Sejarah 30 Juli: Dipa Nusantara Aidit, Antara Islam dan Komunisme

Dok.Istimewa

Bosscha.id – 30 Juli 1923, atau tepat hari ini 97 tahun yang lalu, menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Abdullah Aidit dan istrinya, Nyi Ayu Mailan. Pasalnya, anak laki-laki pertama mereka lahir. Betapa senang dan bangganya Abdullah.

Achmad Aidit, begitu Abdullah memberikan nama untuk sang putra sulungnya itu. Nama Aidit kelak juga akan disematkan kepada anak-anaknya yang lain. Keluarga Abdullah amat terpandang di Belitung kendati termasuk pendatang. Leluhurnya berasal dari Agam, Sumatra Barat. Abdullah dikenal sebagai tokoh agama dan panutan masyarakat, juga mantri kehutanan. Ia pendiri organisasi Nurul Islam yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Ayah Abdullah atau kakek Achmad, bernama Haji Ismail, adalah pengusaha ikan yang sukses sekaligus sosok yang dihormati lantaran sudah menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sementara dari garis ibu, keluarga Aidit tidak kalah pamornya. Nyi Ayu Mailan, ibunda Achmad, berasal dari keluarga bangsawan. Ayah Mailan yang juga kakek Achmad, Ki Agus Haji Abdul Rahman, adalah seorang tuan tanah, kaya-raya, sudah haji pula.

Dilihat latar belakangnya itu, tidak mengherankan jika Achmad dan adik-adiknya dididik secara islami sejak dini. Saban hari sepulang sekolah, anak-anak ini langsung belajar mengaji, dibimbing Abdurrachim, paman mereka. 

Dalam buku Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan(2003: 47), adik tiri Achmad, Sobron Aidit menceritakan kisah Achmad “[…] Bang Amat (Achmad) tamat mengaji, khatam Alquran. Kami semua khatam Alquran. Dan kalau perayaan khatam ini, kami bagaikan raja, dihormati dan dikendurikan”.

Di kalangan keluarga dan teman-teman dekatnya, Achmad memang akrab dengan panggilan Amat. Orang-orang sekampung mengenalnya sebagai sosok bocah yang alim, rajin ke masjid, juga pandai mengaji, Achmad dikenal pula sebagai tukang azan atau muazin.

Hingga akhirnya beranjak remaja, Achmad merantau ke Batavia dan mulai turut dalam arus pergerakan nasional. Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualan  (2010) menyebut bahwa Achmad pernah menjadi anak emas Mohammad Hatta.

Seiring berjalannya waktu, pergaulan Achmad semakin luas. Memasuki era pendudukan Jepang yang berlangsung sejak 1942, ia berkenalan dan terlibat intensif dengan tokoh-tokoh nasional seperti Sukarno, Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni, dan lain-lainnya.

Baca Juga:   Sejarah 4 Agustus: Louis Armstrong Membawa Musik Jazz Menjadi Paripurna

Menjelang masa-masa itu, Achmad Aidit memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara (D.N.) Aidit. Sang ayah, Abdullah semula menentang kehendak anak sulungnya yang ingin mengganti nama Achmad menjadi Dipa Nusantara. Bukan tentang keluarga atau agama, Abdullah hanya tidak ingin ribet dengan urusan administrasi jika Achmad berganti nama.

Kehidupan kolonial memang menggembleng Achmad menjadi sosok yang lebih nasionalis. Atas alasan itulah ia ingin mengganti nama depannya menjadi nama yang menurutnya lebih “Indonesia”. 

Perubahan nama dari Achmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit diresmikan pada akhir era Belanda di Indonesia sebelum kedatangan Jepang. Perubahan nama itu, pada akhirnya, menegaskan juga perubahan pandangan hidup Aidit tentang dunia, terutama tentang Indonesia.

Setelah berganti nama, DN. Aidit kian mantap melakoni perjuangan politiknya secara lebih revolusioner demi membela kaum buruh-tani yang tertindas, dan nantinya dikenal sebagai salah satu pentolan PKI.

Tetapi, pengalaman masa kecil yang kental akan religiusitas itu tidak sepenuhnya hilang dari Aidit. Sebagai orang yang masa kecilnya diisi oleh kentalnya atmosfir keagamaan, hal ini membuatnya cukup percaya diri untuk beberapa kali berbicara tentang Islam, khususnya dalam usaha mengikis tuduhan anti-agama yang disematkan kepada PKI.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password