Sejarah 17 Juli: Mohammad Natsir, Sosok Muslim Modernis Indonesia

Dimata M.Natsir Islam itu harus selaras dengan pola hidup modern (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh intelektual, pejuang, ulama, dan juga negarawan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dalam dunia politik, namanya juga merupakan tokoh terpandang dan dipercaya untuk memimpin Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 1945 hingga titik pembubarannya pada 1960.

Mohammad Natsir lahir di tengah gelombang besar pembaharuan Islam yang tengah melanda dunia Islam pada awal abad ke-20. Beliau berasal dari Sumatra Barat, yang dimana di sana adalah tempat persemaian gerakan pembaharuan Islam  dimulai, yakni sejak akhir abad ke-19. Gerakan pemurnian agama Islam dari bentuk-bentuk penyimpangan disertai pembaharuan pendidikan sedang berlangsung. Pergolakan sosial dan pertentangan kaum tua dan kaum muda menjadi sesuatu yang hal yang biasa ketika itu.

Para ulama muda yang baru pulang dari Timur Tengah mencoba membangkitkan kembali Islam. Sementara kaum yang sering dianggap mewakili kaum tua tetap berusaha mempertahankan yang telah menjadi kebiasaan di Minangkabau. DR. Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), DR. H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan Syekh Daud Rasyidi ialah ulama-ulama muda yang tengah menggencarkan pembaharuan di Sumatera Barat.

Di tengah masyarakat yang sedang mengalami berbagai macam ketegangan sosial, Mohammad Natsir lahir. Ia lahir pada 17 Juli 1908, tepat hari ini 112 thaun yang lalu, di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebagai anak Minang, ia tentu mengaji. Tetapi, selain mengaji di surau, Natsir kecil pun mengikuti pendidikan resmi. Ia tercatat sebagai murid Sekolah Rakyat Maninjau dan melanjutkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Adabiyah di Padang. Sempat pula pindah ke HIS Solok.

Perpaduan antara mengaji dan bersekolah telah menjadi sesuatu yang umum kala itu. Para pembaharu menekankan pentingnya umat Islam menguasai ilmu; bukan hanya ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah resmi. Pada tahun 1923, ia melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Selepas lulus dari MULO, pada usia 17 tahun beliau merantau ke Bandung untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) hingga tamat pada tahun 1930. Di sinilah Natsir mulai mengasah aktivismenya dan bergabung dengan para pembaharu lainnya.

Ahmad Hassan ialah salah satu tokoh penting dalam kehidupan Natsir remaja. Guru Persatuan Islam (Persis) itulah yang mengarahkan dan mengasah paham keagamaan Natsir. Kita mengenal A. Hassan sebagai seorang tokoh modernis yang gigih melakukan pemurnian ajaran Islam. Natsir, secara formal, menempuh pendidikan Belanda, namun ia juga mengaji pada tokoh pembaharu tersebut.

Selain bersama A. Hassan, Natsir pun terbiasa membahas beragam persoalan bersama seorang tokoh kharismatik dalam sejarah Indonesia, Haji Agus Salim. Perbincangan mengenai hubungan Islam dan negara telah banyak dibahas pada masa itu. Natsir tentu mewarisi pandangan-pandangan para modernis yang diperkenalkan oleh A. Hassan dan Haji Agus Salim.

Pengalaman Natsir semakin kaya setelah persentuhannya dengan Sukarno yang ketika itu sama-sama tinggal di Bandung. Natsir sempat berpolemik dengan Sukarno mengenai persoalan poligami. Persentuhan ini dapat dipandang sebagai awal perdebatan yang kelak menjadi lebih rumit antara kaum nasionalis dan kaum Islam.

Setelah lulus dari AMS putra Minang ini memang tak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan tak ada tawaran atau tak mampu, tetapi ia lebih memilih untuk mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan.

Baca Juga:   Sejarah 4 Agustus: Louis Armstrong Membawa Musik Jazz Menjadi Paripurna

Ia lebih memilih untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan partikelir: Pendidikan Islam atau disingkat Pendis. Pendis ialah sebuah ikhtiar untuk menggabungkan penyelenggaraan pendidikan umum dan pendidikan agama dalam satu lembaga. Setiap peserta didik mendapat dua pendidikan itu dalam satu sekolah. Ini ialah semacam uji coba awal dalam pembangunan pendidikan Islam di Indonesia.

Pandangan Natsir mengenai Islam dan kemodernan pun terus berkembang menemani kiprahnya sejak menjabat menteri penerangan hingga menjadi perdana menteri. Juga ikhtiar juangnya selepas era Sukarno amat kental dengan pandangan semacam ini.

Di matanya Islam dipandang sebagai sesuatu yang harus selaras dengan pola hidup modern; Islam dapat hadir dalam segala unsur kehidupan modern. Islam ditempatkan sebagai sesuatu yang tak ketinggalan zaman.

Dalam waktu bersamaan ia pun berusaha untuk menjadikan Islam sebagai pengobat segala penyakit yang ditimbulkan oleh modernitas, seperti keterasingan diri dan masalah-masalah moralitas. Natsir menempatkan Islam sebagai sesuatu yang dapat bersesuaian dengan modernisme dan sekaligus dapat menjadi jalan keluar dari persoalan-persoalan yang diakibatkan oleh modernisme itu sendiri.

Dengan kata lain hal-hal yang dianggap bertentangan dengan Islam dan sekaligus modernitas ia tentang habis-habisan. Natsir dikenal amat gencar menyanggah takhayul, khurafat dan bid’ah. Baginya hal-hal semacam itu dapat melunturkan daya gugah Islam dan menggiring umat pada lelangutan yang melenakan.

Di dalam bukunya, Islam dan Akal Merdeka, pandangan Natsir tersebut amat kentalnya dipaparkan. Ia amat menghormati akal (rasio) tetapi menempatkannya sebagai penyelesai persoalan duniawi. Sementara hal-hal ibadah musti ditimbang berdasarkan keyakinan.

Dan akal merdeka yang dibimbing oleh agama tentu akan menentang hal-hal takhayul, khurafat dan bid’ah itu. Di buku ini ternyata jelas Natsir hendak mengintegrasikan akal dengan agama (Islam). Keduanya tidak perlu dipertentangkan melainkan harus diharmoniskan dengan menempatkannya pada kedudukan masing-masing.

Natsir tidak sependapat dengan persepsi orang bahwa ajaran agama, khususnya Islam, kerap melanggar nalar. Stigma itu muncul lantaran banyak di antara kaum muslimin kala itu yang beragama dengan fanatisme buta, menelan bulat-bulat ajaran kitab suci tanpa menggunakan anugerah paling berharga yang diberikan Tuhan, yaitu akal.

Bahkan, Natsir sangat yakin Islam justru mendorong manusia untuk berpikir kritis demi menemukan kebenaran yang sejati. Wajib baginya memakai akal sehat sebelum mengamalkan ajaran kitab suci agar mengerti maksud dan tujuannya. Alquran, kata Natsir, diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk diamalkan bagi mereka yang mau berpikir.

Islam, lanjut Natsir, menyediakan tempat mulia untuk akal. Islam memberi jalan bagi umatnya untuk menggunakan nalarnya demi terciptanya peradaban yang luhur. Sebaliknya, menurut Natsir, Tuhan justru tidak menyukai orang-orang yang malas berpikir dan berlogika kritis.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password