Surastri Karma Trimurti, Pejuang yang Bersenjatakan Mesin Tik

Dok.Istimewa

Bosscha.id – Nama Surastri Karma Trimurti alias S.K Trimurti mungkin asing bagi sebagain besar masyarakat Indonesia kala ini. Padahal tokoh nasional perempuan satu ini memiliki peran sangat besar dalam perjuangan Indonesia, khususnya di dunia para penyambung lidah rakyat. Berguru langsung kepada Sukarno, ia berpartisipasi aktif menulis dan juga berpolitik dalam Partai Indonesia (Partindo – partai pecahan PNI pimpinan Sukarno).

Seperti dimuat dalam jurnal ilmiah karya Ipung Jazimah yang berjudul “S K Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia”, Trimurti lahir pada 11 Mei 1912 di Desa Sawahan, Boyolali, Karesidenan Surakarta. Ayahnya bernama R.Ng. Salim Banjaransari Mangunsuromo dan ibunya bernama R.A. Saparinten Mangunbisomo. Ayah dan ibunya merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Dalam bukunya pun Ipung Jazimah menyebutkan bahwa perkenalan pertama Trimurti dengan Bung Karno terjadi menjelang akhir tahun 1932. Saat itu, Trimurti yang masih melakoni profesi guru di sekolah khusus perempuan di Banyumas, berkesempatan mengikuti rapat umum Partindo di Purwokerto.

Sukarno ternyata bukan cuma pandai memikat perempuan lewat rayuan gombalnya, tetapi juga lewat orasi. Trimurti yang saat itu baru menginjak usia 20 tahun, mengaku tergerak untuk bergabung dengan Partindo sesaat setelah mendengar pidato Sukarno.

“Meski Bung Karno berpidato tanpa pengeras suara, kami masih bisa mendengar suaranya yang membahana. Bukan main pidato itu. […] Saat itulah saya tergugah untuk ikut bergabung dengan Partindo. Artinya, saya harus melepas jabatan saya sebagai guru,” ungkap Trimurti seperti dikutip oleh Ipong.

Kehendaknya hanya satu, yakni berguru langsung tentang seluk beluk politik kepada Sukarno. Oleh karena itu, ia memilih ikut kursus kader di Partindo cabang Bandung, tempat Sukarno bermukim bersama Inggit Garnasih setelah keluar dari penjara Sukamiskin. Di Bandung, Trimurti beserta kader perempuan lainnya di tempatkan di sebuah asrama Partindo di Jalan Astana Anyar.

“Saya sendiri yang mau masuk partai politik itu pada tahun 1933. Waktu itu saya berada di Bandung. Saya berguru pada Bung Karno, belajar politik pada beliau,” tulis Trimurti dalam Gelora Api Revolusi yang disunting oleh Colin Wild dan Peter Carey (1986: hlm. 116).

Menurut catatan Ipung, ternyata bukan hanya Trimurti yang “menguntit” Sukarno ke Bandung. Semenjak Sukarno memutuskan bergabung dengan partai tersebut, jumlah anggota Partindo cabang Bandung yang pada 1932 hanya 226 orang, melompat menjadi 3.762 orang di tahun 1933.

S.K Trimurti Penyambung Lidah Rakyat

Selain berpolitik, Trimurti juga senang menulis. Guru utama SK Trimurti dalam dunia tulis-menulis adalah Sukarno, karena Ia adalah sosok yang pertama kali meminta SK Trimurti untuk menuangkan tulisannya dalam koran Pikiran Rakjat, yang isinya berupa gagasannya tentang semangat kemerdekaan yang dibawakan dengan latar belakang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Awalnya Ia menolak karena merasa tidak cukup percaya diri dengan hasil tulisannya.

Namun Sukarno meyakinkan dan menyemangati Trimurti. Akhirnya Trimurti memaksakan dirinya untuk menulis dan dimuatlah tulisannya yang pertama kali di media massa yaitu di Pikiran Rakyat.

Babak awal karier jurnalistik Trimurti hanya berlangsung singkat. Setelah Sukarno dibuang ke Ende, Flores, pada tahun 1934, Partindo dan sejumlah medianya bagai anak ayam kehilangan induk. Setelah itu, Trimurti melanjutkan mengasah pengalaman di bidang pers dengan mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar Berdjoeang yang terbit di Surabaya.

Di tahun-tahun berikutnya, mesin tik hampir tidak pernah lepas dari genggamannya. Saking cintanya pada dunia tulis-menulis, Trimurti bahkan menerbitkan majalah. Sejak 1935, hampir setiap tahun ia terus membidani kelahiran majalah dan surat kabar. Mulai dari BedugTerompet, dan Suara Marhaeni.

