Sejarah 28 Juli: Asal Mula Diperingatinya Hari Hepatitis Sedunia

Ilustrasi: Shutterstock

Bosscha.id – Penyakit Hepatitis masih menjadi momok menakutkan di tengah masyarakat. Pasalnya dalam satu dekade terakhir saja sebanyak 500 juta orang di dunia terinfeksi hepatitis B dan C, dan lebih dari 600 ribu orang meninggal akibat komplikasi dari hepatitis B dan C ini.

Tetapi orang-orang tampaknya lebih takut tertular HIV/AIDS. Padahal hepatitis menjadi penyakit dengan angka kematian cukup tinggi. Hepatitis B dan C dapat menyebabkan jaringan parut hati lanjut dan komplikasi lainnya, termasuk kanker hati atau gagal hati.

Itulah sebabnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menetapkan Hari Hepatitis Sedunia pada tanggal 28 Juli tiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus menghilangkan virus hepatitis yang ditargetkan pada tahun 2030 mendatang.

Pada awalnya hari Hepatitis digagas oleh sejumlah pasien di Eropa pada 1 Oktober 2004. Lalu, banyak kelompok pasien hepatitis di seluruh dunia memperingati Hepapatis Day pada waktu yang berbeda.

Oleh karena itu, terhitung sejak tahun 2008, Aliansi Hepatitis Dunia mendeklarasikan 19 Mei sebagai Hari Hepatitis Dunia. Hari Hepatitis Dunia yang tadinya disepakati pada 19 Mei kemudian diubah kembali menjadi 28 Juli.

Tanggal tersebut diambil dari tanggal kelahiran Dr. Baruch S. Blumberg yang menemukan virus hepatitis B dan mengembangkan vaksin hepatitis B untuk pertama kalinya. Atas penemuan tersebut, pada tahun 1976, Dr. Blumberg dianugerahi hadiah Nobel.

Penetapan tanggal tersebut pun merupakan usulan dari delegasi Republik Indonesia dalam Sidang Badan Eksekutif WHO ke-126 pada tanggal 23 Januari 2010.

Baca Juga:   Sejarah 4 Agustus: Louis Armstrong Membawa Musik Jazz Menjadi Paripurna

Sidang Badan Eksekutif WHO juga akhirnya menyetujui secara konsensus rancangan resolusi atau keputusan usulan Delegasi RI dan Delegasi Brazil mengenai viral (virus) hepatitis yang telah diperdebatkan selama 2 hari.

Dewan Eksekutif menilai penting resolusi tersebut untuk mendorong peningkatan kerjasama global dalam pencegahan dan penanganan penyakit hepatitis.

Menteri Kesehatan RI, Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam pernyataan di hadapan Dewan Eksekutif WHO pada 21 Januari 2010 silam, menjelaskan pentingnya resolusi untuk membantu negara-negara berkembang meningkatkan kemampuan pencegahan dan penanganan penyakit hepatitis.

Resolusi akan mendorong pentingnya kerjasama dan bantuan teknik untuk survailans, serta akses dan harga vaksin hepatitis B yang terjangkau, dan akses universal terhadap pengobatan, khususnya di negara berkembang.

Dewan Eksekutif WHO sendiri terdiri dari 34 negara, termasuk Indonesia, yang dipilih untuk membahas dan memberikan arah bagi pengambilan keputusan dan kebijakan mengenai penanganan kesehatan global dan manajemen WHO.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password