Sejarah 5 September: Penuh dengan Misteri, Bagaimana Hidup Freddie Mercury Sebenarmya?

Bosscha.id – Siapa yang tak kenal dengan Freddie Mercury, seorang penyanyi, penulis lagu, dan produser rekaman. Ia pula orangnya yang berhasil menjadikan Queen menjadi band legendaris dunia.

Pria yang lahir pada 5 Sepetember 1946, atau tepat hari ini 74 tahun yang lalu ini memiliki nama asli Farrock Bulsara. Freddie Lahir di pulau Zanzibar, yang pada waktu itu adalah bagian dari Inggris dan sekarang bagian dari Tanzania.

Dia mulai menggunakan nama Freddie saat bersekolah asrama bergaya Inggris di India. Ia mengadopsi nama Mercury beberapa tahun kemudian, setelah keluarganya beremigrasi ke Inggris pada tahun 1964, dan ia mulai mengejar karir musiknya di London barat.

“Saya pikir mengubah namanya adalah salah satu caranya mengadopsi identitas yang berbeda,” kata anggota band Queen, Brian May dalam sebuah film dokumenter tahun 2000. Karakter ini juga membantunya menghindari beberapa prasangka rasial pada zaman itu. “Tidak ada ruang bagi orang-orang berkulit coklat di industri musik Barat, dan Freddie tahu itu,” kata Leo Kalyan, seorang penyanyi dan penulis lagu India-Pakistan yang menyebut Mercury sebagai ‘penampil terbaik sepanjang masa’.

Kalyan pula mengatakan “Freddie cukup pintar dengan mengetahui bahwa ia harus menyamar sebagai orang kulit putih untuk berhasil”, dan mengatakan warisan Asia Selatannya masih belum sepenuhnya dipahami hari ini karena orang-orang Asia Selatan masih sengaja diabaikan dalam industri musik Barat.

Hari Penuh Sepi dan Bayang-Bayang AIDS

Pada 3 Juli 1981, The New York Times menaikkan berita berjudul “Rare Cancer Seen in 41 Homosexual”. Berita ini mengabarkan para dokter di New York dan California telah mendiagnosis 41 orang homoseksual yang menderita “penyakit kanker langka dan berbahaya”, juga “delapan pasien meninggal dalam waktu kurang dari 24 bulan setelah diagnosis dilakukan.”

Saat itu tak ada orang yang tahu apa penyakit itu. Dokter belum tahu apa penyebabnya. Tak tahu pula apakah penyakit ini menular atau tidak. Gejalanya pun berbeda dengan kanker. Penyakit baru ini membuat penderitanya mengalami bintik ungu di kulit dan limpa mereka membengkak.  Kelak, penyakit misterius ini dinamakan AIDS.

Pada 1981, Queen tentu saja tidak memperhatikan isu kesehatan ini. Baru setahun mereka merilis album The Game, yang menghadirkan lagu “Another One Bites the Dust” dan “Crazy Little Thing Called Love” yang jadi juara di tangga lagu Amerika Serikat. Mereka juga sedang tur, termasuk tur Amerika Selatan yang dimulai pada Februari 1981. Queen menjadi band rock papan atas yang bermain di Amerika Selatan dalam skala stadium.

Tur-tur itu sukses besar. Di Brasil, konser mereka disaksikan 120 ribuan penonton. Di Argentina, satu dari lima konser Queen ditonton oleh kurang lebih 300ribu orang, tercatat dalam sejarah sebagai konser paling banyak ditonton di Argentina.
Pada Oktober 1981, Queen kembali masuk studio untuk menggarap album Hot Space dan menyiapkan album The Greatest Hits. Meski punya lagu-lagu paten seperti “Cool Cat” dan “Under Pressure”, Hot Space mendapat hujan kritik dari banyak kritikus. Bahkan Brian May dan Roger Taylor disebut benci album ini.

Di lain sisi, laporan penyakit kanker misterius itu pun makin meningkat. Pada akhir 1981, ada total 270 laporan tentang menurunnya kekebalan tubuh yang terjadi pada pria gay, dan 121 di antaranya telah meninggal. Nyaris berbarengan dengan masuknya Queen ke studio, The Center for Disease Control di Amerika Serikat mendeklarasikan penyakit baru ini sebagai epidemi.

Matt Richards dan Mark Langthorne, dua penulis biografi Somebody to Love: The Life, Death, and Legacy of Freddie Mercury, mencatat bahwa meski kabar soal epidemi baru ini bikin heboh seantero dunia dan disebut sebagai “penyakit kaum homoseksual”, Freddie tetap santai dan tetap menjalankan kehidupan ala bintang rocknya.

“Hidup harus dinikmati,” kata Freddie. “Percaya deh, meski aku gak jadi bintang rock, filosofi itu tetap akan kupegang teguh.

