Sejarah 24 Agustus: Suwarsih Djojopuspito, Pejuang Perempuan yang Melawan Lewat Tulisan

Potret Suwarsih (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Sebagai orang Indonesia sejatinya kita patut berbangga memiliki banyak perempuan cerdas nan pemberani. Disamping banyaknya pahlawan perempuan yang rela berkorban jiwa raga di medan laga melawan para penjajah, sejarah juga mencatat perlawanan seorang Suwarsih Djojopuspito.

Nama belakangnya dia peroleh dari perkawinannya dengan Sugondo Djojopuspito pada 1933. Dia tampaknya menemukan jodoh yang tepat karena sama-sama mencintai dunia pendidikan.

Usai menikah, Suwarsih dan Sugondo pindah ke Bandung dan mengajar di Perguruan Tamansiswa Bandung, di mana Sugondo menjadi kepala sekolah di sana.

Meskipun memiliki ijazah sebagai guru sekolah Belanda dan memiliki kesempatan untuk mengajar di sekolah Belanda namun ia lebih memilih bekerja di perguruan pribumi. Ia juga aktif dalam Perkoempoelan Perempoean Soenda sebagai anggota. Kakaknya, yang bernama Suwarni, menikah dengan A.K.Pringgodigdo.

Namun, keduanya bahu membahu dalam dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia yang sedang menggelegak di setiap hati manusia, apalagi pemuda Indonesia ketika itu. Suwarsih seperti mendapat semangat tambahan untuk aktif dalam perjuangan setelah pernikahannya dengan Sugondo.

Namun, perempuan yang memiliki nama kecil Tjitjih ini tidak aktif mengangkat senjata dalam berjuang. Perlawanannya terhadap kolonialisme dia lancarkan melalui karya tulisnya, termasuk tulisan fiksi.

Salah satu karya novelnya yang terkenal sebagai bentuk perlawanan senyap berjudul Buiten Het Gareel (Keluar dari Jalur) yang ditulis pada medio tahun 1930. Suwarsih menuruti saran Charles Edgar du Peron, penulis indo kelahiran Batavia, untuk menulis dalam bahasa Belanda. Du Peron juga yang kemudian membantu penerbitannya. 

Naskah Buiten Het Gareel semula ditulis dalam bahasa Sunda dan dikirim ke Balai Pustaka (BP) yang masih bernaung di bawah pemerintah kolonial. Namun, naskah tersebut ditolak dengan alasan berbau politik perlawanan terhadap pemerintah kolonial sehingga dinilai kurang berguna untuk bahan pengajaran.

Ide cerita novel kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sehingga judulnya menjadi “Manusia Bebas”, itu mirip sekali dengan perjalanan hidup Suwarsih dan Sugondo. Suami-istri yang menggeluti dunia pendidikan dan pergerakan kemerdekaan sekaligus.

Tokoh utamanya adalah Sudarmo dan Sulastri. Karena aktivitasnya dalam pergerakan kemerdekan, Pemerintah Kolonial Belanda bahkan sering mengincar Sudarmo.

Karena menjadi incaran Pemerintah Belanda, Sudarmo pun tidak hanya menekuni pekerjaan sebagai pengajar di sekolah. Dia melakukan bermacam-macam pekerjaan, tetapi hatinya tetap memilih mengajar yang menjadi idealismenya.

Cerita itu sangat kental diwarnai kejaran polisi kolonial terhadap Sudarmo dan keluarganya yang aktivitas pergerakannya dianggap membahayakan pemerintah Belanda saat itu.

Setelah melalui proses panjang, Buiten Het Gareel akhirnya diterbitkan pada tahun 1940 dan cetak ulang tahun 1946. Karya Suwarsih ini dianggap penting di masanya.

Penulis buku tentang pergerakan perempuan Indonesia, Cora Vreede de Stuers menyebut karya Suwarsih ini merupakan bentuk pelawanan pasif pada pemerintah Hindia Belanda. Terlebih pada pertengahan 1930 hingga 1940-an Pemerintah Belanda sedang melakukan penghematan besar-besaran akibat dilanda krisis dan gencar menangkapi semua orang yang dianggap nonkooperatif.

Alhasil, perjuangan kemerdekaan dilakukan lewat cara-cara halus seperti menulis roman seperti dilakukan Suwarsih atau mendirikan sekolah liar sebagai wujud kepedulian pada rakyat bawah yang tak sanggup menjangkau pendidikan.

Sepele Namun Kritis

Kisah Sulastri dalam buku tersebut memang benar adanya merupakan kisah penulisnya sendiri. Suwarsih menulis Manusia Bebas untuk merekam masa prihatin sepanjang 1933-1937 ketika ia dan suaminya, Soegondo Djojopuspito, harus pindah dari satu kota ke kota lain. Mereka berpindah-pindah dari Purwakarta, Bandung, Semarang, lalu kembali ke Bandung pada 1937.

