Sejarah 28 Agustus: Dr. Setiabudi, Keturunan Belanda yang Memuliakan Pribumi

Dr. Setiabudi dalam perangko (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker namun bangsa Indonesia lebih mengenalnya sebagai Douwes Dekker atau populer dengan nama Danudirja Setiabudi. Pria kelahiran Pasuruan ini merupakan salah satu orang yang memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Douwes Dekker terlahir dari keluarga yang berada, ayahnya bernama Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker yang bekerja sebagai agen di sebuah bank ternama yang bernama Nederlandsch Indisch Escomptobank. Ibunya bernama Louisa Neumann, orang Belanda yang memiliki darah keturunan Jawa.

Jika melihat silsilah orangtuanya itu, Douwes Dekker golongan Indo (golongan tanggung). Pada masa colonial golongan ini dianggap lebih rendah dibanding orang Belanda atau Eropa tulen. Tapi mereka tak bisa dianggap lebih rendah daripada warga negara kelas tiga seperti pribumi—yang disebut inlander. Golongan yang disebut inlander adalah golongan tersial. Sementara itu, golongan Belanda atau Eropa tulen adalah yang paling beruntung di Hindia Belanda. 

Meski termasuk golongan Indo karena ibunya punya memiliki darah Jawa, yang berarti kebelandaannya tidak murni, namun dalam status hukum dia masuk golongan orang Eropa. Dengan status tersebut, Douwes Dekker, yang biasa dipanggil Nes oleh Sukarno, sempat mencicipi pendidikan di sekolah elite Gymnasium Koning Willem III School (HBS KW III) di Salemba. 

Orang-orang yang bisa baca-tulis aksara Latin di awal abad ke-20 adalah golongan minoritas. Sementara itu golongan inlander, yang sebagian besar tidak bisa baca-tulis aksara Latin, adalah mayoritas. Nes yang hidupnya lebih beruntung benci dengan istilah “inlander”. Menurutnya, istilah itu diadakan-adakan oleh pejabat Belanda pro-kolonialisme.

Sebagai orang yang secara hukum dianggap Belanda, ditambah ijazah sekolah KW III, Nes bisa saja hidup nyaman dengan jadi pegawai kolonial yang gajinya lumayan besar. Tapi sejarah Indonesia mencatat Nes sebagai Douwes Dekker yang membela dan memuliakan kaum pribumi dalam pergerakan nasional. Atas jasanya itu, dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 590 tahun 1961 tanggal 9 November 1961.

Pada masa kolonial, Nes lebih dari sekadar kaum partikelir (orang-orang yang tidak bekerja kepada pemerintah). Setidaknya, sejak awal abad ke-20, Nes ingin menghapus diskriminasi rasial dan mendorong agar kehidupan orang-orang pribumi lebih baik. Nes merasa wilayah yang kala itu disebut Hindia Belanda sebagai tanah airnya juga. 

Ia bersama Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo kemudian mendirikan sebuah partai politik yang berhaluan nasionalis pertama yang bernama Indische Partij pada 25 Desember 1912 adalah bukti bahwa dia merasa tidak berbeda dengan orang Eropa, orang Indo, atau orang pribumi. Lewat koran De Express, menurut Margono Djojohadikusumo, ia mengampanyekan kesetaraan rasial. Semua adalah satu dan seharusnya bekerja bersama-sama.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, partai ini dapat menghimpun anggota hingga mencapai 5000 orang dan sangat populer dikalangan pribumi Indonesia. Berkembang pesatnya Indische Partij sebagai partai politik nasional pertama membuat pemerintah Belanda kemudian mencurigai gerak-gerik dari partai ini.

Ada yang menuduh partai ini anti-kolonial dan bertujuan agar Indonesia dapat merdeka dari tangan Belanda. Hingga pada tahun 1913, Partai Indische Partij akhirnya dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Para pendirinya yaitu Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo yang kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai akhirnya diasingkan.

Nes pun kemudian diasingkan ke Eropa. Selama di Eropa, ia tinggal bersama keluarganya dan melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program doktor di Universitas Zurich, Swiss dalam bidang ekonomi.

Di Swiss, ia sempat terlibat konspirasi dengan kaum revolusi India dan hingga kemudian ia ditangkap di Hongkong dan kemudian diadili disana. Di Singapura, pada tahun 1918, ia juga sempat di tahan dan kemudian dipenjara selama dua tahun.