Dan dalam hal menikmati hidup, Freddie enggan menikmati sendiri. Dia punya banyak teman, sebagian jadi kekasihnya. Ada Peter Morgan, seorang binaragawan dari Inggris yang dikenal sebagai bintang video panas. Dia selingkuh, dan bikin Freddie sakit hati. 

Ada pula John Murphy, seorang pramugara yang sempat melakoni cinta satu malam dengan Freddie. Orang di sekeliling Freddie juga jelas ingat Bill Reid, pria dari New Jersey yang bertemu dengan Freddie di Manhattan. Reid bisa dibilang sebagai pria yang menorehkan luka traumatis bagi Freddie.

Menurut Peter Freestone, asisten sekaligus sahabat Freddie, ada yang disebut sebagai “Era Bill Reid”. Di masa itu, ada banyak perkelahian fisik, pelemparan gelas, dan perilaku-perilaku memalukan. Menurut Stone, Reid ini yang bikin Freddie akhirnya enggan lagi untuk “bercinta dengan pria berbeda setelah konser”, dan memilih “pilihan yang lebih aman”.

Pilihan aman itu antara lain Tony Bastin, yang dengannya Freddie menjalin hubungan hingga dua tahun.

Sekilas, banyak orang menganggap Freddie adalah hedonis yang gemar memacari banyak orang. Namun, orang dekat Freddie paham: sang bintang rock yang dipuja jutaan orang ini sering mengalami kesepian akut. Ia tak tahan jika harus sendiri.

“Kamu bisa punya segalanya di dunia ini, dan masih tetap berakhir sebagai pria paling kesepian, dan itu adalah jenis kesepian yang paling getir,” ungkap Freddie. “Sukses telah membuatku jadi idola dan orang kaya, tapi hal itu juga yang membuatku tak bisa punya satu hal yang dibutuhkan semua manusia: yaitu kasih sayang.”

Kemudian kesepian itu pun menjelma jadi kekhawatiran, dan belakangan: ketakutan. Pada 11 November 1986, setahun setelah konser Live Aid yang legendaris itu, dan beberapa bulan setelah konser Wembley, kabar buruk menghampiri Freddie. John Murphy, sang pramugara, meninggal karena penyakit yang disebabkan AIDS. Beberapa minggu kemudian, Freddie kembali dapat telepon mengabarkan bahwa Tony Bastin, mantan kekasihnya itu, juga meninggal karena penyakit yang sama.

Tetap Menyala di Hari-Hari Terakhir

Baca Juga:   Sejarah 22 September: Dimulainya Pertempuran Iran Vs Irak, Perang Terpanjang Abad 20

Pada 1985, Freddie sebenarnya sudah pernah tes HIV.  Ia mengaku saat itu tesnya negatif—walau orang dekatnya bilang bahwa hasilnya positif. Namun ketakutan itu mendorongnya untuk melakukan sepuluh kali tes serupa pada 1986. Harapannya: ada satu dari sepuluh tes itu yang bilang hasilnya negatif. Tapi seiring tubuh yang makin menunjukkan gejala AIDS, dan hasil yang terus menerus positif, Freddie belajar untuk menerimanya. 

Pada 1987, Freddie Mercury resmi didiagnosis mengidap AIDS.

Namun sang maestro vokal ini bukan orang yang gampang takluk begitu saja. Bahkan ketika dia sudah tahu umurnya tak lama, dia masih masuk ke studio bersama Queen untuk merekam Innuendo.

“Album itu seperti meminjam sisa umur Freddie, karena kesehatannya memburuk,” ujar Roger Taylor, drummer Queen. 

Innuendo dirilis pada Februari 1991. Dan seperti kata Roger, Freddie ingin memanfaatkan sisa waktunya semaksimal mungkin. Mereka langsung masuk studio untuk merekam album yang kelak diberi nama Made in Heaven dan dirilis pada tahun1995, tepat empat tahun pasca kematian Freddie pada 24 November 1991.

Freddie terakhir kali tampil di kamera pada video klip “These Are the Days of Our Lives”. Berbeda dengan video klip Queen yang biasanya penuh warna, dalam video ini dibuat hitam putih. Freddie tampil rapi, memakai kemeja lengan panjang dan rompi bergambar kucing. Freddie tampak kurus, pipinya tirus.

Namun matanya masih menyala memancarkan api. Dia seolah-olah mengabarkan pada dunia: Freddie adalah seorang penampil yang total. Bahwa di ujung umurnya—dia tahu usianya tak akan lama lagi—dia masih akan memberikan senyum lebar serta kerlingan mata nakal, dan akan membuatmu merasakan ledakan perasaan: sedih, haru, juga bahagia hingga tersenyum lebar. 

Dan saat Freddie berbisik “I still love you…” di akhir bagian video sembari tersenyum, itu adalah senyum perpisahan. Freddie, vokalis flamboyan tanpa tanding itu, masih mencintai kalian: keluarganya, teman bandnya, para sahabatnya, dan penggemarnya. Freddie memberikan cintanya untuk kita semua.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password