Menurut du Peron, Suwarsih menulis novel itu dengan gaya yang sangat sederhana dan mengisahkan hal-hal yang “sepele” dan “cetek-cetek”. Novel itu bahkan lebih menyerupai sebuah dokumen atau buku harian Suwarsih yang nama pemiliknya diganti menjadi Sulastri.

Bagi perempuan kelahiran Bogor pada 20 April 1912, dunia pergerakan, meminjam istilah Aquarini Priyatna dalam makalah bertajuk “Suwarsih Dojopuspito: Menciptakan Subjek Feminis Nasionalis Melalui Narasi Autobiografis” (2013), dimaknai sebagai perlintasan ruang intelektual dan domestik yang harus ia lakukan terus menerus: rumah, pergerakan perempuan, pergerakan nasional—hal-hal yang sulit dilakukan, tetapi biasa bagi perempuan.

Baca Juga:   Ribuan Warga Kabupaten Malang Terdampak Gempa

Perlintasan itu menantang kecerdasan dan kemampuannya menyesuaikan diri. Namun perlintasan itu juga yang menyediakan banyak hal “cetek-cetek” yang mendorongnya berefleksi dan bersikap kritis atas berbagai peran yang harus ia jalani.

Diceritakan dalam Manusia Bebas, suatu hari Sudarmo mencemooh kesenangan Sulastri mengenakan baju bagus sebagai mental borjuis. Ejekan itu membuatnya dongkol. Sulastri merasa sudah banyak berkorban dan bekerja keras demi cita-cita mereka berdua dan karena cintanya pada Sudarmo. Namun hanya karena kesenangan Sulastri pada “hal-hal sepele” dan pakaian-pakaian, ia merasa bisa menegur atau membentak Sulastri (hlm. 46).

Pada lain hari, Sulastri terang-terangan mengkritik suaminya: “Kau memang angkuh. Kau menganggap rendah seseorang yang tak berpendidikan. Orang-orang menyebut kita angkuh karena kau dan aku tak menyelami hati mereka. Kawan-kawan sekerja kita tak membuka hati mereka terhadap kita. Padahal kita sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan mereka.”

Tak hanya kepada suaminya yang merupakan representasi ego maskulin dalam pergerakan nasional, Sulastri juga kritis kepada pergerakan perempuan. Lagi-lagi ini berkaitan dengan yang “cetek-cetek” tadi. Marti (tokoh wanita lain dalam buku Manusia Bebas) menegur kebiasaan Sulastri yang suka membaca roman dan menulis buku harian. Marti meminta Sulastri membaca buku yang lebih berguna bagi dunia pergerakan perempuan atau menulis artikel untuk majalah perempuan yang diasuh organisasi perempuan yang ia pimpin. 

Selain Sulastri dan Marti, ada banyak tokoh perempuan dalam Manusia Bebas yang mewakili rupa-rupa karakter dan permasalahannya masing-masing yang dipengaruhi dan memengaruhi jalannya pergerakan nasional: konflik keluarga, kesusahan ekonomi, poligami, antipoligami, dan lain-lain. Semuanya ditampilkan dalam dialog dan hubungan-hubungan antarpribadi yang wajar terjadi sehari-hari.

Melalui hal “sepele” itu Suwarsih merefleksikan kembali kebebasan serta cita-cita dan perjuangannya. Apakah cara atau tujuan yang paling penting? Apakah untuk ambisi pribadi atau untuk kaumnya? Toeti Heraty menyebut karakter seperti ini sebagai perempuan yang teguh dalam keutuhan identitas dan aspirasi. Demikian teguh karena diiringi sikap kritis dan upaya memahami lingkungannya.

Suwarsih kerap menampilkan berbagai karakter perempuan dalam novel-novel yang ditulisnya, dari yang menurut norma sosial dilabeli sebagai “perempuan baik-baik” hingga yang “bukan perempuan baik-baik”. Alih-alih menghakimi tokoh-tokoh perempuannya, Suwarsih memperlihatkan para perempuan itu sebagai agen kebebasan bagi diri mereka sendiri.

Suwarsih meninggal di Yogyakarta pada 24 Agustus 1977, tepat hari ini 43 tahun lalu, pada usia 65. Novelnya yang berjudul Arlina memenangkan Hadiah Penghargaan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1975. Setahun berikutnya Dewan Juri Sayembara Roman DKJ 1976 merekomendasikan novel Maryati dan Kawan-kawan sebagai karangan yang dapat diterbitkan. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password