Sejarah 12 September: Tragedi Berdarah Tanjung Priok, Sejarah Kelam ABRI Era Orde Baru

Dokumentasi Istimewa

Hari ini 36 tahun yang lalu, atau tepatnya pada 12 Sepetember 1984 telah terjadi sebuah peristiwa berdarah di utara Jakarta, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa itu kemudian dikenang dengan nama Tragedi Tanjung Priok.

Tragedi ini terjadi antara aparat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan masyarakat sipil yang bermula dari penolakan atas diterapkannya asas tunggal Pancasila oleh Pemerintah Soeharto. Namun, aksi penolakan ini berujung menjadi sebuah kerusuhan, yang kemudian menjadikan aparat keamanan bertindak tegas, bahkan terkesan brutal dengan melepaskan tembakan berpeluru tajam.

Pemicu terjadinya tragedi berdarah ini bermula pada tanggal 10 September 1984 sebuah kabar berhembus kencang di lingkungan gang 4 Koja. Kabar tersebut menyatakan bahwa pada 8 September 1984, babinsa setempat yang bernama Sertu Hermanu, dikabarkan telah mendatangi Masjid As Saadah di Tanjung Priok dan mengatakan kepada pengurusnya, Amir Biki, untuk mencopot famplet dan spanduk yang berisi kritik dan penolakan atas kebijakan pemerintah atas penerapan asas tunggal Pancasila , namun Amir menolaknya. Lantas Hermanu berinisiatif membongkar spanduk dan famplet tersebut sendiri.

Kabar yang santer beredar, bahwa ketika Hermanu hendak membongkar spanduk dan famplet tersebut, ia memasuki area sholat di dalam Mesjid tanpa melepas sepatu. Kabar itu tentu langsung menyulut kemarahan masyarakat, ditambah lagi terdengar kabar, bahwa babinsa tersebut juga turut menggunakan air kotor dari selokan untuk menghapus pamflet berisi protes penolakan penerapan asas tunggal pancasila dan kebijakan pemerintah lainnya yang tertempel di papan pengumuman mesjid.

Beberapa pemuda yang terpancing amarahnya, kemudian mencari babinsa tersebut. Mereka adalah Saripudin Rambe, Ahmad Sahi, Sofwan Sulaiman, dan Nur Muhamad. Setelah bertemu, mereka mencoba untuk menyerang babinsa itu yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Tidak hanya melakukan penyerangan, mereka juga dikabarkan membakar motor Sertu Hermanu. Akibat penyerangan itu, empat pemuda yang terlibat penyerangan diamankan di kodim Jakarta Utara.

Pasca peristiwa penangkapan empat pemuda tersebut, Amir Biki berinisiatif mengumpulkan tokoh masyarakat untuk memberikan arahan agar masalah ini tidak dibesar-besarkan. Ia juga berjanji mengupayakan pembebasan keempat pemuda tersebut. Namun usaha yang dilakukan Amir untuk membebaskan empat pemuda yang ditahan itu tidak membuahkan hasil.

Oleh karena keempat pemuda itu tak kunjung dibebaskan, pada 12 September 1984 beberapa tokoh agama menggelar tabligh akbar di Jalan Sindang, Tanjung Priok, untuk memprotes aparat dan pemerintah. Pada awal pengajian, Amir Biki naik mimbar untuk mengobarkan semangat jamaah dan menyerukan ultimatum bahwa apabila sampai jam 23:00 keempat pemuda belum dibebaskan, maka jamaah bergerak ke kodim.

Menjelang pengajian berakhir tepatnya pukul 22:30, Amir Biki naik mimbar. Ia berbicara masalah pemuda yang ditahan di Kodim. Kemudian menerangkan bahwa ia telah ke Kodim untuk memohon keempat orang tersebut dibebaskan, namun tidak berhasil. Karena itu, Amir Biki mengajak jamaah untuk beramai-ramai datang ke Kodim 0502 Jakarta Utara untuk meminta pembebasan keempat pemuda tersebut.

Baca Juga:   Sejarah 19 September: Rapat Raksasa Ikada dan Pidato Bung Karno yang Membakar Semangat

Tabligh Akbar pun berakhir dan keempat pemuda tersebut tidak kunjung dibebaskan, Amir Biki memerintahkan jamaah untuk berjalan menuju kodim untuk meminta keempat tahanan itu dibebaskan . Massa yang sudah kalap emosinya pun bergerak sebagian menuju Koja dan sebagian lagi menuju Kodim seperti yang diperintahkan Amir Biki.

Saat massa yang sudah terpancing emosinya itu bergerak menuju Kodim, dari kejauhan nampak aparat yang dipimpin oleh Danru Serda Sutrisno Mascung dan Kasi II Kodim Jakarta Utara Kapten Sriyanto telah bersiaga untuk menghadang massa. Meskipun demikian, massa tetap ngotot bergerak maju.

Massa tidak menghiraukan ajakan Kapten Sriyanto agar sabar dan bersedia berunding. Bahkan, senjata Prada Muhson direbut massa dan terjadilah kericuhan. Kapten Sriyanto terdesak ke belakang akibat massa yang brutal. Melihat kondisi ini, tanpa adanya perintah Prada Prayogi menembak ke atas sebagai tanda peringatan, namun massa tetap maju, untuk kedua kalinya Prada Prayogi menembak ke arah bawah. Tembakan Prada Prayogi, tanpa komando diikuti oleh tembakan anggota regu yang lain ke arah massa sehingga menimbulkan korban.

Setelah beberapa saat rombongan Amir Biki datang, tentara yang melihatnya langsung bersiap untuk kembali melepaskan tembakan. Amir Biki memang menjadi tokoh sentral dalam memobilisasi massa, karena itu saat Amir Biki telah terlihat, beberapa pasukan berteriak “habisi saja”. Senapan-senapan tentara pun akhirnya ditembakan ke arah rombongan Amir yang datang belakangan. Tembakan itu menyebakan ia dan beberapa orang rombongannya roboh, sementara sisa rombongan lainnya yang berusaha melarikan diri terus dikejar tentara.

Kabar simpang siur mengenai jumlah korban yang jatuh dalam tragedi berdarah pada 12 september 1984 ini masih menyisakan tanda tanya. Beberapa saksi korban menyatakan bahwa korban meninggal dan luka-luka mencapai ratusan orang. Pengakuan ini didukung oleh surat dari seseorang bernama Bejo Sumawinata yang mengaku telah menerbangkan/mengangkut korban meninggal sebanyak 329 orang ditambah 16 orang sehingga berjumlah 345 orang dengan pesawat heli jenis BO dalam empat kali penerbangan pulang-pergi.

Namun, berdasarkan laporan Komnas Perempuan para saksi yang menyatakan jumlah korban sampai ratusan orang, ternyata mereka tidak pernah menghitung langsung, keterangan tersebut berdasarkan kesan dan perkiraan saja. Sementara itu informasi bahwa ratusan jenazah yang diangkut menggunakan helikopter ternyata hanya hoax, karena tidak mungkin helikopter itu dapat mengangkut ratusan jenazah dalam empat kali perjalanan (kapasitas helikopter hanya enam jenazah sekali perjalanan).

Sedangkan menurut Panglima ABRI saat itu, L.B. Moerdani, terdapat 18 orang tewas dan 53 orang luka-luka, sementara menurut Laporan Investigasi Komnas Perempuan, terungkap bahwa jumlah korban yang meninggal sebanyak 23 orang, luka dirawat 36 orang dan luka tidak dirawat sebanyak 19 orang, sehingga total 78 orang korban.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password