Setelah menikah dengan Sayuti Melik, SK Trimurti bahkan mendirikan majalah sendiri yang bernama Pesat. Sayangnya majalah ini terpaksa ditutup ketika Jepang datang karena Jepang melarang semua surat kabar kecuali yang dikelola oleh Jepang sendiri.

Baca Juga:   Gempa 5,1M Selatan Jawa dari Aktivitas Subduksi, Tidak Potensi Tsunami

Mak Ompreng dan Emansipasi Wanita

Nama “Trimurti” sendiri sebenarnya hanya nama pena. Menurut Reni Nuryanti dalam antologi Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (2007: hlm. 164), nama “Karma” dan “Trimurti” digunakan sebagai nama samaran secara bergantian untuk menghindari delik pers pada masa kolonial Belanda. Lama-kelamaan, nama ini pun menjadi bagian identitas pers Trimurti.

Meskipun berulang kali berganti nama samaran, namun ia tetap kena ciduk pemerintah kolonial. Sekitar tahun 1939, Trimurti terpaksa mengikuti proses hukum di pengadilan kolonial lantaran memuat artikel yang mengampanyekan anti-imperialisme dalam majalah Pesat.

Saat Jepang masuk ke Indonesia, majalah Pesat pun dibredel dan Trimurti harus berurusan dengan otoritas militer karena aktivitas persnya dinilai gemar menyudutkan Jepang. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara Blitar sampai tahun 1943.

Berulang kali Ia merasakan dinginnya lantai penjara tak lantas membuat Trimurti kapok. Selain soal kemerdekaan, secara tidak langsung tulisan-tulisan Trimurti juga kerap menyinggung masalah emansipasi perempuan. Hal ini membuat para perempuan pergerakan banyak yang mengidolakan dirinya.

Di penjara Blitar misalnya, Trimurti berjumpa dengan Umi Sardjono, pejuang perempuan sekaligus pengagumnya. Mereka bersama-sama mendirikan organisasi Barisan Buruh Wanita (BBW) dan Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang kemudian dikenal sebagai Gerwani sejak tahun 1954.

Meskipun kecewa dengan keputusan Gerwani yang mendekat ke PKI, namun Trimurti aktif mengampanyekan ideologi Gerwani melalui surat kabar. Sejak tahun 1960, ia aktif menulis di Harian Rakjat (surat kabar PKI) dan di Api Kartini (jurnal milik Gerwani) dengan nama pena Mak Ompreng.

Menurut Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan (2010: hlm. 341), kolom Mak Ompreng ditulis dari perspektif ibu rumah tangga paruh baya dari kelas bawah. Trimurti membawakan Mak Ompreng dengan gaya bahasa rakyat yang sederhana tapi sangat tajam. Ia pun tak jarang menyembur kelakuan para pejabat, bahkan mengkritik Presiden. 

“Kolom Mak Ompreng yang dimuat di Api Kartini maupun Harian Rakjat merupakan satu-satunya tempat [bagi Gerwani] untuk mengkritik Presiden Sukarno secara terbuka,” tulis Wieringa.

Pada tahun 1975 Trimurti bersama dengan teman-temannya mendirikan majalah bertemakan filsafat dan mental spiritual bernama Mawas Diri. Iklim yang berbeda membuat Trimurti banting setir mengenai tema penulisan di majalahnya.

Dalam karyanya, ia tak melulu menulis masalah politik, namun juga menulis tentang sosial ekonomi, wanita, dan perburuhan di Kedaulatan Rakyat, Majalah Gema Angkatan 45, Majalah Suara Perwari, Majalah Pradjoerit, Harian Nasional, dan Majalah Revolusioner.

Ia beranggapan bahwa majalah politik tak lagi sesuai karena keadaan negara tidak lagi dijajah walaupun negara demokratis seperti yang ia dan teman-teman seperjuangannya impikan belum sepenuhnya terwujud.

Perjuangan Trimurti untuk Indonesia merdeka mengilhami Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengabadikan nama SK Trimurti sebagai anugerah atau penghargaan dengan nama Trimurti Award. Anugerah ini bertujuan untuk melestarikan semangat dan prinsip perjuangan Trimurti baik kepada aktivis perempuan atau jurnalis perempuan.

Nama Trimurti dipilih karena dinilai sebagai salah satu tokoh kemerdekaan yang dipandang gigih memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan hak kaum tertindas terutama perempuan. Baik melalui karya-karya jurnalistik maupun lewat pengabdian sebagai aktivis perempuan dan politik.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password