Sejarah 17 September: Utuy Tatang Sontani, Sastrawan yang Dilupakan Indonesia

Potret Utuy Tatang Sontani (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Tentu banyak dari kita yang tidak tahu atau bahkan belum pernah mendengar nama Utuy Tatang Sontani. Dia merupakan sastrawan angkatan 45 yang terkemuka. Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskow, Rusia dan dilupakan orang, pria kelahiran Cianjur ini adalah penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang—kerap dipentaskan di berbagai panggung.

“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia, hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.

Karya tulis pertamanya adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937) sebuah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17. Novel ini pertama kali dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama.

Setelah itu Utuy kerap menerbitkan kumpulan cerita pendeknya seperti Orang-orang Sial (1951), yang diikuti oleh cerita-cerita lakonnya yang membuatnya terkenal. Lakon pertamanya (Suling dan Bunga Rumahmakan, 1948) ditulis sebagaimana lakon ditulis, tetapi selanjutnya ia menemukan cara menulis lakon yang unik, yang bentuknya seperti cerita yang enak dibaca.

Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy bercerita bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat belajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar serta hanya menampung anak-anak ningrat dan kaum kaya. Tetapi si kakak meninggal karena wabah pes sebelum menyelesaikan sekolahnya.

Utuy sendiri mulanya disekolahkan di sekolah Desa karena situasi keuangan keluarganya memburuk. Kemudian, setelah bisnis ayahnya mulai pulih, ia dipindahkan ke sekolah Schakel atau sekolah perantara antara sekolah dasar Ongko Loro (Kelas Dua) dan sekolah menengah Middelbare Universile Laager Onderwijs (MULO). Di sekolah itu ada pelajaran bahasa Belanda. Namun, pada tahun keduanya di sekolah itu, Utuy malah minggat.

Sekali waktu, pada saat Utuy bersekolah di Taman Siswa, ia bertetangga dengan keluarga ningrat pensiunan amtenar pegadaian. Keluarga itu mempunyai seorang anak angkat perempuan. Hati Utuy panas. Meski sama-sama berusia 15 tahun, gadis itu telah duduk di kelas enam—sementara ia kelas lima—dan gadis itu pandai berbahasa Belanda karena bersekolah di HIS.

Utuy pun kemudian mendapat gagasan, bagaimana agar si gadis balik mengagumi dia: menulis. Inilah awal mula ia mengirimkan puisi dan cerita pendek ke surat kabar. Utuy menggunakan nama pena Sontani, yang diambil dari karakter novel berjudul Pelarian dari Digoel, karya yang tidak diketahui siapa pengarangnya, tampaknya seorang Digoelis. Novel tersebut diperkenalkan kepadanya oleh Wiranta, seorang Digoelis yang menulis Boeron dari Digoel, yang juga adalah paman si gadis yang disukai Utuy (C.W. Watson, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia, hal. 90).

Naskah yang ia kirimkan ke surat kabar (Sinar Pasundan) ternyata disambut baik oleh redaktur dan ditayangkan. Berkat itulah pihak sekolah memberi Utuy kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia pindah bersama keluarganya karena ayahnya juga hendak membuka restoran di Bandung. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, Utuy harus kembali ke Cianjur karena bisnis ayahnya rontok. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi meninggalakn rumah, entah ke mana.

Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka kembali ke Bandung. Dua tahun di kota itu, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangga yang ia sukai menikah dengan seorang pegawai pegadaian.

“Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy. Namun, pada tahun yang sama, ia berhasil menulis dua karya: Tambera dan  Mahala Bapa (Membinasakan Bapak), keduanya sama-sama ditullis dalam bahasa Sunda.

Baca Juga:   Di Kota Bandung, Jumlah Kasus COVID-19 Terus Melonjak

Setelah menamatkan Taman Dewasa di Bandung ia bekerja di RRI Tasikmalaya kemudian pindah ke Balai Pustaka, Jawatan Pendidikan Masyarakat (Bagian Naskah dan Majalah), Jawatan Kebudayaan Kementrian PP & K, dan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Indonesia.

Pengalaman Utuy di bidang kebudayaan tampak dalam kegiatan berorganisasi. Dia ikut mendirikan Beungkeutan Pangulik Budaya Kiwari pada tahun 1957. Lembaga itu merupakan pengikat para pengarang dan seniman yang berasal dari Jawa Barat yang berdomisili di Jakarta. Lembaga ini dipimpin oleh Rukasah S.W.

Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia) melakukan langkah-langkah penting dan berhasil mengajak para seniman terkemuka untuk memasuki organisasi tersebut. Berkaitan dengan itu, Utuy pun masuk ke dalam organisasi tersebut.

Mulanya Utuy menolak masuk Lekra, tetapi dirangkul terus dan diberi kesempatan untuk tampil dalam berbagai forum penampilan, ia pun akhirnya masuk juga. Selanjutnya, Korrie Layun Rampan (2000) mengatakan, bahwa Utuy menulis drama dalam jumlah yang cukup banyak dan beragam dalam berbagai variasi bentuk, seperti drama bersajak, drama dalam bentuk novel, dan drama-drama konvensional.

Perbedaan karya Utuy Tatang Sontani ketika telah masuk Lekra adalah adanya unsur propaganda. Platform organisasi dimasukan ke dalam karyanya yang berarti mesti ada subjek, atau musuh yang diganyang yaitu kaum borjuis atau pemuka agama sebagai kolaborator dari kaum borjuis. Dalam cerita Si Sapar yang terbit tahun 1964, ketika Sapar menarik dua orang penumpangnya yaitu seorang pelacur, dan yang menyewanya, Sapar menabrakkan becaknya ke kereta api sehingga penumpangnya meninggal.

Penumpang dari Sapar itu diduga adalah salah satu dari Tujuh Setan Desa yang menjadi musuh warga desa. Karya Utuy sebelumnya pun sebenarnya sudah bersifat kiri, namun saat masuk ke Lekra, bentuk pengimplementasian dari jargon, atau ideologi organisasi mesti dimasukkan ke dalam karya, sehingga segi propagandanya terlihat.

Rusia, Pusara Terakhir Sang Sastrawan Eksil

Kedatangan Utuy ke Moskow, Rusia semula karena harus berobat ke Peking (sekarang Beijing) sebelum meletus peristiwa G-30-S/PKI. Pasca meletesnya tragedi mengerikan G-30-S/PKI itu, membuat Utuy tidak bisa pulang lagi ke Indonesia dan selama tujuh tahun berada di Peking. Akhirnya, ia memutuskan untuk tinggal di Moskow sambil mengajar bahasa Indonesia di Institut Bahasa-Bahasa Timur Moskow hingga Ia wafat.

Utuy wafat di Moskow, pada 17 September 1979, tepat hari ini 41 tahun yang lalu. Sang sastrawan eksil itu dimakamkan di Mitinskoye di kawasan Mitino tepatnya di sektor muslim, sekitar 40 kilometer dari Moskow. Di batu nisa makamnya tertulis nama Utuy Tatang Sontani dalam aksara sirilik. Berikutnya tertera keterangan, Indonesiyskiy Pisatel yang artinya, Penulis Indonesia.

Utuy penulis Indonesia yang seakan lenyap dari sejarah sastra Indonesia.  Padahal Ia adalah salah satu penulis penting untuk sastra dan budaya Indonesia. Dia tidak memilih untuk hidup di Negeri orang. Utuy tinggal dan akhirnya wafat di negeri orang karena tidak bisa pulang ke Indonesia.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password