Sejarah 6 Agustus: Kala Little Boy Hancurkan Kota Hiroshima dan Membuat Jepang Menyerah

Ilustrasi Bosscha.id

Bosscha.id – Menyerahnya Jerman kepada sekutu pada 7 Mei 1945 menjadi penanda berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Namun, pertempuran di Pasifik masih saja berkecamuk. Maka, tiga hari kemudian, beberapa ilmuwan dan personel militer elite Amerika Serikat yang bergabung dalam “Target Committee” berkumpul di Los Almos, New Mexico, untuk merundingkan satu hal: kota Jepang manakah yang paling tepat dijadikan target bom atom. 

Dipilihnya bom atom karena dinilai mempunyai daya rusak yang maha dahsyat yang dinilai bisa mengakhiri perang seutuhnya. Sebelumnya, Jepang telah diberi pilihan ultimatum oleh Amerika Serikat (AS) lewat Deklarasi Postdam, namun mereka tetap menolak tunduk. AS pun menyiapkan sebuah prosedur penghancuran besar-besaran, berbekal suksesnya pengujian bom atom di gurun New Mexico pada bulan Juli di tahun yang sama.

Dan tepat hari ini 75 tahun yang lalu, atau pada 6 Agustus 1945, AS pun menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Jepang. Bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima itu dikenal dengan sebutan Little Boy. Walau sudah 75 tahun terjadi, kejadian itu masih membekas di benak banyak orang. Bom atom Little Boy yang meluluhlantakkan kota Hiroshima menjadi peristiwa paling memilukan yang masih diingat dalam sejarah.

Kenapa Hiroshima yang Dipilih?

Sebelum akhirnya Hiroshima menjadi target peledakan Little Boy, Tokyo sempat masuk pertimbangan, namun segera dicoret mengingat sebagian besar wilayahnya telah hancur oleh bom dan hasil kebakaran yang mengiringinya. Kurang tepat untuk menghasilkan efek kerusakan yang menakjubkan. Tokyo juga bukan basis pertahanan militer, sehingga tak memenuhi kriteria.

Di antara runtuhan dan puing bangunan yang tersisa di Ibukota, istana tempat Kaisar Hirohito tinggal masih berdiri tegak. Masuk akal jika AS seharusnya menyerang istana, dan wacana ini memang sempat didiskusikan oleh Komiter Target. Namun mereka mengurungkan niat sebab tak bisa memprediksi reaksi rakyat Jepang atas kematian seorang pria yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari itu. Alih-alih menyerah, rakyat Jepang justru bisa saja bangkit dengan semangat berlipat.

Kota lain yang masuk daftar adalah Kyoto, Yokohama, Kokura, Niigata, Nagasaki, dan Hirosima. Setelah perdebatan yang panjang dan memakan waktu berhari-hari, akhirnya Hirosima dipilih sebagai tempat penjatuhan bom atom pertama dalam sejarah dunia.

Hiroshima dinilai sebagai pilihan terbaik. Tak hanya dipadati oleh penduduk yang kala itu jumlahnya mencapai 318.900 orang, namun Hiroshima juga menjadi pusat berkumpulnya tentara dan pelabuhan embarkasi yang penting. Semuanya terletak di tengah perkotaan sehingga dampak bomnya bisa terjamah secara efektif. Hiroshima juga selama ini dikenal sebagai target yang belum sempat dipukul oleh Sekutu. 

Maka dari itu pada tanggal 6 Agustus 1945, pesawat B-29 Siperfortress bernama Enola Gay yang dikemudikan Letkol Paul W. Tibbets dikirim untuk membawa bom atom peluluh lantak Hiroshima. Little Boy mempunyai panjang 3 meter, diameter 71 cm, berat 4.400 kg, dan di dalamnya terkandung uranium-235 dengan berat 64 kilogram dan berdaya ledak 15 kilotons. 

Selepas diluncurkan, 44 detik kemudian Little Boy meledak dalam radius kehancuran mencapai 1,6 km dan menyebabkan 11 km persegi area kota terbakar hebat. Kurang lebih 20.000 tentara meninggal seketika. Demikian juga 70.000-126.000 rakyat sipil yang kala itu sedang melaksanakan aktivitas harian seperti biasa. Meski sebagian tak langsung meninggal, namun akhirnya menderita efek radiasi yang dampaknya tak kalah mengerikan.

Tiba-tiba ke Nagasaki

Nagasaki memang masuk dalam daftar kota pertama yang akan dibom. Namun, selanjutnya, Nagasaki malah sempat dicoret dalam pemilihan kota kedua karena medannya terlalu berbukit, dianggap tak memaksimalkan efek bom. 

