Sejarah 5 Agustus: Soichiro Honda, Dari Pembalap Menjelma Jadi Raksasa Otomotif Dunia

Kecintaan Honda akan otomotif membawanya menjadi produsen besar otomotif. (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Siapa yang tak kenal dengan Honda, salah satu brand otomotif asal Jepang, yang namanya kini sudah menjadi salah satu raksasa dalam bisnis otomotif di dunia. Brand yang kini merajai bisnis otomotif dunia ini lahir dari tangan seorang lelaki yang hobi balapan, Soichiro Honda.

Ketika Jepang datang dan menjajah Indonesia, Soichiro Honda hanyalah seorang pemuda yang gandrung akan otomotif. Pemuda kelahiran 17 November 1906 ini, menurut Mick Walker dalam British Motorcycles of the 1960s and ’70s, sudah mulai berbisnis suku cadang piston ring di bawah bendera Tokai Seiki.

Sebelum menjadi pebisnis, Honda pernah menjalani kehidupan sebagai pembalap sekaligus teknisi mesin. Perjalanannya di trek balap menyentuh klimaks pada 1936. Pasca mengalami kecelakaan hebat di Tagamawa Speedway, ia diminta berhenti balapan oleh istrinya, Mika. 

“Ketika istri saya menangis dan meminta saya untuk berhenti, saya merasa harus berhenti,” tutur Honda. Setelah kecelakaan yang dialami pada 1936, menurut Peter Rakestrow dalam The Honda Gold Wing(2016), Honda kemudian mendirikan perusahaan sendiri pada November 1937.   

Usaha komponen otomotif berupa piston ring yang Ia jalankan, sebagian besar dipasok untuk manufaktur mobil Toyota sejak 1928. Namun sejak 1948, Honda merilis produk sepeda motor pertama yang dinamai Honda “Dream D”. 

Kehebatan pria asal Iwata dalam membangun kepercayaan masyarakat lewat berbagai cara promosi, dan membuat produk sepeda motornya laris. Menurut Notablebiographies produk Honda menjadi sepeda motor dengan penjualan terbanyak di dunia akhir tahun 1950-an.

Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, ada istilah unik untuk menyebut kendaraan roda dua. Mereka tak menyebutnya sebagai sepeda motor. Lidah orang-orang di daerah-daerah itu lebih suka menyebut sepeda motor sebagai: honda. “Semua sepeda motor di Madura, apa pun mereknya, selalu disebut Honda,” tulis Islahudin dalam Gus Dur Menertawakan NU (2010). 

Setelah sukses di bisnis sepeda motor, Honda tergiur mencicipi industri mobil penumpang. Mobil sport pertama mereka S-360 pun pamerkan di Tokyo Motor Show 1962. Sementara, truk kecil pertama mereka, yang diberi nama T-360, mulai diproduksi pada 1963 hingga 1967. 

Fase emas dalam sejarah Honda Motor Co., tercapai pada 1972. Produk mobil Honda Civic diterima pasar Amerika Serikat dan kesuksesannya menjalar ke seluruh dunia. Honda Civic dinilai punya estetika desain menarik plus efisiensi mesin yang maksimal. Sejak saat itu Honda Motor Co., disejajarkan dengan Toyota dan Nissan sebagai raksasa otomotif dari Jepang.

Baca Juga:   Sejarah 21 September: Liam Gallagher, Rockstar ‘Bermulut Besar’ yang Menolak Pudar

Sampainya Honda pada fase emas, bukan berarti tak punya masalah. Usahanya nyaris saja bubar pada 1953 karena cash-flow perusahaan sempat tersendat.

Belakangan, Honda tak lagi identik sebagai produsen truk. Mobil Honda menjadi mobil-mobil perkotaan. Baik sepeda motor dan mobil buatan Honda berhasil juga mencapai Amerika. 

Menurut Hersri Setiawan, mantan tahanan politik (tapol) 1965 yang dibuang ke Pulau Buru, dalam bukunya Kamus Gestok (2003), “Sekitar tahun 1965, ketika G30S dan terjadi penangkapan terjadi, kendaraan bermotor roda dua merek Honda buatan Jepang, sedang membanjiri pasaran motor Indonesia.” 

Di Pulau Buru, mengutip Hersri, naik Honda adalah,“ungkapan pelembut untuk penyakit malaria. Sebutan itu diberikan tapol Buru dengan melihat gejala si penderita, suhu badan panas tapi merasa sangat dingin dan tubuh menggigil keras berguncang-guncang seperti orang di atas (sepeda motor) Honda.” 

Nama yang menjadikan sepeda motor Honda menjadi raja jalanan di Indonesia adalah Astra International. Tak hanya Astra yang meraup rezeki dari karya cipta Honda. Sejak 1968, menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, Hadi Budiman alias Ang Kok Ha mulai menjual Honda pada 1968.

Kebetulan, seorang kawannya yang jadi importir, tak mampu bayar utang hingga izin impornya dicabut. Hak impor dan status distributor mobil Honda pun didapatkan Hadi pada 24 Maret 1970. Hadi melakukannya di bawah bendera PT Istana Motor Raya (Imora).

Ketika Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) meledak di Jakarta, sepeda motor Honda dan juga mobilnya—bersama merek-merek lain—jadi incaran amuk massa untuk dibakari. Malari memang, salah satunya, menyembulkan sentimen anti (modal asing) Jepang. Sehingga Honda pun kena imbasnya.

Namun hingga hari ini, Honda Corporation menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia. Sebelum Soichiro Honda meninggal pada 5 Agustus 1991, tepat hari ini 29 tahun yang lalu. Ia sudah menjadi legenda dunia. Bahkan Majalah People pada tahun 1990 pun memasukkannya ke dalam daftar “25 Orang Paling menarik” dan menyebutnya “Hendry Ford nya Jepang”.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password