Setelah bebas, ia kemudian kembali ke Hindia Belanda (Indonesia). Di Indonesia, Ia kemudian kembali aktif di dunia jurnalistik. Tulisan-tulisannya kemudian banyak menyindir kaum kolonial. Di saat itu juga, Nes kemudian mendirikan partai baru penerus Indische Partij yang bernama Nationaal Indische Partij namun partai tersebut tidak mendapat izin dari pemerintahan kolonial Belanda.

Baca Juga:   Sejarah 18 September: Peristiwa Madiun, Musnahnya Kaum Tua dan Bangkitnya Kaum Muda PKI

Pada tahun 1919, Nes dituduh terlibat dalam peristiwa kerusuhan petani perkebunan tembakau Polanharjo, Klaten. Namun di pengadilan, ia kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Namun tuduhan baru kemudian menimpanya, Ia dituduh menulis hasutan dan melindungi seorang redaktur surat kabar yang menulis komentar tajam terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Namun pengadilan kemudian menyatakan Ia tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuduhan. Di tahun yang sama juga, ia memilih bercerai dengan istrinya yaitu Clara Charlotte Deije. Banyaknya tuduhan-tuduhan tentang tulisan dan aktifitasnya dibidang jurnalistik membuat Nes kemudian meninggalkan dunianya tersebut dan kemudian aktif dalam melakukan penulisan buku-bumi semi ilmiah.

Dan atas masukan dari sahabatnya yaitu Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara), Nes kemudian terjun ke dalam dunia pendidikan dan mendirikan Ksatrian Institut di Bandung. Sekolah yang didirikan oleh Nes ini lebih banyak mengajarkan tentang sejarah dari Indonesia dan juga sejarah dunia yang ditulis olehnya endiri.

Kemudian Ksatrian Institut ini dituduh sebagai anti kolonial dan pro terhadap Jepang. Akhirnya pada tahun 1933, buku-buku karangan Douwes Dekker banyak disita dan kemudian dibakar oleh pemerintahan kolonial Belanda. Ia juga dilarang mengajar.

Serangan Jerman ke Eropa membuat banyak orang-orang Eropa yang ditangkap termasuk Douwes Dekker yang dituduh sebagai Komunis. Douwes Dekker kemudian dibuang ke Suriname pada tahun 1941 yang juga menyebabkan ia kemudian berpisah dengan istri keduanya Johanna Petronella Mossel yang memilih untuk menikah lagi dengan seorang pribumi bernama Djafar Kartodiredjo.

Di Suriname, Douwes Dekker tinggal di kamp ‘Jodensavanne’ yang sempat menjadi kamp orang Yahudi. Di kamp tersebut, kehidupan Douwes Dekker sangat memprihatikan bahkan ketika ia berumur 60 tahun, ia sempat kehilangan penglihatan.

Pada saat perang dunia II berakhir, Douwes Dekker kemudian dikirim ke Belanda pada tahun 1946. Di sana ia bertemu dengan seorang perawat bernama Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel yang kemudian menemaninya ke Indonesia.

Ia tiba pada tanggal 2 januari 1947 di Yogyakarta dan sempat mengganti namanya untuk menghindari intelijen. Di tahun itu juga ia menikah dengan Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel yang kemudian dikenal dengan nama Haroemi Wanasita, ia menikahi Nelly setelah mengetahui bahwa istri keduanya, Johanna telah menikah lagi.

Pada tahun 1948 ketika agresi militer Belanda terhadap Indonesia, Douwes Dekker pun ditangkap oleh Belanda dan kemudian di interogasi dan dikirim ke Jakarta. Namun karena kondisi fisiknya yang sudah renta dan berjanji tidak akan terjun lagi ke dunia politik, Douwes Dekker kemudian dibebaskan dan ia kemudian tinggal di Bandung di wilayah bernama Lembangweg.

Ia kemudian aktif kembali di dunia pendidikan di Ksatriaan Instituut yang pernah ia dirikan dan kegiatannya adalah menyusun autobiografi dirinya dan juga ia banyak merevisi buku-buku sejarah yang pernah ia tulis.

Pada tanggal 28 agustus 1950 tepat hari ini 70 tahun yang lalu, Douwes Dekker akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, namun di batu nisan makamnya tertulis ia wafat pada tanggal 29 agustus 1950. Beliau kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Untuk menghormati jasa-jasanya, namanya yag lebih dikenal sebagai ‘Setiabudi’ kemudian diabadikan sebagai nama jalan di kota kembang ini.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password