Sejarah 15 September: Ketika GAM Berhasil Dilucuti Senjatanya

Dokumentasi Istimewa

Bosscha.id – Gerakan Aceh Merdeka (GAM), adalah sebuah organisasi separatis yang didirikan oleh Dr. Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Tujuan utama GAM adalah membuat Aceh lepas dari NKRI. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 hingga tahun 2005, yang menyebabkan jatuhnya kurang lebih 15.000 korban jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF).

Pada 4 Desember 1976 sang inisiator GAM, Hasan di Tiro dan beberapa pengikutnya menyatakan perlawanannya terhadap pemerintah RI yang dilangsungkan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Pada awal pergerakannya, nama resmi yang digunakan adalah AM atau Aceh Merdeka.

Perlawanan bersenjata dari gerakan tersebut pun mendapat sambutan keras dari pemerintah pusat RI yang akhirnya menggelar sebuah operasi militer di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dikenal dengan DOM (Daerah Operasi Militer) pada paruh akhir 80-an sampai dengan penghujung 90-an, operasi tersebut telah membuat para aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya dari daerah pengasingan.

Disaat runtuhnya rezim Orde Baru dan reformasi dilangsungkan di Indonesia, seiring dengan itu pula Gerakan Aceh Merdeka kembali eksis dan mulai menggunakan nama GAM sebagai identitas organisasinya.

Konflik berkepanjangan antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung sampai pada akhirnya pemerintah menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, setelah melalui beberapa proses dialog yang selalu berujung dengan kegagalan mencapai solusi.

Akibat konflik berkepanjangan tersebut, sedikit banyak telah menekan aktivitas bersenjata yang dilakukan oleh GAM, banyak diantara aktivis GAM yang melarikan diri ke luar daerah Aceh dan luar negeri.

Pada Desember 2004, terjadi bencana alam besar, gempa bumi dan tsunami. Kejadian itu telah memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan atas inisiasi dan mediasi oleh pihak internasional.

Lalu Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Mantan presiden Finlandia Martti Ahtiahsaari berperan sebagai fasilitator pada waktu itu. Setelah melakukan perundingan selama 25 hari, terhitung sejak tangga 17 Juli 2005, akhirnya tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005.

Baca Juga:   Sejarah 19 September: Rapat Raksasa Ikada dan Pidato Bung Karno yang Membakar Semangat

Kemudian proses perdamaian ini dipantau oleh sebuah tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM), yang beranggotakan lima negara ASEAN dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. 

Berdasarkan kesepakatan damai yang tertuang dalam MoU RI dan GAM yang diteken di Helsinki, Finlandia, mengamanatkan GAM untuk segera melakukan peletakan senjata sebuan kemudian. Proses peletakan senjata itu akan disertai dengan penarikan pasukan TNI dan polisi nonorganik dari Aceh. Pada hari itu juga menjadi awal bagi RI untuk merelokasi tentara dan polisi nonorganik.

Dan pada 15 Sepetember 2005, atau tepat hari ini 15 tahun yang lalu, seluruh senjata yang berjumlah 840 pucuk dipindah kepemilikannya dari GAM kepada AMM, dan prosesnya selesai pada 19 Desember 2005. Tanggal 27 Desember di tahun yang sama, GAM melalui juru bicara militer Sofyan Dawood menyatakan bahwa sayap militer mereka telah dibubarkan secara formal.

Menurut Aceh Working Group (AWG), setelah 15 September 2005, AMM harus bertindak proaktif pada GAM dan TNI. Tindakan proaktif ini untuk menyelesaikan persoalan kelompok ilegal bersenjata dan ancaman gangguang keamanan lainnya. AWG mencatat selama Agustus dan September 2005, pasca penandatangan Mou telah terjadi penembakan terhadap warga tak bersenjata dan kontak senjata itu membawa korban.

Sampai saat ini, hasil paling nyata dari kesepakatan damai Helsinki adalah pembentukan partai-partai politik lokal Aceh. Beberapa elit GAM dan eks kombatan mendirikan partai dan mereka terjun langsung ke dunia politik praktis. 

Banyak kekecewaan terhadap mereka, terutama lantaran dianggap mengkhianati idealisme perjuangan GAM. Mereka kini banyak sekali bermain dalam relasi kroni-kroni politik dan berebut proyek APBD Aceh. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password