Sejarah 10 Agustus: ‘Gatotkaca’ Karya Habibie Kebanggaan Indonesia yang Terlupakan

N-250 adalah pesawat pertama yang diproduksi oleh bangsa Indonesia (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 25 tahun yang lalu, atau tepat pada 10 Agustus 1995 langit Indonesia bertabur harapan. Kala itu Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)—kini bernama PT Dirgantara Indonesia—bersama otak di belakangnya, Bacharuddin Jusuf Habibie, hendak melakukan sebuah peristiwa bersejarah. Pasalnya hari itu, N250 alias “Gatotkaca”, sebuah pesawat bertipe turboprop dengan 70 kursi bikinan IPTN, akan melakukan uji terbang perdana atau maiden flight.

N-250 adalah pesawat pertama yang diproduksi oleh bangsa Indonesia. Sebelumnya ada CN-235, tapi merupakan hasil kerja sama dengan Spanyol. Makna angka 2 pada N-250 itu menunjukkan dua mesin yang dipakai pesawat sedangkan angka 50 menunjukkan banyaknya penumpang yang bisa diangkut yakni lima puluh orang. Rencana awal Gatotkaca dibuat adalah untuk kepentingan bisnis, tapi karena pada tahun itu terjadi krisis, maka rencana itu pun kandas. Pesawat N250 sudah diperkenalkan sejak tahun 1989, prototypes mulai dikembangkan di tahun 1992.

Jelang selesainya prototypes N250 yang pertama pada pertengahan 1994, Habibie mengeluarkan pernyataan, proyek N250 bukan hanya dilakukan di Bandung, tapi juga di Alabama, Amerika Serikat, serta Stuttgart, Jerman. Dua tahun sebelumnya, Habibie mendirikan anak perusahaan IPTN di Seattle, yang diberi nama IPTN North America (IPTNNA). Ia memberi tugas kepada IPTNNA menjual N250 di Amerika bagian utara. Tugas lainnya mempercepat sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA) sebagai izin pesawat bisa beroperasi di Amerika Serikat.  

Dalam artikel berjudul “Fasten Your Seat Belts: A Top Minister Gambles on a Smooth Flight,” Asiaweek menyebut bahwa uji terbang N250 adalah perjudian Habibie. Indonesia, yang kala itu adalah republik yang baru berumur 50 tahun dan masih berstatus negara berkembang, yang bahkan belum memiliki kemampuan menciptakan motor atau mobil, berani-beraninya langsung hendak membuat pesawat.

Penerbangan Gatotkaca sendiri terjadi selama 55 menit di udara. Momentum tersebut merupakan sejarah bagaimana Indonesia dapat menciptakan pesawat terbang dengan kualitas yang mampu bersaing dengan pesawat-pesawat buatan Amerika dan Eropa.

Pesawat dengan panjang 26,30 memiliki katogori VIP dan ekonomi. Interior yang dihadirkan cukup menawan, ruang kabin kelas ekonomi memiliki deretan kursi penumpang berwarna hijau-keabuan yang elegan, sementara kursi untuk kelas VIP dilapisi kulit berwarna coklat yang senada dengan warna furnitur kayu di dalam ruangannya.

Baca Juga:   Temukan Varian Corona Inggris, Italia Lockdown 3 Kota

Hampir 20 tahun ditinggalkan dan hanya ditampilkan di hangar, kondisi bagian luar pesawat ini masih terawat, namun bagian dalam pesawat tampak tidak terawat dengan baik, banyak bagian kursi yang terkelupas. Ditambah dengan mesinnya sudah sangat lama tidak dihidupkan, sehingga membutuhkan biaya pengembangan yang lebih tinggi untuk memfungsikannya lagi.

Proyek pesawat N250 berhenti sejak tahun 1998. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena krisis moneter Indonesia yang terjadi di era reformasi, terlebih ketika pemerintah menandatangani kerja sama dengan International Monetary Fund (IMF).

Kini pesawat Gatotkaca ini menjadi saksi bisu kecerdasan B. J. Habibie dalam mengejar ketertinggalan teknologi di Indonesia. Dan untuk mengenang hari bersejarah ini Pemerintah Orde Baru memperingati hari ini sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) merupakan salah satu hari bersejarah nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Peringatan ini pertama kali diadakan pada tahun 1995 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 1995.

Setahun setelah Gatotkaca terbang perdana, Habibie, yang disokong seratus persen oleh Presiden Soeharto, meluncurkan proyek pesawat yang lebih ambisius lagi, yakni pesawat jet N2130 berkapasitas 130 penumpang. Sebagai pemimpin proyek, ditunjuk Ilham Habibie. Untuk menyokong pembiayaan proyek yang ditaksir memakan ongkos US$ 2 miliar itu, dibentuklah PT Dua Satu Tiga Puluh (DSTP).

Saat N2130 sudah memasuki tahap desain, Krincingwesi, yang berkapasitas 70 penumpang, berhasil terbang perdana pada akhir 1996. Sementara itu, Gatotkaca diproyeksikan dipamerkan di Paris Air Show dua tahun setelah terbang perdana. Pilot Chris Sukardjono dan kopilot Sumarwoto membawa pesawat tersebut melintasi jarak 13.500 kilometer selama 30 jam pada 10 Juni 1997.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password