Sejarah 29 Juli: Hari Harimau Sedunia, Sebuah Upaya Menambah Populasi Si Raja Rimba

Shutterstock

Bosscha.id – Harimau sering dianggap sebagai ikon Asia. World Wide Fund for Nature (WWF) menyebut hewan predator ini merupakan salah satu warisan budaya dan sejarah. Lalu, apa yang terjadi jika harimau tidak lagi ada di dunia? Menurut WWF, setiap hewan yang ada di dunia merujuk pada suatu keseimbangan siklus rantai makanan dan harimau adalah salah satu binatang yang berada di puncaknya.

Sebagai predator utama, harimau menjaga populasi spesies mangsa, yaitu menjaga keseimbangan antara herbivora dan vegetasi di tempat di mana mereka berburu. Maka dari itu, ketidakseimbangan ekosistem akan terjadi apabila harimau punah.

Padahal, ekosistem yang tidak seimbang akan membawa dampak buruk bagi dunia, termasuk kehidupan manusia bahkan dalam lingkup global, seperti ketimpangan populasi dan kelangkaan pangan. Harimau tidak hanya melindungi hutan dengan menjaga integritas ekologis, tetapi juga membawa tingkat perlindungan dan investasi tertinggi ke suatu wilayah. Harimau adalah “spesies payung” yang berarti eksistensi mereka juga ikut melestarikan banyak spesies lain di wilayah yang sama.

Dan kini, kepunahan membayangi hampir semua subspesies harimau. Perusakan hutan dan perdagangan ilegal mengancam keberlangsungan hidup mereka. Harimau Xiamen atau Amoy (Panthera tigris amoyensis) di China dan harimau Manchuria (Panthera tigris altaica), juga dikenal sebagai Harimau Amur/Siberia, di Rusia berisiko punah.

Demikian pula Harimau Bengal (Panthera tigris tigris) di India dan Bangladesh. Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Indonesia tak luput dari ancaman kepunahan. Populasi harimau Indocina (Panthera tigris corbetti) menurun drastis di wilayah Vietnam, Laos, Kamboja, Burma, Thailand, dan sebagian wilayah China.

Populasi harimau setiap tahunnya terus menyusut. Menyikapi status kritis populasi harimau, sejumlah negara termasuk Indonesia berkomitmen meningkatkan populasinya menjadi dua kali lipat hingga tahun 2022 atau Tahun Harimau berikutnya sesuai kalender China.

Komitmen tersebut, diputuskan dalam International Tiger Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Harimau Internasional pertama pada 2010 di St. Petersburg, Rusia, yang Indonesia pun turut serta dalam momen penting ini.

International Tiger Forum di St Petersburg, Rusia, 21-24 November 2010, mengajak negara peserta mengambil langkah menghentikan perdagangan ilegal, serta melibatkan semua pihak untuk mendukung konservasi habitat harimau. Dari KTT itu pun kemudian dicetuskan peringatan International Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia, yang diperingati pada tanggal 29 Juli tiap tahunnya.

International Tiger Summit dirasa perlu dihelat mengingat jumlah harimau semakin berkurang. Jika dihitung dari satu abad yang lalu, dilansir situs resmi WWF, masih terdapat sekitar 100 ribu ekor harimau yang hidup di alam liar. Sayangnya, hingga 2010, populasi si kucing besar menurun drastis.

Baca Juga:   Sejarah 7 Agustus: Penerbangan Rahasia Sukarno ke Vietnam, untuk Apa?

Dikutip dari National Geoghrapic, International Tiger Summit pada 2010 digelar dengan upaya menambah populasi harimau liar pada 2022. KTT ini melibatkan para pemimpin dunia dari 13 negara yang punya habitat harimau terbanyak, yakni Rusia, India, Nepal, Bhutan, Cina, Bangladesh, Vietnam, Myanmar, Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Laos.

Populasi harimau yang kian menurun menyebabkan tercetusnya gerakan ini. Selain karena seleksi alam, tergerusnya kehidupan kucing besar juga disebabkan maraknya perburuan liar oleh manusia, juga semakin minimnya habitat harimau lantaran ulah manusia yang membuat si raja rimba kelaparan. 

Digelarnya KTT Harimau Internasional pertama pada 2010 yang dibuka Presiden Rusia Vladiir Putin mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk WWF, Wildlife Conservation Society (WCS), Bank Dunia, juga sejumlah negara lain.

Robert Zoellick dari Bank Dunia pun hadir, tak hanya itu, publik figur terkenal macam Leonardo DiCaprio dan Naomi Campbell. Mereka siap mendukung kampanye pelestarian harimau liar agar tak punah. Para pendonor dalam KTT tersebut menjanjikan dana sebesar 329 juta dolar AS selama lima tahun ke depan sebagai langkah pertama menuju kampanye penggandaan populasi harimau di dunia.

WWF pun kemudian mencanangkan program TX2 dengan mengusung misi melipatgandakan populasi harimau liar dengan target lebih dari 6.600 ekor pada 2022 mendatang.

Jika bicara soal harimau, Asia adalah tapak awal kehidupan harimau (Panthera tigris). Fosil harimau tertua yang ditemukan di Jawa (Sangiran dan Ngandong), Sumatra, dan China menunjukkan keberadaannya sejak awal hingga pertengahan era Pleistocene di daratan Asia. Kini waktu akan menyingkapkan apakah upaya perlindungan harimau efektif menjaga sosoknya di Asia dan dunia, atau Tahun Harimau 2022 akan berjalan tanpa jejaknya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password