Lalu, setelah itu muncul opsi Yokohama, kota industri yang menampung banyak orang. Namun Yokohama kembali dicoret menjelang akhir Juli. Niigata adalah kota pelabuhan penting, tapi tak masuk kriteria yang diinginkan. Para jenderal kemudian bermufakat, bahwa target selanjutnya adalah Kyoto.

Ibukota lama Jepang itu adalah kota dengan penduduk yang padat yakni mencapai 1 juta lebih. Para penduduknya rata-rata pelarian dari kota lain yang kena imbas perang. Kyoto pun menjadi kota favorit anggota Komite Target. Sebagaimana Hiroshhima, kota ini juga tak sempat diserang, bahkan tak pernah jadi incaran penyerangan AS.

Persoalannya, Kyoto juga jadi pusat kebudayaan Jepang. Kyoto pun menjadi rumah bagi 2.000-an lebih kelenteng Buddha dan tempat suci orang Sinto, termasuk 17 situs warisan dunia. Dalam satu versi, sosok yang paling menentang Kyoto sebagai target selanjutnya adalah Sekretaris Perang AS Henry Stimson. Menurut Wellerstein, Kyoto bagi Stimson bukan target militer dan terlalu berharga untuk diluluhlantakkan. 

Stimson beberapa kali berkunjung ke Kyoto pada medio 1920-an saat dirinya menjadi gubernur di Filipina. Oleh sebab itu, ia mengerti bahwa betapa berharganya Kyoto bagi rakyat Jepang untuk memulihkan diri pasca perang, demikian dalam catatan BBC

Versi kedua, orang yang dianggap berjasa menyelamatkan Kyoto adalah arkeologis dan sejarawan seni asal AS bernama Langdon Warnen. Alasannya serupa: jangan mengebom kota dengan aset kultural. Cerita ini dipercaya banyak orang sebab ada monumen penghargaan untuk Warner di Kyoto dan Kamakura. Meski demikian, cerita ini dianggap Wellerstein sebagai propaganda pasca perang AS — kampanye untuk memperlihatkan bahwa AS punya sisi mulia saat sedang merancang penghancuran. 

Lalu, pilihan akhir pun jatuh ke Kota Kokura. Kota di selatan Jepang ini memiliki salah satu gudang persenjataan terbesar di Jepang, penuh dengan kendaraan militer, persenjataan berat angkatan darat maupun angkatan laut, dan digosipkan juga menyimpan senjata gas beracun. Secara militer, Kokuro pun dianggap target paling ideal. 

Lalu 3 hari setelah pembomam Hiroshima, atau pada 9 Agustus 1945, misi dibawa oleh Mayor Charles W. Sweeney yang terbang dengan pesawat jenis B-29 Superfortress bernama Bockscar (atau Bock’s Car) dan membawa bom atom Fat Man. Sesuai namanya, ukurannya memang lebih besar dibandingkan Little Boy. Panjangnya 3,3 meter, diameternya 1,5 meter, dan beratnya 4.670 kilogram. Isinya bukan uranium, melainkan plutonium seberat 6,4 kilogram dengan daya ledak 21 kilotons.

Namun, tiba-tiba muncul masalah teknis: Bockscar datang terlambat setengah jam dari jadwal, sehingga 70 persen wilayah Kokura terlanjur ditutupi awan dan asap hasil pemboman dari kota Yahata. Kondisi ini tak memungkinkan bagi Sweeney untuk melanjutkan misi. Jika dipaksakan, khawatir bom jatuh jauh dari titik target dan tak mencapai kesuksesan maksimal.

Setelah berputar-putar sebanyak tiga kali di atas Kokuro, bahan bakar pesawat pun mulai menipis, lalu tim akhirnya memilih target baru di dekat Kokuro yang sebelumnya telah dicoret dari daftar: Nagasaki. Pasukan Jepang di Nagasaki melihat pewasat Bockscar, namun mereka tak menyalakan peringatan sebab dikira pesawat itu hanya sedang melakukan pengintaian. 

Keputusan itu barangkali akan mereka sesali seumur hidup. Sebab pada pukul 11.02, Bockscar menjatuhkan Fat Man dan 43 detik kemudian meledak di atas Kota Nagasaki. 

Ledakan maha dahsyat itu menciptakan bola api besar yang suhunya mencapai 3.900 derajat Celcius. Efek ledakan menghasilkan angin yang bertiup hingga 1.000 km/jam, menyapu bangunan sampai rata dengan tanah, dan menyeret nyawa 40.000 penduduk Nagasaki. 40.000 lainnya mati usai ledakan terjadi, tak lain akibat radiasi yang mengakibatkan paparan leukimia serta penyakit mengerikan lainnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password