Sejarah 16 September: Chrisye, Sang Lilin Kecil yang Terus Berpijar

Dokumentasi : Musica Studio

Bosscha.id – Jika mendengar nama Chrisye tentu kita akan langsung teringat pada suaranya yang lembut nan merdu. Lagu-lagunya kerap berhasil membius siapa saja yang mendegarnya. Lilin-Lilin Kecil, KIsah Kasih di Sekolah, Ketika Tangan dan Kaki Berkta, dan Seperti yang Kau Minta, adalah beberapa lagunya yang melekat di telinga kita.

Pria yang memiliki nama asli Christian Rahadi yang kemudian berganti menjadi Chrismansyah ini lahir di Jakarta pada tanggal 16 September 1949, tepat hari ini 71 tahun silam. Ia merupakan anak dari keluarga Laurens Rahadi (Lauw Tek Kang), seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi (Khoe Hian Eng), seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa. Chrisye merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Kecintaan Chrisye pada dunia musik sudah terlihat sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya. Dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin.

Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga Tionghoa, tak jarang Chrisye kecil pun kerap mengalami peristiwa rasial dan persekusi. Pernah pada suatu ketika saat pulang sekolah, ia mendengar celetukan yang cukup menohok di sebuah jalan. “Cina Lo!” teriakan itu datang tanpa diketahui dari mana asalnya. 

Kemudian tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya. Ia kebingungan sembari menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian, segerombolan anak datang dan berteriak ke arahnya. “Cina! Cina! Cina!”. Teriakan itu terdengar keras.

Ia mulai panik saat beberapa anak kembali melempar batu kepadanya. Ia berlari menyelamatkan diri sambil memegang kepala yang berdarah. Sesampai di rumah, cepat-cepat ia bersihkan bekas luka dan memilih tidak menceritakan pengalaman buruk itu kepada ibunya. 

Peristiwa seperti itu benar-benar menancap di kepalanya. Bahkan, Chrisye tak lagi nyaman melihat diri sendiri di depan cermin, karena merasa terancam saat melihat kulit putih dan mata sipitnya di cermin. 

Mulai Berisisan dengan Dunia Musik

Sekitar tahun 1969, Ia diundang untuk menjadi anggota band Nasution; Sabda Nada, untuk menggantikan pemain bass mereka yang sedang sakit, Eddi Odek. Karena puas dengan kemampuannya, Nasution bersaudara pun meminta Chrisye untuk menjadi anggota tetap.

Sabda Nada pun kerap bermain secara reguler di Mini Disko di Jalan Juanda dan juga kerap diundang untuk pesta ulang tahun dan pernikahan. Jadwal manggung mereka pun sangat padat, akibatnya, Chrisye menghentikan studinya di UKI. Kemudian dia masuk ke Akademi Pariwisata Trisakti karena mengganggap jadwalnya lebih fleksibel.

Pada tahun 1969 pula Sabda Nada pun mengganti namanya menjadi Gipsy. Dua tahun kemudian Gipsy mendapat kesempatan untuk main di New York. Saat itu, Chrisye takut untuk menceritakan hal tersebut kepada ayahnya. Dia berpikir ayahnya tidak akan menyetujui, ia bahkan jatuh sakit selama beberapa bulan, sementara Gipsy pergi ke New York tanpa dirinya.

Karena kecintaanya terhadap musik, Chrisye pun akhirnya menceritakan kepada ibunya. Ayahnya pun menyetujui agar dia mengundurkan diri dari kuliah dan pergi ke New York. Setelah kesehatannya membaik, pada medio tahun 1973, dia pergi bersama Pontjo untuk bertemu dengan Gipsy di Amerika Serikat. Di tahun yang sama pula Chirsye berhenti kuliah.

Selama di New York, Gipsy manggung di Ramayana Restaurant milik perusahaan Pertamina. Band itu ditempatkan di suatu apartemen di Fifth Avenue. Gipsy berada di New York sekitar satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta cover version dari lagu Procol Harum, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Genesis, serta Blood, Sweat, and Tears.

Pada medio tahun 1975, dengan beberapa minggu tersisa di kontrak kerjanya, orang tua Chrisye di Jakarta memberi tahu jika saudaranya Vicky meninggal akibat infeksi lambung. Karena tidak dapat kembali langsung ke Jakarta, pikirannya jadi kacau. Saat kembali ke Indonesia, Chrisye tak berhenti-henti menangis dalam pesawat dan menjadi depresi.

Berhenti Bermusik

Akibat persitiwa itu, Chrisye sempat berhenti bermain musik. Setelah beberapa waktu tidak bermain musik, Chrisye dihubungi oleh Nasution bersaudara dan diundang untuk bergabung kembali dengan Gipsy, yang saat itu bekerja sama dengan Guruh Soekarno.

