Sejarah 29 Agustus: Lahirnya Dunia Fantasi Bermula dari Ambisi Sukarno

Instagram.com/@infodufan

Bosscha.id – Dunia Fantasia tau lebih dikenal dengan istilah Dufan merupakan sebuah wahana wisata yang berada di utara Jakarta. Proyek pembangunan Dufan bermula dari ambisi Sukarno yang ingin membuat tempat wisata berskala besar selepas ia berkunjung ke Disneyland di Amerika pada tahun1956.

Sukarno lantas memilih Ancol sebagai lokasi pembangunan tempat wisata tersebut. Bagi penduduk Jakarta, Ancol kerap kali disebut sebagai tempat “jin buang anak,” karena lokasi ini dipenuhi rawa-rawa. Padahal sejak awal abad ke-17, Kawasan Ancol telah dilirik oleh Gubernur Hindia Belanda – Adriaan Valckenier, sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang berpotensi besar untuk dikembangkan.

Namun, sehubungan dengan fokus Pemerintah yang saat itu masih tertuju pada Perang Kemerdekaan, maka pengembangan potensi wisata Ancol pun terabaikan. Baru setelah Indonesia merdeka, Sukarno pun merealisasikan proyek ini.

Sukarno pun lantas mengeluarkan Keputusan Presiden mengenai Panitia Pembangunan Proyek Ancol dan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1960 guna menyulap Ancol yang kerap dinilai angker menjadi tempat wisata.

Lantas, Sukarno pun menunjuk Gubernur DKI kala itu, Soemarno Sosroatmodjo, selaku pelaksana pembangunan Ancol, demikian terang Sugianto Sastrosoemarto dan Budiono dalam Jejak Soekardjo Hardjosoewirjo di Taman Impian Jaya Ancol (2010).

“Marno, sebagai pemimpin, kamu harus mampu berpikir tentang apa yang bisa kamu perbuat untuk rakyatmu lima puluh tahun yang akan datang […] Bukan untuk satu atau dua tahun ke depan, tapi lima puluh, atau seratus tahun ke depan. Bagaimana kamu bisa memberikan tempat yang bisa membahagiakan rakyat Jakarta agar penduduknya menikmati hawa segar laut, bisa melihat cerianya anak-anak bermain di pantai, ditingkahi debur ombak, dan tiupan angin yang semilir,” terang Sukarno kepada Soemarno seperti dicatat Historia.

Kemudian proyek Ancol pada akhirnya dipegang kontraktor asal Perancis bernama Compagnic Industriale de Travaux (Citra) karena sebagian besar kontraktor dalam negeri tidak memenuhi kualifikasi teknis pembiayaan maupun pengerjaan. Sebagai pemegang kendali proyek, masih mengutip Historia, Citra hanya mengerjakan pembangunan tahap pertama yang meliputi penimbunan rawa-rawa, empang, dan hutan belukar, dan pembangunan tahap pertama pun rampung pada Februari 1966.

Pembangunan Ancol pun kemudian diteruskan oleh Gubernur DKI yang baru, yakni Ali Sadikin. Kontraktornya juga berbeda. Kali ini, Ali Sadikin menunjuk PD Pembangunan Jaya yang dikepalai Ciputra.

Salah satu rencana yang disodorkan Ciputra ialah mendirikan tempat rekreasi serupa Disneyland di Ancol. Pemerintah pun setuju dan segera mengirimkan seluruh tim arsitek dan teknisi Ancol ke Amerika untuk mempelajari segala hal yang berhubungan dengan Disneyland untuk nantinya diterapkan dalam wujud baru bernama Dunia Fantasi.

Batu pertama pembangunan Dufan pun diletakkan pada 17 September 1982 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, R. Soeprapto. Proses pembangunan di atas lahan seluas 9,5 hektar tersebut dibiayai sepenuhnya oleh pinjaman dari Bank BNI 1946. Setelah tiga tahun bersolek, pada 29 Agustus 1985, tepat hari ini 35 tahun silam, Dufan pun resmi dibuka untuk umum.

Baca Juga:   Gempa 5,1M Selatan Jawa dari Aktivitas Subduksi, Tidak Potensi Tsunami

Seperti dilansir Wikipedia Dunia Fantasi dibagi dalam beberapa kawasan dengan tema tersendiri dan ciri khas wilayah masing-masing. Pembagian kawasan ini ditujukan untuk membangkitkan imajinasi pengunjung yang diharapkan merasakan sensasi berjalan-jalan pada daerah Jakarta zaman dahulu, Eropa, Amerika, Indonesia, Asia, Fantasi Yunani, Fantasi Hikayat, Balara, Istabon, dan Dunia Kartun. Selain atraksi permainan, kawasan ini juga memiliki sejumlah restoran dan toko-toko souvenir.

Dufan pun seketika menjadi magnet bagi jutaan rakyat Indonesia dari luar Jakarta. Tak lengkap rasanya jika datang ke Jakarta tanpa berkunjung ke Dufan. Seiring berjalannya waktu, Badan Pelaksana Pembangunan (BPP) Proyek Ancol mulai melakukan pembenahan secara internal menyusul perubahan status badan hukumnya menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol (“Ancol”) melalui Akta Perubahan No. 33 tanggal 10 Juli 1992.

Menyusul pembenahan tersebut, sebanyak 80% kepemilikan saham Jaya Ancol dikuasai oleh Pemda DKI Jakarta dan sebesar 20% sisanya dimiliki oleh PT Pembangunan Jaya. Di tengah ekspansi bisnis yang kian pesat dan perekonomian domestik yang kian membaik, PT Pembangunan Jaya Ancol berupaya memperkuat struktur permodalannya dengan melakukan penawaran umum saham perdana kepada publik (Initial Public Offering/”IPO”) dengan melepas 80.000.000 lembar saham biasa di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 Juli 2004.

Menyusul aksi korporasi tersebut, PT Pembangunan Jaya Ancol resmi menyandang status Perusahaan Terbuka dengan komposisi kepemilikan saham Ancol otomatis mengalami perubahan dimana Pemda DKI Jakarta masih bertindak sebagai pemegang saham utama namun total kepemilikan sahamnya 72% saham Ancol, PT Pembangunan Jaya memiliki 18% dan publik memiliki sisanya sebesar 10%.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password