Sejarah 3 September: Yok Koeswoyo, Legenda Indonesia dari Tuban

Yok Koeswoyo (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Koesroyo Koeswoyo atau Yok Koeswoyo merupakan salah satu legenda musik Indonesia, Ia adalah anggota grup band Koes Bersaudara dan Koes Plus. Di band yang membesarkan namanya itu, Ia memainkan instrument bass sekaligus vocal latar.

Yok merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara anak dari pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini asalt Tuban. Jika dilihat dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke-7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda dulu.

Yok Koeswoyo lahir di Tuban pada 3 September 1943, tepat hari ini 77 tahun yang lalu. Ia melewati masa kecilnya di Tuban, Jawa Timur bersama saudara-saudaranya. Pada tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta, demi mengikuti mutasi Sang ayah bekerja sebagai pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri. Di Jakarta mereka sekeluarga menempati rumah di jalan Mendawai III, No. 14, Blok C, Kebayoran baru, Jakarta Selatan.

Saat masih kecil, Yok termasuk anak yang lumayan nakal, meski tidak senakal abangnya Nomo yang pernah dipukul hingga pingsan oleh ayah mereka. Kenakalan Yok yang paling besar adalah pernah memukul kepala Nomo dengan kayu kaso sewaktu bertengkar dengan abangnya itu. Pendidikan terakhir Yok hanya sampai sekolah menengah di SMA Triguna Jakarta. Ia tak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena memilih dunia musik sebagai hidupnya mengikuti saudara-saudaranya.

Bermula dari Koes Bersaudara

Yok Koeswoyo mulai aktif bermusik bersama saudara kandungnya keluarga Koeswoyo, yakni Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo pada vocal pada vokal dan seorang lagi dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya.

Pada mulanya mereka menamakan grup ini Koes Brothers pada tahun 1958. Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twins, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini lebih condong mengadaptasi pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik yakni Yon dan Yok. Mereka merekam album pertama pada tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini kemudian berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.

Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personel kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara. Dalam formasi yang baru ini Yok didaulat memegang instrumen bass menggantikan peran Jon, disamping sebagai backing vocal mendampingi suara Yon.

Grup ini pun meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang dilarang pada masa itu. Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI). Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.

Dalam pengakuan Yok Koeswoyo pada saat acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV pada Kamis 11 Desember 2008, terungkap sebuah fakta yang selama ini dirahasiakan. Bahwa sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia.

Pasalnya saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh ia-ia, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 September, meletus G30S,” cerita Yok.

Retaknya Hubungan Koes Bersaudara

Baca Juga:   Sejarah 22 September: Dimulainya Pertempuran Iran Vs Irak, Perang Terpanjang Abad 20

Meraih kesuksesan dalam bermusik tak serta merta merubah kehidupan anggota grup ini, secara ekonomi grup ini masih kesulitan. Hal ini kemudian membuat Nomo Koeswoyo berinisiatif untuk meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum pada tahun 1969.

Ia memilih berusaha sampingan di luar bidang musik sebagai pedagang untuk menghidupi keluarganya. Hal ini tak disetujui oleh Tony, lalu perdebatan pun terjadi, dan oleh Tonny Koeswoyo pun ia disuruh memilih untuk fokus pada musik di Koes Bersaudara atau keluar. Nomo pun bersikap pragmatis dan memiliki prinsip yang berbeda dengan sang kakak, karena saat itu ia telah menikah dan telah memiliki 1 orang anak. Nomo pun memutuskan untuk keluar dari band, dan posisi drummer yang ditinggalkan Nomo Koeswoyo kemudian digantikan oleh KAsmuri (dikenal dengan panggilan Murry).

Yok Koeswoyo sempat memprotes keras terhadap keputusan abangnya Tonny yang mengeluarkan Nomo dari band yang dipimpinnya. Ia pun memilih ikut mengundurkan diri sebagai wujud solidaritas terhadap kakak laki-laki ketiganya tersebut.

Yok pun tak mau bergabung dengan band baru dengan orang luar di luar trah Koeswoyo. Solidaritas kepada abangnya tersebut bahkan dilakukan dengan cara yang cukup tegas. Mereka tidak mengizinkan alat musik (milik keluarga Koeswoyo) yakni bass miliknya dan drum yang ditinggalkan Nomo untuk dimainkan oleh para pemain pengganti di luar keluarga Koeswoyo.

Mereka mengatakan agar band dibubarkan saja. Lebih jauh bahkan ia dan abangnya Nomo sempat hampir menghajar Tommy Darmo yang dikira membawa Murry. Namun Tonny tetap bersikukuh meneruskan kiprahnya bermusik dengan Yon. Oleh Tonny, posisi Yok sebagai pemain bass digantikan oleh bassis lain yang berasal dari luar keluarga Koeswoyo yakni Totok Adji Rahman. Tonny pun akhirnya mengubah nama band barunya menjadi Koes Plus. Mereka menghasilkan album I Koes Plus volume I pada tahun 1969.

Berada di Puncak Kesuksesan Bersama Koes Plus

Seiring berjalannya waktu, Yok akhirnya berubah pikiran dan bersedia bergabung dengan Koes Plus menggantikan posisi Totok Adji Rahman sebagai bassis pada tahun 1970. Sejak saat itu Yok tetap berada dalam grup Koes Plus yang di kemudian hari berhasil meraih kesuksesan menjadi salah satu grup legendaris di Indonesia. Bahkan Koes seolah menjadi raja dalam dunia musik tanah air di era 1970-an. Koes Plus melahirkan lebih dari 100 album dan sebagian besar menjadi lagi-lagu hits yang melegenda hingga saat ini.

Nama Koes Plus pun mulai dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu “Derita” serta “Manis Dan Sayang” dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970. Saat itu Yon bersama Koes Plus tampil bersama band Panbers dan beberapa band sohor lainnya.

Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbendung, menggelegak, dan merajai industri musik Indonesia. Terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco. Dalam catatan pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album. Periode 1970-an seolah menjadi era mereka. Lagu-lagu mereka hits di tangga lagu Indonesia,

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password