Sejarah 27 Juli: Peristiwa Kudatuli, Pagi Kelam di Kantor DPP PDI

Bosscha.id – Pagi itu, 27 Juli 1996, tepat hari ini 24 tahun lalu, terjadi sebuah peristiwa yang kelak dikenal dengan nama Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) atau juga Peristiwa Sabtu Kelabu. Yang dimana itu adalah sebuah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri.

Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, khususnya di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar.

Sementara di dalam gedung, kelompok pendukung Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI hasil Munas di Kemang, Jakarta Selatan (22 Desember 1993), bertahan sembari melemparkan benda-benda seadanya. Kedua kubu ini sama-sama mengklaim sebagai pengurus yang sah dan berhak atas kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI.

Aksi saling lempar batu antara dua pihak yang berseteru itu berlangsung sekitar 1,5 jam. Menurut laporan Kompas (29 Juli 1996), pendukung Soerjadi mulai melemparkan batu ke arah kantor DPP pada pukul 6.35. Sementara aparat TNI-Polri baru bisa menguasai kantor partai itu sekitar pukul 8.00. Setelahnya, aparat memblokade Jalan Diponegoro dan mencegati orang-orang yang ingin mendekat.

Untuk sejenak, aparat mampu mengendalikan situasi. Pukul 08.30, belasan pendukung Megawati dibawa ke markas Kepolisian Daerah DKI Jakarta, sementara sembilan orang yang terluka dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Meski begitu, sejumlah kelompok LSM, mahasiswa, dan simpatisan pendukung Megawati terus berdatangan dan berkumpul di luar lingkaran penjagaan aparat TNI-Polri. Mereka berorasi dan menyanyikan lagu-lagu protes.

Pada siang hari, kelompok itu bertambah menjadi sekitar 10 ribu orang. Orang-orang kampung di sekitar rel kereta api Cikini dan anak-anak sekolah menengah atas yang baru saja pulang sekolah turut berhimpun.

Lalu, sekitar pukul 2 siang, lempar-melempar batu kembali terjadi, bahkan lebih berani. Aparat TNI-Polri membalasnya dengan melempar gas air mata, menyemprotkan water canon, dan memukul mereka dengan pentungan.

Setelah diserbu aparat, massa tercerai-berai ke segala arah. Kerusuhan di kantor DPP PDI itu memicu kerusuhan yang lebih luas di Jakarta. Kerusuhan itu meluas ke Menteng di sepanjang Jalan Surabaya dan ke arah Salemba di sepanjang Jalan Diponegoro dan Proklamasi. Massa bergerak ke utara menuju Senen, dan ke selatan menuju Kampung Melayu.

Baca Juga:   Jelang Pilkada Kabupaten Bandung, DS-Sahrul Sowan ke Aa Umbara, Apa Tujuannya?

Dua jam setelahnya, massa mulai membakar tiga bus kota dan beberapa bus tingkat di Jalan Salemba. Tak hanya itu, mereka juga membakar beberapa gedung yang ada di Jalan Salemba. Merespons keadaan ini, aparat mendatangkan lima panser, tiga kendaraan militer khusus pemadam kebakaran, 17 truk, dan sejumlah kendaraan militer lain pada pukul 16.35 WIB.

Setelah itu, massa membubarkan diri dan akhirnya pada pukul 19.00 WIB, api dapat dipadamkan. Setelah kejadian, sebanyak 171 orang ditangkap karena melakukan perusakan dan pembakaran. Dari jumlah tersebut, 146 orang merupakan massa pendukung Megawati dan oknum lain, sementara 25 orang merupakan massa pro-Soerjadi.

Kerusuhan hari itu mengakibatkan 22 bangunan rusak, seperti Gedung Persit Chandra Kartika milik Angkatan Darat lalu Bank Kesawan dan Bank Exim. Massa juga membakar bangunan lain seperti Bank Swarsarindo Internasional, Show Room Toyota, Bank Mayapada, dan gedung Departeman Pertanian. Selain itu, kerusuhan juga mengakibatkan terbakarnya 91 kendaraan, termasuk lima bus kota dan 30 kendaraan yang ada di ruang pameran, serta dua 

Pemerintah saat itu menuduh aktivis PRD sebagai penggerak kerusuhan. Pemerintah Orde Baru kemudian memburu dan menjebloskan para aktivis PRD ke penjara. Budiman Sudjatmiko mendapat hukuman terberat, yakni 13 tahun penjara.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password