Baca Juga:   Digelar di Tengah Pandemi Covid-19, Tes SKB CPNS di Bandung Barat Berjalan Sukses

Guruh juga menawarkan beberapa lagu untuk Chrisye. Setelah berhasil mengatasi rasa depresinya, Chrisye mengikuti latihan bersama Guruh. Chirsye kembali menemukan dirinya di music. Proses rekaman pun berlangsung dengan hanya empat lagu yang terselesaikan dalam beberapa bulan pertama. Pada tahun 1976 album Guruh Gipsy diluncurkan dan diterima baik oleh para kritikus.

Pada akhir tahun 1976, Chrisye dihampiri oleh Jockie Soerjoprajogo, seorang pencipta lagu, dan Imran Amir, pemimpin Radio Prambors. Mereka meminta agar Chrisye menjadi vokalis untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors. Tawaran ini sempat ditolak Chrisye. Beberapa hari kemudian, Sys NS, yang pada saat itu bekerja di Prambors, mendekati Chrisye. Waktu itu, Chrisye sedang berbincang dengan Guruh dan Eros Djarot. Sys menekankan bahwa Chrisye diperlukan untuk lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James F. Sundah.

Setelah mendengar lirik lagu tersebut, Chrisye setuju. Lagu ini pun direkam di dan dimuat dalam sebuah album dengan pemenang lomba lain. Awalnya, “Lilin-Lilin Kecil” dimuat di urutan kesembilan, tetapi akhirnya dipindahkan ke urutan pertama supaya lebih laris. Strategi ini berhasil, Chrisye sang pelantun lagu ini pun menjadi terkenal, bahkan album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 menjadi album paling laris pada tahun itu.

Kesuksesan ini makin menguatkan keyakinan Chrisye bahwa ia berbakat menjadi penyanyi. Kelak, majalah Rolling Stone Indonesia, memasukkan lagu ini di peringkat 13 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Label rekaman Pramaqua Records kemudian menawarkan Chrisye untuk membuat album bernama Jurang Pemisah. Dengan musisi pengiringnya Yockie Suryoprayogo (keyboard), Ian Antono (gitar), dan Teddy Sujaya (drum). Selain bernyanyi, Chrisye bermain bass dalam album ini.

Meski mendapat pujian secara kualitas, tapi album itu gagal dari sisi penjualan. Namun, tak berhenti sampai di sana, Eros Djarot kemudian mengajak Yockie dan Chrisye untuk menggarap soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Pengisi album ini adalah Chrisye, Berlian Hutauruk (vokal), Fariz R.M (drum), Yockie (keyboard), Keenan (drum), dan Debby Nasution (keyboard). Album ini meledak di pasaran ketika dirilis pada 1977. Chrisye juga pertama kali menciptakan lagu “Merepih Alam” dalam album ini.

Kritikus musik menyebutkan album itu sebagai dobrakan besar di kancah musik Indonesia. Sebuah terobosan yang mengisyaratkan pembaruan dalam warna musik pop. Bahkan ada yang menyebut album ini sebagai karya monumental yang sangat penting dalam industri musik Indonesia.

Tiga dekade kemudian, majalah Rolling Stone Indonesia membuat senarai 150 Album Indonesia Terbaik. Peringkat satunya adalah Badai Pasti Berlalu. Hebatnya, di peringkat dua adalah album Guruh Gipsy, album yang turut digarap oleh Chrisye. 

Akhir Hidup Sang Legenda

Mengenang Chrisye berarti mengenang lagu dan karya-karyanya. Tak banyak yang dia umbar mengenai kehidupan pribadinya. Chrisye menikahi GF Damayanti Noor pada tahun 1982. Sebelum menikah, Damayanti Noor merupakan salah satu anggota kelompok penyanyi trio Noor Bersaudara. Dari pernikahan ini, Chrisye dan Damayanti dikaruniai empat orang anak.

Penyanyi legendaris itu menghembuskan nafas terakhirnya tepat di usia 57 tahun pada 30 Maret 2007, setelah dua tahun sebelumnya Ia divonis dokter mengidap kanker paru stadium 4. Sepanjang kariernya, ia berkontribusi di 9 album proyek, 4 album soundtrack (termasuk Ali Topan Anak Jalanan), dan menghasilkan 20 album solo. 

Chrisye juga tercatat sebagai pencipta lagu. Ada lebih dari 80 lagu ciptaannya. Karena begitu banyak dan sudah lama, Chrisye tak lagi dapat mengingatnya. Yang pasti, beberapa lagu ciptaan Chrisye menjadi hit dibawakan oleh Vina Panduwinata, Tika Bisono, Andi M. Matalatta, Utha Likumahua.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password