Sejarah 1 Agustus: Ketika MTV Menjadi Tempat Nongkrong Anak Muda

Bumper ikonik MTV pada awal kemunculannya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Bagi kita yang tumbuh dan besar di era 1990-an tentu tidak asing dengan MTV, sebuah saluran televisi anak muda yang terkenal dengan tagline-nya “MTV Gue Banget”. Sepertinya bagi publik terutama anak muda, MTV merupakan ikon budaya yang sangat populer. Setidaknya kepopuleran MTV didasari satu premis, bahwa MTV adalah trendsetter bagi musik dan gaya hidup yang sedang menjadi trend.

Pada mulanya MTV hanyalah sebuah stasiun televisi musik di Amerika, yang dimiliki oleh Viacom Music and Entertainment Group, sebuah unit dari divisi Viacom Media Networks dari Viacom. Saluran itu sendiri berkantor pusat di New York, dan melakukan siaran perdananya pada tanggal 1 Agustus 1981, tepat hari ini 39 tahun yang lalu.

Pada saat itu MTV menjadi stasiun televisi yang fokus menyiarkan video musik selama 24 jam. Pada masa itu, format MTV merupakan sebuah kebaruan karena konsep video klip belum jamak di kalangan penyanyi dan belum ada acara yang dikemas seperti bentuk visual dari siaran radio. Acara MTV ditayangkan pada saluran TV kabel.

Namun kemudian dengan cepat berkembang menjadi bentuk baru dari kebudayaan media yang oleh Douglass Kellner dalam bukunya Media Culture : Identity and Politics between Modern and Posmodern (1995), disebut sebagai global popular.

MTV pun telah melahirkan saluran afiliasinya di berbagai negara, salah satunya MTV Indonesia. Beberapa di antaranya sudah mandiri. MTV juga memiliki stasiun televisi kabel VH1. Pengaruh MTV pada penonton, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan sensor dan aktivisme sosial, telah menjadi subjek perdebatan selama bertahun-tahun.

Pada dekade 1990-an sampai awal 2000-an adalah masa keemasan MTV Indonesia. Masa keemasan MTV pun turut memunculkan keinginan sejumlah orang untuk jadi Video Jockey (VJ). Program televisi kerap berganti, tetapi posisi VJ selalu dibutuhkan. Wajah seorang VJ bisa tampil dalam sejumlah acara. Selain membawakan program pelengkap seperti Getar Cinta, mereka pun tampil dalam acara musik yang jadi karakter MTV seperti MTV Ampuh (Ajang Musik Pribumi Dua Puluh), MTV 100 % Indonesia, dan MTV Most Wanted.

Berjumpa dan berbincang dengan sejumlah penyanyi internasional adalah momen menggiurkan bagi para VJ. Menjadi sosok populer di dunia hiburan membuat orang-orang ingin jadi pembawa acara di MTV. Sarah Sechan, Daniel Mananta, Nirina Zubir, Nadya Hutagalung, Jamie Aditya ialah beberapa nama yang jadi besar lantaran memulai karier mereka sebagai VJ MTV.

Dalam buku Shanty: Bongkar Rahasia, Bagi Cerita (2011) bab “University of M TV”, selebritas ini mengungkap, “Di zaman gue itu, MTV is all about the VJ’s. Alasan paling utama orang nongkrong di MTV itu bukan apa, tepatnya siapaPara VJ inilah yang jadi raja dan ratu di MTV.”

Pada akhir 1990-an, Shanty ingin jadi ratu MTV. Ia mengidolakan Sarah Sechan dan bermimpi untuk bisa ada di posisi sang idola. Selebritas yang kelak dikenal sebagai penyanyi ini menjalani tiga kali audisi sampai lolos jadi VJ MTV.

Lewat buku karangan Shanty dan Ve Handojo itu, Cindy Pareira, produser MTV, berkata bahwa pada masa awal MTV Indonesia, ia sangat selektif dalam memilih VJ. “VJ adalah citra yang mewakili generasi anak muda MTV. Setelah masuk MTV kelakuan mereka pun kami pantau. Jadi jangan sampai ada kelakuan negatif yang ditiru oleh anak-anak muda,” katanya. 

Perkataan Cindy kian terbukti saat MTV Indonesia meluncurkan program tahunan VJ Hunt, kompetisi pencarian Video Jockey. Tayangan tersebut menyorot program karantina para VJ mulai dari pelajaran membawa acara sampai pelatihan fisik.

Baca Juga:   Sejarah 6 Agustus: Kala Little Boy Hancurkan Kota Hiroshima dan Membuat Jepang Menyerah

Pada penayangan perdana tanggal 1 Agustus 1981 itu pula istilah VJ muncul pertama kali di depan publik. Ide VJ muncul dari Bob Pittman, konseptor MTV. Dalam I Want My M TV: The Unsencored Story of The Music Video Revolution (2011) pada bab “What’s a VJ?”, Craig Marks dan Rob Tannembaum mengisahkan bahwa Pittman ingin acara musik dibawakan beberapa pria dan wanita dengan karakter berbeda. Ia ingin ada sosok yang tampilannya serupa sebagai gadis manis dan baik-baik, gadis tomboi berdandan rock & roll, pria yang terlihat bukan berasal dari Amerika, dan sosok kulit hitam.

Audisi pun dibuka satu bulan sebelum MTV diresmikan. Nina Blackwood ialah wanita pertama yang direkrut jadi VJ. Pittman tidak mencari sosok presenter profesional. Ia menyeleksi orang-orang dengan beragam karakter mulai dari yang nyeleneh sampai yang kaku. Blackwood mengirim foto yang telah ia coret-coret pada bagian rambut. “Saya ingin tampilan saya di foto terkesan sebagai anak punk,” katanya dalam VJ: The Unplugged Adventures of MTV’s First Wave (2013). 

Selain Blackwood, ada Alan Hunter, Mark Goodman, Martha Quinn, dan John Jackson (JJ). Di antara mereka hanya JJ yang punya pengalaman di ranah penyiaran. Ia punya pembawaan supel dan punya kenalan selebritas. VJ lain bahkan sulit memperkenalkan diri dan tak punya koneksi ke beberapa penyanyi.

Hal yang kemudian terjadi dengan komposisi VJ seperti ini ialah kesalahan penyebutan nama penyanyi dan judul lagu. Pittman mengungkap bahwa episode pertama MTV kacau balau. Beberapa video klip yang ditayangkan pada hari itu ialah “Video Killed the Radio Star” (The Buggles), “She Won’t Dance with Me” (Rod Stewart), “You Better You Bet” (The Who), “Take It on the Run” (REO Speedwagon), dan “Rockin’ the Paradise” (Styx).

Kesalahan pada hari pertama tak serta merta membuat Pittman mengubah formasi VJ. Formasi ini tetap berjalan. Ketidaksempurnaan itu justru dibiarkan tetap terjadi. Vanity Fair menyebut bahwa setahun setelah televisi ini mengudara popularitasnya melonjak cepat.

Para VJ pun mulai dikenal. Tak hanya oleh kalangan menengah ke atas tetapi juga para tunawisma. Penyanyi Elton John bahkan pernah menawarkan diri untuk menjadi VJ tamu. Ini membuat tim MTV merasa bahwa mereka telah melakukan hal yang benar.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password