel. Maka mereka pun berencana mengadakan peringatan satu bulan Indonesia merdeka pada 17 September, untuk menegaskan kemerdekaan dan merekatkan ikatan emosional antara para pemimpin Republik dengan rakyat.

Para pemuda pun segera bergerak. Namun karena persiapannya yang terlalu mepet, maka peringatan yang semula akan digelar pada 17 September ini, diundur menjadi 19 September 1945.

Para pemuda bekerja keras selama berhari-hari. Komite Nasional Daerah Jakarta kemudian mengumumkan akan diadakannya rapat raksasa. Tempat yang mereka pilih adalah lapangan Ikatan Atletik Djakarta (IKADA).

Mengetahui akan ada pengerahan massa besar-besaran, Jepang yang kala itu masih berkuasa di Jakarta segera mengeluarkan pengumuman tandingan. 

“Para penguasa Jepang di Jakarta mengeluarkan pengumuman melarang penyelenggaraan rapat itu dengan ancaman akan mengambil tindakan untuk mencegahnya,” tulis Loebis. 

Tak mau ambil resiko, Presiden Sukarno dan pejabat lain mulanya menolak untuk menghadiri pertemuan raksasa itu. Namun para pemuda dari Asrama Prapatan 10 terus membujuknya. 

Di tengah pengawasan militer Jepang yang mengerahkan kekuatan militernya untuk mengamankan Jakarta, rakyat tetap berdatangan. Sejak pagi mereka telah memenuhi lapangan Ikada. Menurut Aboe Bakar Loebis, mereka datang dari berbagai pelosok dan pinggiran Jakarta. 

“Dalam waktu singkat lapangan Ikada sudah menjadi lautan manusia dan lautan merah putih,” imbuhnya.

Sambil menanti kedatangan para pemimpin Republik dan juga untuk menjaga semangat, mereka terus bernyanyi. Salah satu lagu yang mereka nyanyian adalah “Darah Rakjat”.

“Dari pagi, di bawah terik panas matahari khas Jakarta, tidak minum, tidak makan, segala macam nyanyi perjuangan dan yel-yel sudah dikumandangkan,” ucap seorang letnan kolonel Jepang bernama Miyamoto, seperti kutip Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I Agustus 1945-Maret 1949 (2008). 

Miyamoto menambahkan, massa rakyat yang berkumpul sebagian membawa senjata, sehingga rawan terjadi gesekan antara mereka dengan serdadu Jepang yang juga bersenjata. Sedikit provokasi saja bisa membuat lautan manusia itu berubah menjadi lautan darah.

Situasi genting ini disampaikan juga oleh Pramoedya Ananta Toer, yang saat itu hadir di lapangan Ikada. Dalam karyanya yang bertajuk Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (2000) seperti dikutip Poeze, Pram melihat ada massa yang bersenjata bambu runcing, keris, dan batu. 

Bagi Pram, rapat raksasa Ikada begitu berkesan karena di hari itu rakyat Indonesia berani berhadap-hadapan dengan serdadu-serdadu Jepang, yang bisa saja menghunus bayonet dan mengarahkan kepada mereka.

“Itulah untuk pertama kali aku saksikan bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak lagi takut pada Dai Nippon dengan militernya yang masyhur akan kekejaman dan kekejiannya,” tulis Pram

Baca Juga:   Kehebatan Messi yang Tak Bisa Dilakukan Ronaldo

Sukarno Menhadiri Rapat Raksasa

Di hari yang sama, Presiden Republik Indonesia Sukarno mengadakan sidang kabinet pertama dengan sejumlah anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sidang itu juga digelar untuk menanggapi usul pemuda untuk mengadakan rapat raksasa di Lapangan Ikada. Harian Kompas, 18 September 1976, menyebutkan, sidang tersebut berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB tanpa jeda.

Selama tujuh jam berlangsung, sidang itu dipenuhi dengan ketegangan dan perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tersebut berkisar pada setuju atau tidaknya pemerintah untuk mengadakan rapat raksasa di Ikada yang diinisiasi oleh para pemuda.

Dengan berbagai pertimbangan, Bung Karno pun memutuskan untuk menghadiri rapat raksasa itu. “Saudara-saudara menteri, dengarkan keputusan saya. Saya akan pergi ke Lapangan Ikada untuk menenteramkan rakyat yang sudah berjam-jam menunggu. Saya tidak akan memaksa Saudara-saudara untuk ikut saya. Siapa yang tidak mau, tinggal di rumah boleh, terserah kepada Saudara masing-masing,” kata Bung Karno, dikutip dari Harian Kompas, 20 September 1996.

Setelah Bung Karno mengambil keputusan, sidang kabinet berakhir pada pukul 15.00 WIB. Meski telah menunggu sejak pagi, rakyat Jakarta dan sekitarnya masih berkumpul di Lapangan Ikada. Hal itu menjadi bukti betapa kuatnya tekad mereka untuk setia membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Para pemuda seakan sudah mengetahui bahwa Bung Karno akan menyetujui rapat itu. Mereka telah menyiapkan dua mobil untuk membawa tokoh-tokoh pemerintah menuju titik kumpul, yaitu Lapangan Ikada. Rombongan pemerintah dikawal oleh sepeda motor yang dikendarai oleh Daan Jahja dan Subianto untuk membuka jalan.

Kehadiran rombongan pemerintah di Lapangan Ikada pun disambut meriah oleh seluruh peserta yang hadir. Gegap gempita dan teriakan “merdeka” mulai bergemuruh ketika Bung Karno naik ke podium. “Kita sudah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi ini tetap kami pertahankan, sepatah pun tidak kami cabut. Dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tunduklah pada rancangan kami. Tenang, tenteram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan,” ucap Bung Karno, dikutip dari Harian Kompas 18 September 1976.

Merespon ucapan itu, seruan “merdeka” dan “sanggup” menggelora dari seluruh rakyat yang hadir. Meski hanya berlangsung sekitar lima menit, pidato Bung Karno itu seperti sengatan listrik yang mampu mengalirkan semangat juang ke seluruh penjuru negeri. Pasca rapat itu, berbagai perlawanan dilakukan oleh para pemuda dan rakyat Indonesia untuk mengusir para penjajah.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password